Soal Potong Kuping, Ruhut Sitompul: yang Nagih Saja Enggak Tahu Diri

Selasa, 15 September 2020 - 07:29:53 - Dibaca: 559 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Politikus PDI Perjuangan Ruhut Sitompul mengaku sedih sering dibilang sebagai politisi kutu loncat gara-gara berpindah-pindah partai politik.

Sebelum merasa nyaman di PDI Perjuangan beberapa tahun belakangan, Ruhut merupakan sosok yang dikenal sebagai orang Golkar. Kemudian dia pindah ke Partai Demokrat yang didirikan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dalam program NGOMPOL (Ngomongin Politik) yang tayang di channel YouTube JPNN.com, Minggu (13/9), Ruhut pun mengakui dirinya lama berkecimpung di Partai Golkar yang berkuasa di era Orde Baru tersebut.
“Saya lama di Golkar. Kenapa saya tinggalkan Golkar? Ini kan semua ada cerita. Saya kadang-kadang suka sedih kalau orang bilang, ah Ruhut kutu loncat,” ucap Ruhut.

“Kutu loncat itu, dia pindah ke partai lain meninggalkan kapal yang mau karam, bahkan kapal karam. Tapi Ruhut Poltak Sitompul meninggalkan Golkar, Golkar menjadi partai pemenang,” sambung pria yang juga dikenal sebagai pengacara ini.

Tak lama setelah meninggalkan Golkar, Ruhut kemudian berlabuh ke Partai Demokrat. Ketika itu, SBY sudah jadi presiden. Pesinetron ini pun sadar dia tidak ikut menjadi tim sukses SBY di Pilpres 2004.

“Pak SBY periode pertama saya bukan tim suskesnya. Saya masih mendukung Ibu Megawati Soekarnoputri diajak Pak Akbar Tanjung. Nah, waktu saya di dalam (Demokrat-red), saya ingat mereka bilang, ‘Abang ingat Bang, periode pertama Abang gak ikut sama kita (kubu pendukung SBY saat pilpres 2004, red)’. Oh iya,” demikian cerita Ruhut.

Namun dia menjawab bahwa ketika periode partama SBY presiden, Partai Demokrat masih berada di urutan kelima partai politik di Indonesia, dan hanya memiliki 50-an orang wakil di DPR RI.



Dia pun memberikan penekanan, meski bergabung dengan Demokrat di tengah jalan, Ruhut bertekad untuk menjadikan partai berlambang bintang mercy itu sebagai partai besar.

“Nanti lihatlah di perjalanan, akan aku bikin partai ini jadi partai nomor satu. Dan aku juga enggak hebat, itu semua karena Tuhan,” sambung Ruhut.

Hal itu kejadian. Di Pemilu 2009 di mana Ruhut ikut menjadi calon legislatif, Partai Demokrat menjadi peraih kursi terbanyak di parlemen yaitu 150 anggota DPR. Dari partai urut kelima menjadi nomor 1.

“Sampai sekarang belum ada partai yang bisa mendapatkan itu,” tegas Ruhut.

Saat di Demokrat, Ruhut juga pernah mengatakan partai itu menjadi pertai terakhir baginya. Nyatanya sekarang dia sudah pindah ke PDI Perjuangan. Apakah partai berlambang banteng moncong putih juga akan menjadi partai terakhirnya?

“Nah ini bagus sekali, karena itu beberapa kali ditanya orang. Itu sudah titik belum aku ngomong? Belum. Masih koma. Maksud abang apa? Terakhir Partai Demokrat, PDI Perjuangan terakhir kali. Tambah saja kalinya, hahaha,” jawab Ruhut berdalih.

Dalam program NGOMPOL itu, Ruhut juga menjawab soal berbagai pernyataan kontroversinya yang masih sering ditagih oleh netizen di media sosial. Salah satunya soal potong kuping jika Basuki T Purnama alias Ahok kalah di Pilgub DKI Jakarta.

Menurut Ruhut, pernyataan itu dia lontarkan dalam konteks taruhan politik. Namun, saat itu tidak ada satu pun yang meladeni pertaruhan tersebut. Walaupun akhirnya Ahok kalah. Namun ucapannya itu masih ditagih.

“Yang nagih saja enggak tahu diri. Waktu saya tantang itu, kan namanya bertaruh. enggak ada yang berani bertaruh (taruhan potong kuping, red), kok ditagih lagi? Kan itu saja yang lucu. Maunya bertaruh dong, enggak ada lawannya,” pungkas Ruhut. (jpnn/fajar)

sumber: www.fajar.co.id