Melawan Politik Kekerabatan dan Paras Cantik

Rabu, 16 September 2020 - 14:49:29 - Dibaca: 234 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh: Tutie Rosmalina, SH.i,M.A*

Menarik jika kita memulai tulisan kali ini dengan melihat selogan dan bingkai Isu yang mulai dikembangkan, sejauh mana publik melihat visi misi kandidat atau bahkan hanya sekedar garis kekerabatan, dan parahnya sekedar melihat paras cantik yang dibingkai dengan issu gender, karena dalam membangun suatu wilayah, provinsi maupun kabupaten kota, tidak bisa jika hanya melihat dari mana ia berasal (Politik premordial, 1998), apa jenis kelaminnya, misal saja, seorang kandidat prempuan di legislatif belum tentu mewakili aspirasi kaumnya dalam sebuah kepemimpinan dan kebijakan, bisa saja perempuan ini hanya mewakili dari sisi jenis kelamin, tidak dari sisi kebijakan dan keberpihakan pada kaum minoritas yang disebut dengan prempuan, prempuan hanya di jadikan objek kampanye, karena jumlah pemilih prempuan yang di trendkan dengan kelompok emak emak pantastis jumlahnya.

Sehingga isu perempuan/gender ini digiring sedemikian rupa untuk menarik simpati, yang belum tentu visi dan misi berpihak padanya, apalagi kebijakan. Kecenderungan selogan perempuan pilih perempuan hanya sebatas menggiring simpati publik, namun si kandidat ini belum memiliki visi dan keberpihakan dengan jenis kelaminnya, apalagi isu yang dimainkan adalah paras cantik yang menggambarkan keelokan rupa, disini menyudutkan perempuan itu sendiri, bahwa hanya yang cantik parasnya yang disebut prempuan baik dan tulus, hal ini membuat kotak baru dalam prespektif jender untuk dunia politik.
Sayang sekali jika isu kekerabatan dan paras cantik ini menjadi trend dipemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur provinsi Jambi kali ini, karena visi dan misi para kandidat tidak akan menjadi hal yang menarik lagi dalam agenda lima tahunan ini, trendnya akan berpindah ke garis zona, paras cantik dan siapa tokoh dibelakangnya saja, misalnya seberapa jauh kemungkinan CE- Ratu dan Haris – Sani bisa bertemu, dikarenakan adanya Hasan Basri Agus (HBA) di belakang mereka, lain lagi dari sisi partai yang pernah membesarkannya dan mencalonkan, perlu diketahui bahwa CE adalah kader golkar, dan ibu Ratu merupakan kader PAN yang berganti baju menjadi PDI P karena PAN tidak bisa membersamai sang ratu menuju Jambi 2. Namun PAN mengusung Haris yang merupakan kader Golkar dan berganti baju menjadi PAN.

Hal ini lumrah saja di dalam dunia politik, tidak ada yang salah dalam pertukaran partai, walau H-1 mengganti baju partainya. Sehingga irisan ini besar kemungkinan untuk bertemu dan menggalang kekuatan isu.
Sehingga perlu dilihat dan dianalisis oleh para kandidat adalah seberapa besar kemungkinan para kandidat yang bertukar baju ini bisa bertemu dan menggalang kekutan dan melakukan deal deal politik. Menang bukan hanya menjadi target akhir, tapi bagaimana membangun isu menjadi topik utamanya, bagaimana saling bertemunya irisan irisan politik dan saling membesarkan. Sehingga terdikatomi dua kandiat lawan satu kandidat misalnya dalam penggiringan isu, dan jika ini terjadi sangat merugikan dari sebuah kemurnian Demokrasi.
Kompleksitas tantangan atau persoalan dalam membangun demokrasi dalam agenda lima tahunan di provinsi Jambi tidak hanya sebatas isu zona, prempuan pilih prempuan, siapa tokoh besar dibelakang para kandidat, namun mencakup isu politik itu sendiri, pembangunan ekonomi pro masyarakat kecil bukan hanya para pemilik saham, sosial dan budaya masyarakat yang homogen di provinsi Jambi, serta pertahanan dan keamanan pelaksanaan tahapan penyelenggaraan sampai dengan terpilihnya salah satu calon, tidak adanya poltik adu domba dan pecah belah juga menjadikan standart ukur keberhasilan demokrasi di sepucuk Jambi sembilan lurah ini.
Mengutip pernyataan Syafril Nursal dalam deklarasinya bersama Fachrori Umar “semua kandidat yang bakal maju adalah putra putri terbaik Jambi, kita tidak usah melakukan black campaign dan negatif campaign, apalagi kita adalah orang yang beragama dan menjunjung tinggi nilai adat melayu, sehingga dalam pertarungan ini adab dan sopan santun yang dikedepankan, yang muncul menjadi pemenang bukan hanya Fachrori-Syafril tetapi adalah kemenangan rakyat Jambi”. Sehingga Jambi dapat merasakan Keberkahan dari sebuah kontekstasi politik lima tahunan, bukan malah memecah kedalam isu zonasi, kekerabatan, keelokan rupa atau bahkan isu jender yang belum tentu visi misinya berpihak pada gender itu sendiri.
Sebagai penutup saya sebagai penulis berharap semoga semua tahapan berjalan lancar, tidak ada isu premordial dan pemetaan suku. Semua adalah demi keberpihakan pada masyarakat Jambi, semoga kemenangan dan keberlanjutan Jambi Berkah dapat kita rasakan. Insyallah Lanjutkan Jambi Berkah.

*Sekretaris Umum Peduli Serumpun Jambi Foundation