Kao, Apical, dan Asian Agri bekerja sama memberdayakan petani melalui program SMILE

Rabu, 28 Oktober 2020 - 15:56:41 - Dibaca: 418 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Tiga perusahaan terkemuka dalam industri kelapa sawit – Kao, Apical Grup, dan Asian Agri – meluncurkan inisiatif baru di bidang keberlanjutan, dikenal dengan SMILE atau SMallholder Inclusion for Better Livelihood & Empowerement untuk membantu petani swadaya dalam meningkatkan produktivitas, memperoleh sertifikasi internasional, dan mendapatkan premi dari penjualan minyak sawit yang bersertifikat.
Peluncuran SMILE hari ini melalui siaran langsung webinar berjudul ‘SMILE to Empower Smallholders’ yang tayang di CNN – kanal media utama yang fokus pada pengembangan petani kecil dan bekerja sama dengan RSPO. Terdapat 500 peserta webinar yang berasalah dari undangan Asian Agri, Kao, dan Apical. Panel pembicara eksekutif dari berbagai organisasi juga diundang untuk berbagi pengetahuan terkait petani kecil dan masalah yang dihadapi saat ini.
Presiden dari Apical Grup, Dato’ Yeo How menjelaskan, “Inisiatif yang akan berlangsung selama 11 tahun ini berupaya untuk membangun rantai pasok yang ramah lingkungan melalui kerja sama dengan petani swadaya yang telah berkontribusi lebih dari 28% minyak sawit dari keseluruhan pasar minyak sawit Indonesia. SMILE akan melaksanakan aktivitas sesuai dengan kerangka kerja RSPO dan memastikan ketertelusuran hingga ke perkebunan kelapa sawit untuk membangun rantai pasok yang ramah secara lingkungan dan sosial.”
“SMILE berupaya untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan petani swadaya melalui kemitraan dan memperluas lingkup keberhasilan Asian Agri yang telah membangun kemitraan jangka panjang bersama para petani. SMILE menyadari tantangan yang dihadapi petani swadaya sebagai pelaku usaha dalam meningkatkan produktivitas kebun mereka akibat pengetahuan dan kemampuan teknis yang terbatas,” ujar Kelvin Tio, Managing Director Asian Agri.
Mewakili Kao dengan berkomunikasi melalui penerjemah, Negoro Masakazu mengatakan, “Peningkatan dan penyediaan peralatan ini akan dilakukan dari 2020 hingga 2030 dengan tujuan untuk mendapatkan sertifikasi RSPO di tahun 2030. Setelah disertifikasi, petani akan memenuhi syarat dalam menerima premium minyak sawit bersertifikat dengan rata-rata 5% lebih tingi dibandingkan minyak sawit yang tidak bersertifikat. Sebagai bagian dari persyaratan RSPO dan komitmen perusahaan dalam membantu masyarkat mewujudkan UN Sustainable Development Goals (SDGs), SMILE mengikutsertakan inisiatif yang mempromosikan inklusivitas dan peningkatan mata pencaharian melalui pemberdayaan masyarakat.

SMILE akan menawarkan kesempatan bagi petani untuk:
? Meningkatkan produktivitas dengan mengaplikasikan praktik budidaya pertanian yang
baik dan berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan produksi Tandan Buah Segar
(TBS) dan perlindungan sosial serta lingkungan yang lebih baik.
? Mengurangi penggunaan herbisida dengan menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan yang melalui proses uji coba berdasarkan pada rekam jejak dan
kematangan tanaman.
? Meningkatkan pendapatan dari perolehan harga premium TBS yang bersertifikat,
peningkatan produktivitas dan penghematan biaya dari pengurangan penggunaan bahan kimia.
Tujuan dari program ini adalah meningkatkan taraf hidup petani swadaya melalui peningkatan produktivitas tanpa deforestasi, tanpa lahan gambut, dan tanpa eksploitasi. Melalui pelaksanaan SMILE, ketiga perusahaan akan secara rutin melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti LSM, lembaga nirlaba, dan tokoh masyarakat untuk memastikan pelatihan yang kompeten, alokasi peralatan yang memadai, dan penyaluran kebutuhan yang tepat waktu di tingkat kebun dan masyarakat, serta optimalisasi kolaborasi dalam membangun rantai pasok yang berkelanjutan dan dapat dilacak.
