Sindir Bu Mega, Syahrial Nasution: Apa Hebatnya Gibran dan Bobby?

Jumat, 30 Oktober 2020 - 06:23:50 - Dibaca: 1216 kali

Google Plus Stumbleupon


Politisi Demokrat, Syahrial Nasution. (Twitter)
Politisi Demokrat, Syahrial Nasution. (Twitter) / Jambi Ekspres Online

JAKARTA– Pernyataan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri yang mempertanyakan sumbangsih generasi muda atau kaum milenial, langsung dibalas Politikus Partai Demokrat, Syahrial Nasution.



Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat itu mengatakan apa yang dikatakan Megawati bertolak belakang dengan kebijakan yang dibuat partainya sendiri, PDIP.



“Ibu Mega mempertanyakan sumbangsih kaum millenial. Ngomong sama presiden jangan manjain anak muda,” katanya di akun Twitternya, Kamis (29/10/2020).

Pada kenyataannya, PDIP justru memberikan tiket khusus kepada dua keluarga dekat Presiden Jokowi untuk maju di Pilkada 2020.



Gibran Rakamubing Raka diusung maju di Pilkada Kota Solo. Bahkan putra sulung Jokowi itu akhirnya menyisihkan Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo.

Sementara, menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution mendapat tiket khusus dari PDIP untuk bertarung di Pilkada Kota Medan.

” Tapi PDIP memaksakan Bobby Nasution dan Gibran jadi calon walikota. Apa hebatnya mereka sebelum Pak Jokowi jadi presiden, selain sebagai anak dan menantu?” ungkap Syahrial.

Sebelumnya, dalam pidato virtual, Megawati mempertanyakan, apa sumbangsih yang sudah diberikan kaum milenial pada saat ini.

“Anak muda kita aduh saya bilang ke presiden, jangan dimanja, dimanja generasi kita adalah generasi milenial, saya mau tanya hari ini, apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa viral tanpa bertatap langsung, apa sumbangsih kalian untuk bangsa dan negara ini?,” kata Megawati dalam sambutannya di acara peresmian Kantor DPD secara virtual, Rabu (28/10/2020).

Megawati lalu mengungkit aksi demontrasi yang dilakukan sejumlah elemen masyarakat (yang banyak digelar kaum milenial) tentang Omnibus Law UU Cipta Kerja, yang beberapa waktu sebelumnya selalu berakhir ricuh dan merusak fasilitas.

Mega menyebut, memang demonstrasi telah diizinkan sejak reformasi. Akan tetapi, menurutnya tidak ada aturan sampai merusak fasilitas.(msn-jpnn/fajar)

Sumber: www.fajar.co.id