Perkebunan Karet Rakyat Jambi Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda 1906-1940

Selasa, 20 Oktober 2020 - 12:50:28 - Dibaca: 921 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh : Randi Lesmana

Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan yang penting baik untuk lingkup Indonesia maupun bagiinternasional. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia dengan mengungguli produksi negara-negara lain. Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia.

Sektor pertanian pada waktu ini masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Jambi. Selain pertanian rakyat, perkebunan juga merupakan usaha yang penting, khususnya perkebunan rakyat: kopi, lada, cengkeh, karet, kelapa, tebu, tembakau, dan teh. Pada waktu ini di antara berbagai tananan keras ini, yang terbanyak dihasilkan olehJambi adalah karet.

Perkebunan merupakan aspek terpenting dalampemandangan ekonomi di Indonesia pada masa kolonial, menjelang akhir abad ke-19 mulai dikembangkan dan meluas di luar pulau Jawa, khususnya Sumatera, dalam suatu proses yang panjang perkembangan perkebunan karet rakyat Jambi daritahun 1906 sampai berakhimya kekuasaan pernerintah Belandapada tahun 1942, karet merupakan satu faktor yang berhasilmeningkatkan ekonomi masyarakat Jambi.

Selain di Jambi terdapat perkebunan karet rakyat juga di beberapa daerah lain, seperti Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.  

Luas perkebunan karet rakyat di Jambi pada tahun 1990 adalah 476.859 Ha dengan produksi sebanyak 209.447 ton.Menurut Sensus Pertanian tahun 1983 jumlah petani karet di Jambi adalah 84.495 orang, sedangkan jumlah seluruh petani di Indonesia adalah 881.908 orang.

Kehadiran perusahaan Barat dalam dunia perkebunan telahmenciptakan tatanan perdagangan lokal yang sangat komplek, pembangunan insfrastruktur sarana dan prasarana penunjangindustri perkebunan Barat modern yang menghubungkan duniatradisional masyarakat lokal ke dunialuarnya” yang kemudianjauh lebih kompleks dan dinamis, serta pengenalan ekonomijenis baru yang dulu jarang mereka kenal.

Di Malaka pada akhir abad 19 M tanaman karet sudah berproduksi dan banyak menyerap tenaga kerja dari Jambi untukperkebunan karet rakyat. Masuknya biji karet dari Malaka ke Jambi adalah juga berkat jasa tenaga kerja dan jemaah haji. Pada awal masuknya biji karet di Jambi tersiar khabar yang bernada mitos bahwa karet Malaka sangat mahal dan mendatangkan banyak uang. Sedangkan masyarakat Jambi pada waktu itu(akhir abad 19 M) hanya mengenal / menyadap pohon Balam Merah, Jelutung dan Jernang.

Raja Jambi pada masa lampau mengeluarkan undang-undang pajak untuk hasil pertanian yang di sebut Jajah NaikSerah Turun. Dalam pelaksanaannya, mula-mula raja melaluipejabat di bawahnya memberikan barang-barang berupaperalatan dan perlengkapan bercocok tanam (pertanian) kepadasetiap kelaminan yang baru menikah. Barang-barang tersebutantara lain berupa cangkul, tajak, golok, parang, tembilang, kainputih, kain hitam, kain belacu, garam, dll. Barang pembayarjajah ini dalam adat Jambi antara lain adalah sebagai berikut.

1)     Beras segantang.

2)     Ayam seekor.

3)     Kelapo sebutir.

4)     Lengkap sirih pinangnya.

5)     Atau dapat di ganti dengan Emas Mana senilai 2 kejar (1 suku emas).

Pada waktu pembayaran jajah ini maka masyarakat mengadakankeramaian (hiburan) berupa seni pertunjukan.

ZAMAN KUPON

Sebelum memasuki tahun 1935 yakni Zaman Kupon, makapemerintah Belanda terlebih dahulu melakukan penghitungan / pencacahan jumlah pohon karet rakyat di Jambi. Dalampencacahan akhir tahun 1933, jumlah batang karet di seluruhJambi tercatat lebih kurang 67 juta batang siap sadap denganjumlah pemilik kebun karet 43.149 orang. 

Zaman Kupon adalah suatu masa antara tahun 1935 – 1939, masyarakat petani Karet Jambi mengalami era baru dalamsistem penjualan karet. Pemerintah Hindia Belanda membeligetah karet rakyat melalui kupon. Pemerintah Hindia Belandatelah mengambil keuntungan tertentu terhadap rakyat Jambi, antara lain adalah sebagai berikut.

1. Mengontrol mobilitas penduduk ke luar negeri danmengontrol perdagangan di pantai timur Jambi.
2. Membatasi ruang gerak pejuang Jambi dalam memperolehsenjata dari luar negeri.
3. Menciptakan suatu kondisi ketergantungan ekonom8i masyarakat dengan Pemerintah Hindia Belanda.

 

REFERENSI

Lindayanti, Perkebunan karet rakyat di Jambi pada masapemerintahan Hindia Belanda 1906-1940, PerpustakaanUniversitas Indonesia >> UI - Tesis S2.

 

Zusneli Zubir, SEJARAH PERKEBUNAN DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN MASYARAKAT DI ONDERAFDEELING BANJOEASIN EN KOEBOESTREKKEN, KERESIDENAN PALEMBANG, 1900-1942, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Padang Jalan Raya Belimbing No 16A Kuranji Padang.

 

Fachruddin Saudagar, SEJARAH KARET DI JAMBI https://melangun.wordpress.com/2000/02/06/sejarah-karet-di-jambi/

*Penulis mahasiswa Unja FKIP Prodi Ilmu Sejarah