Chief Operating Officer RSPO, Bakhtiar Talhah menambahkan, “Kami berterima kasih kepada
anggota kami dan mitra pelaksana seperti Kao, Apical dan Asian Agri karena telah membantu
petani mencapai sertifikasi RSPO melalui peningkatan kapasitas, praktik perkebunan terbaik,
atau pembelian kredit RSPO. Melalui semangat dan tanggung jawab bersama, kami
mengundang lebih banyak perusahaan untuk memperjuangkan standar petani swadaya
RSPO yang baru untuk meningkatkan keterlibatan petani dalam agenda keberlanjutan untuk
meningkatkan mata pencaharian mereka dan memberikan akses yang lebih luas ke pasar
internasional.”
Webinar ini berlangsung selama 2 jam dengan dialog yang dihadiri oleh perwakilan dari asosiasi petani (H. Sutoyo, Ketua Asosiasi Anugrah) dan Setara Jambi (Nurbaya Zulhakim, Direktur).
##
Tentang Kao:
Kao menciptakan produk bernilai tinggi yang memperkaya kehidupan konsumen di seluruh dunia. Melalui portfolio lebih dari 20 merek terkemuka seperti Attack, Bioré, Goldwell, Jergens, John Frieda, Kanebo, Laurier, Merries and Molton Brown, Kao merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Asia, Oceania, Amerika Utara dan Eropa.
Bersama dengan divisi kimianya yang berkontribusi di berbagai industri, Kao menghasilkan sekitar 1.500 juta Yen dalam penjualan tahunan. Kao mempekerjakan sekitar 33.000 orang di dunia dan telah memiliki 130 tahun sejarah dalam inovasi.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi webiste Kao : https://www.kao.com/global/en/
Kao Group dan Insiatif ESG :
Menyadari tanggung jawabnya sebagai perusahaan yang menyediakan produk kebutuhan sehari-hari, Kao Group mengambil langkah aktif untuk mengurangi dampak lingkungan di

sepanjang siklus hidup produknya. Kao Group telah menerima evaluasi dari berbagai organisasi eksternal seperti "Dow Jones Sustainability World Index" (DJSI World) – yang dikembangkan oleh S &P Dow Jones di Amerika Serikat dan Robeco SAM di Swiss, sebuah organisasi yang memilih perusahaan dengan perfoma keberlanjutan terbaik. Pada April 2019, Kao meluncurkan Kirei Lifestyle Plan, sebagai strategi ESG, yang mengabungkan 19 tindakan kempemimpinan. Dengan mengintegrasikan ESG ke dalam inti manajemen di perusahaan, Kao mendorong pertumbuhan bisnis dan melayani konsumen serta masyarakat dengan lebih baik melalui peningkatan layanan dan produk. Proyek khusus ini merupakan bagian dari Responsibly Sourced Raw Materials Action, salah satu dari 19 tindakan kepemimpinan utama Kirei Lifestyle Plan.
Terkait dengan minyak kelapa sawit yang merupakan kategori bahan baku dengan dampak lingkungan terbesar di siklus kehidupan produk, Kao mengembangkan panduan pembelian minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Selain menunjukkan dukungan untuk nol- deforestasi, Kao juga mempromosikan pembelian berkelanjutan yang mempertimbangkan isu etika dan menerapkan keterlacakan yang efektif. Sejak tahun 2007, Kao merupakan anggota RSPO dan telah menyelesaikan akuisisi sertifikasi SCCS untuk seluruh pabrik Kao di tahun 2018. Kao juga menjadi salah satu direktur dari Japan Network for Sustainable Palm Oil (JaSPON) yang didirikan pada tahun 2019.
Pada program SMILE, Kao juga akan memberikan bimbingan teknis tentang cara menggunakan produk secara efektif bersama dengan Apical dan Asian Agri. Kao berkolaborasi bersama LSM dan NPOs lokal untuk melaksanakan survei melalui kuesioner dan analisis mengenai efektivitas bantuan yang diberikan dalam meningkatkan produktivitas dan lingkungan kerja petani, serta area lain yang perlu ditingkatkan lebih lanjut.
? Kao > Sustainability > Responsibly Sourced Raw Materials https://www.kao.com/global/en/sustainability/topics-you-care-about/procurement/
? Kao launches new ESG Strategy “Kirei Lifestyle Plan” to support consumer lifestyle changes https://www.kao.com/global/en/news/sustainability/2019/20190422-001/
Tentang Apical :
Apical Group adalah salah satu pengekspor minyak sawit terbesar di Indonesia, yang memiliki dan mengendalikan spektrum rantai bisnis minyak sawit dari sumber hingga distribusi. Apical juga terlibat dalam proses pemurnian, pemrosesan, dan perdagangan minyak sawit baik untuk pasar domestik maupun ekspor internasional. Kegiatan operasionalnya berlokasi di Indonesia, China, dan Spanyol yang mencakup 5 kilang, 3 pabrik biodiesel, pabrik kimia oleo, dan pabrik penghancur kernel.
