Waktu Pacaran Sabarnya Selangit, Setelah Nikah Kasarnya Bikin Sakit

Minggu, 18 Oktober 2020 - 11:29:54 - Dibaca: 700 kali

Google Plus Stumbleupon


Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: JUJUK KHARISMA)
Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: JUJUK KHARISMA) / Jambi Ekspres Online

JAMBIEKSPRES.CO.ID— Ingat ya, pernikahan itu tidak seperti masa pacaran. Yang semuanya tampak indah. Jadi, siapkan mental sebaik mungkin sebelum memutuskan untuk menikah.

Kalimat pembuka di atas bukan untuk menakut-nakuti, ya. Justru untuk mengingatkan bahwa masing-masing kita harus benar-benar siap lahir dan batin jika ingin menikah. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti yang dialami Donwori, 28, dan Karin, 26.

Keduanya pacaran sudah cukup lama. Sejak awal kuliah hingga lulus dan masing-masing mendapatkan pekerjaan yang layak.


Selama pacaran, Karin mengakui jika Donwori adalah pria yang pantas mendapatkan acungan dua jempol. Bahkan, kalau ada jempol-jempol yang lain, Donwori sangat layak untuk menerima acungannya.

Selain ganteng dan gagah, Donwori juga baik, penyabar, penyayang, pengertian, humble, tidak gampang marah, setia serta tidak pelit. Pokoknya, semua hal baik ada di Donwori. “Ya, karena saking baiknya itu saya mau dinikahi,” kata Karin.

Tapi kebaikan itu ternyata hanya bertahan di satu tahun pernikahan saja. Masuk tahun kedua, semua mulai terkikis. Semakin bertambah usia pernikahan, kian hilang.

Donwori mulai sering marah, mulai perhitungan, mulai gak sabaran, kasar dan seterusnya. “Bener-benar bikin heran. Dia seperti bukan orang yang tak kenal. Banyak yang berubah,” lanjutnya.



Tapi, Karin hadapi semua itu dengan kepala tegak. Karena ia merasa bahwa Donwori adalah laki-laki pilihannya. “Risiko ditanggung penumpang,” sambungnya dengan muka sinis.

Kini, di tahun ketiga, Karin mengaku sudah gak sanggup. Ia akan segera mengibarkan bendera putih dengan mendaftarkan gugatan perceraiannya ke Pengadilan Agama (PA) Klas IA Surabaya.

Pasalnya, keinginan Karin itu ternyata tidak klop dengan kemauan Donwori. Donwori kekeh tak mau menceraikan Karin.

Sebenarnya masalah-masalah yang sering menimbulkan pertengkaran adalah hal-hal klasik. Misalnya, soal anak atau pekerjaan sehari-hari.

“Dia (Donwori, Red) lebih memilih main game online ketimbang ngemong anake. Padahal, kerjaanku akeh. Sekali-sekali yo kepingin suami mbantu urusan omah,” curhat Karin.

Dasarnya sudah maniak game, disenggol sedikit saja Donwori sudah emosi. Apalagi kalau kalah, malah makin muntab amarahnya.

“Dulu kalau disenggol saat ngegame, biasa saja. Dia nggak sampai marah-marah kayak sekarang. Baru ketahuan setelah nikah ini, sudah punya anak nggak malah pengertian,” kata Karin dengan nada jengkel.

Rasa sungkan juga tidak ada dalam diri Donwori. Tinggal bersama mertua malah membuatnya bertindak semaunya sendiri. “Ibu saya nggak berani ngingatkan, karena nggak enakan. Takut menantunya tersinggung,” jelasnya.

Dalam posisi serba salah itu, Karin meminta pertimbangan pada kedua orang tuanya untuk meminta solusi terbaik. Pada akhirnya, perceraianlah menjadi jalan terbaik di antara keduanya.

“Sudah nggak bisa lagi dipertahankan kalau punya suami nggak ada rasa tanggung jawab seperti itu,” pungkasnya. (RadarSurabaya)

Sumber: www.fajar.co.id