Disway: Antre iPhone

Sabtu, 17 Oktober 2020 - 05:23:22 - Dibaca: 289 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Sabtu 17 October 2020

Oleh : Dahlan Iskan

Di Amerika kini lagi ramai dengan berita peluncuran iPhone 12.

Di Tiongkok kini juga lagi ramai: orang antre untuk bekerja membuat iPhone 12.

Meski berita perang dagang dua negara itu seperti membuat langit mau runtuh tapi yang harus terjadi terjadilah.

Tetap saja iPhone terbaru pun dibuat di Tiongkok. Minggu ini, stasiun kereta api di kota Zhengzhou penuh dengan orang yang akan bekerja di pabrik iPhone. Tiap hari.


Di sana lagi ada pendaftaran pekerja besar-besaran. Tiap hari akan diterima sebanyak 2.000 karyawan baru.

Sebenarnya jumlah itu masih kurang. Tapi perusahaan outsourcing yang mendapat kontrak mengadakan tenaga kerja itu hanya mampu menyeleksi 2.000 orang per hari.

Padahal jumlah keseluruhan tenaga kerja yang diperlukan sampai 250.000 orang. Persyaratannya sederhana: usia antara 16 sampai 36 tahun. Sehat fisik. Juga pernah bekerja di pabrik. Setidaknya pernah mendapat pelatihan kerja. Pelatihan apa pun. Sampai-sampai ada calon pekerja yang sebelumnya hanya mendapat pelatihan untuk menjadi bidan.

Pabrik iPhone itu dimiliki oleh perusahaan Taiwan. Nama perusahaan itu Foxconn. Yang kalau di Tiongkok dikenal dengan nama Hong Hai. Yang pemiliknya bernama Terry Gou (???). Yang tahun lalu menjadi salah satu calon presiden Taiwan –tapi akhirnya tidak ada partai yang mau mengusung.

Padahal ia sudah telanjur mundur sebagai CEO Foxconn. Itu sesuai dengan janjinya kepada partai: mundur dari eksekutif di bisnisnya itu.

Konglomerat kelas dunia seperti Terry Gou pun ternyata pernah kena PHP politikus. Tapi ia juga pernah mem-PHP orang. Yang kena PHP seorang presiden. Presiden Amerika Serikat pula, Donald Trump.

Nama Terry Gou pernah sering disebut dalam pidato Presiden Trump. Di awal masa jabatannya 4 tahun lalu.

Terry Gou pun diundang ke Gedung Putih. Dipuji setinggi langit. Sebagai orang yang akan investasi sebesar gajah bengkak: Rp 150 triliun.

Trump bangga setinggi langit. Ia merasa menjadi presiden yang mendapat dukungan para investor. Janji kampanyenya untuk cipta kerja pun terpenuhi. Dari Foxconn saja akan terbuka 13.000 lowongan kerja baru.

Datangnya investor raksasa ini dianggap sebagai hadiah bagi negara bagian Wisconsin. Trump baru saja menang tipis di situ. Padahal biasanya partai Republik kalah di Wisconsin.

Maka Trump sendiri yang meresmikan peletakan batu pertama pabrik itu. Bersama gubernur Wisconsin. Trump pidato lagi. Menyanjung Gou lagi –di samping menyanjung dirinya sendiri dengan sanjungan lebih tinggi.

Sampai hari ini, hampir empat tahun kemudian, pabrik itu masih bersifat PHP. Sampai gubernur Wisconsin dianggap penipu. Sampai ia pun gagal terpilih kembali dua tahun lalu. Jabatan itu kembali ke tangan Partai Demokrat.

Mungkin Trump juga akan kalah di negara bagian ini.

Terry punya alasan tersendiri. Ia mengatakan: tidak segera membangun pabrik LCD baru itu karena tidak mendapat fasilitas pajak. Rupanya rakyat Wisconsin tidak rela kalau Foxconn mendapat fasilitas yang berlebihan.

Saya tidak heran.

Begitulah investor besar. Dulu Foxconn juga akan investasi di Indonesia. Tapi fasilitas yang diminta sangat berlebihan. Presiden SBY, waktu itu, tidak mau memberi.

Tahun ini Terry Gou genap 70 tahun. Masih sehat, kuat dan bergairah. Istrinya yang sekarang 24 tahun lebih muda: Delia Tseng (???), seorang koreografer tari.

Istri pertamanya, Serena Lin (???), meninggal karena kanker payudara.

Serena pernah stress karena sang suami jadi objek pemerasan. Yakni ketika sang suami kedapatan main dengan seorang gadis bar, Chen Chung-mei. Sampai ada videonya. Lalu seseorang memerasnya.

Terry Gou menyanggupi membayar gadis bar itu. Di hari pembayaran yang ditentukan si pemeras ditangkap polisi bersama si gadis bar.

Di Tiongkok Foxconn punya pabrik yang besar sekali. Di dua tempat pula: di Shenzhen dan Zhengzhou. Total pekerjanya 1 juta orang.

Biarpun ada perang dagang kontrak lama Foxconn dengan iPhone tidak terusik. Mau tidak mau iPhone harus dibuat di Tiongkok. Tenaga kerjanya –meskipun kian mahal– tetap jauh lebih murah dari di Amerika Serikat.

Yang kini lagi antre mendaftar di Zhengzhou itu, misalnya, bergaji setara 4 dolar/jam. Tidak sampai separo di Amerika.

Zhengzhou adalah ibu kota provinsi Henan. Letaknya di tengah-tengah antara Beijing dan Wuhan. Satu provinsi ini saja penduduknya 120 juta orang. Ia salah satu provinsi yang termiskin di Tiongkok. Dulu. Antara lain akibat banjir terus menerus dari sungai Huanghe yang melintasinya.

Pabrik itu sendiri terletak di pinggir selatan kota Zhengzhou. Masih sekitar satu jam naik mobil dari stasiun kereta cepat kota itu.

Hong Hai memang mendapat fasilitas macam-macam dari Tiongkok. Kasarnya, apa pun yang diminta akan diberi –meski Foxconn tidak sampai minta omnibus law.

Mungkin Gou membayangkan fasilitas seperti itu bisa didapat untuk masuk ke Indonesia atau pun ke Wisconsin.

Tanpa fasilitas dari Tiongkok seperti itu harga iPhone 12 akan sangat berat. Padahal iPhone 12 punya pesaing yang perbedaan teknologinya tidak berbeda jauh. Misalnya Samsung Galaxy Note 20, Galaxy S20, Xiaomi Mi 10, Oppo X2, Huawei Mate 40, hingga OnePlus 8.

Di Amerika orang antre membeli iPhone.

Di Tiongkok orang antre membuat iPhone. (Dahlan Iskan)