Bisnis Apical dibangun dari jaringan sumber yang luas di Indonesia dengan aset kilang yang terintegrasi di lokasi-lokasi strategis. Hal ini diperkuat oleh saluran logistik yang efisien didukung oleh infrastruktur Apical untuk pengiriman ke berbagai klien dari pembeli lokal hingga internasional. Dengan model bisnisnya yang unik, Apical mampu mengontrol kualitas produk dan mengatasi masalah keberlanjutan serta keamanan pangan selagi menjalankan kegiatan operasional yang efisien di kilang kelas dunia dengan fasilitas penyimpanan dan bulking terintegrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi website Apical: https://www.apicalgroup.com/

Kebijakan Keberlanjutan Apical Group :
Sejak peluncuran kebijakan keberlanjutan Apical di tahun 2014, Apical telah mencetak kemajuan pada perjalanan transformasinya dengan mengadopsi standar global dan praktik terbaik dalam kegiatan operasional, anak perusahaan, dan kemitraan dengan pemasok.
Sejak tahun 2010, Kilang Apical telah disertifikasi oleh International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Apical merupakan anggota dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sejak tahun 2010. Apical juga telah mencapai penelusuran penuh ke pabrik di tahun 2015 dan menargetkan penelusuran penuh ke perkebunan di tahun 2020.
Apical Group secara aktif mempromosikan perlindungan kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi (HVC), area Stok Karbon Tinggi (HCS), lahan gambut, dan menuju perkembangan sosial ekonomi yang positif. Apical Group bekerja sama dengan Earthworm Foundation, Proforest, dan Daemeter untuk mengintegrasikan transformasi rantai pasok, memastikan sumber yang bertanggungjawab, dan meningkatkan rantai pasok yang bekelanjutan. Sejak 2017, Apical telah menjadi mitra dari Tropical Forest Alliance 2020 (TFA 2020), sebuah lembaga kemitraan publik-swasta yang mempertemukan pemerintah, sektor privat, dan organisasi masyarakat sipil untuk mengurangi deforestasi yang diasosiasikan dengan sumber komoditas seperti minyak sawit, daging, kedelai, pulp, dan kertas.
Apical berkomitmen untuk pada sumber dan pengelolaan yang berkelanjutan sebagai dasar fundamental dari bisnisnya dalam menghasilkan produk bernilai tinggi untuk permintaan pasar global saat ini.
Tentang Asian Agri :
Asian Agri adalah salah satu produsen minyak sawit terbesar di Indonesia. Didirikan pada 1979, perusahaan saat ini mengelola 100.000 hektar lahan perkebunan inti dan mempekerjakan lebih dari 25.000 orang. Sebagai pelopor program Perkebunan Inti Rakyat (PIR-Trans) yang digagas Pemerintah Indonesia, Asian Agri saat ini bekerja sama dengan 30.000 petani plasma di Riau dan Jambi yang mengelola 60.000 hektar perkebunan kelapa sawit petani plasma, dan bersama dengan petani swadaya mengelola lebih dari 41.000 hektar untuk meningkatkan kehidupan para petani.
Menerapkan kebijakan "tanpa bakar" yang ketat sejak 1994 dan praktik terbaik dalam pengelolaan perkebunan berkelanjutan, Asian Agri telah membantu mitra petaninya meningkatkan produktivitas, hasil panen, dan mengawasi rantai pasokan, sambil membantu mereka memperoleh sertifikasi. Asian Agri juga mengoperasikan pabrik berteknologi tinggi dan memanfaatkan energi secara efisien dan optimal, yang juga meminimalkan efek dari emisi gas rumah kaca.
Asian Agri (PT Inti Indosawit Subur) adalah anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sejak 2006. Lebih dari 86% perkebunan yang dimilikinya di Provinsi Sumatera Utara, Riau dan Jambi, dan 100% perkebunan petani plasma mitra di Riau and Jambi telah bersertifikat RSPO. Semua perkebunan yang dimiliki perusahaan maupun milik petani plasma mitra Asian Agri telah bersertifikat ISCC (International Sustainability & Carbon Certification) sejak 2014. Pada tahun 2019, perusahaan juga mendapatkan sertifikasi 100% ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).
Kegiatan operasional perusahaan juga bersertifikasi ISO 14001, sedangkan Learning Institute dan Pusat Pembibitan Asian Agri di Riau, Indonesia, keduanya bersertifikat ISO 9001. Laboratorium Asian Agri di Pusat Penelitian dan Pengembangan di Tebing Tinggi diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional di bawah ILAC Mutual Recognition Arrangement (ILAC MRA). (van)