MENGAPA UMAT ISLAM INDONESIA “DUNGU DAN TUMPUL” DI ERA MODERN? (Bagian 1)

Senin, 23 November 2020 - 13:17:28 - Dibaca: 35200 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

 

Oleh: Prof. Adrianus Chathib, M.Hum

Artikel ini menggunakan analisis berbasis Teori Christiaan Snouck Hurgronje dan teori Clifford Geertz. Tulisan ini diharapkan dapat dijadikan masukan dan bahan renungan bagi partai-partai Islam serta bahan pertimbangan untuk mendirikan partai baru.


MENGUAK TABIR
Memperkatakan teori Snouck di era kolonialisme yang telah berhasil meluluhlantakkan dan menghempaskan bangsa Indonesia bercerai-berai, kemudian dicaplok kolonislis selama 350 tahun, tidaklah aneh. Teori ini menjadi menarik, ketika dikaji-ulang di era modern ini yang ‘bau busuk’ teori ini masih menyengat. Kalau dulu, teori ini sasaran tembaknya, tidak lain dan tidak bukan adalah negeri dan anak jajahan. Sekarang, subjek dan sekaligus objeknya adalah sesama anak bangsa. Menarik kan?

ISLAM MASA LALU DI INDONESIA.
Untuk tidak melebar kemana-mana, perlu diketahui lebih dulu siapa sosok Snouck dan gaya politik dan kecenderungan intelektualnya. Begitu juga kita harus tahu tentang type dan kelas-kelas muslim Indonesia. Hal yang sama perlu pula sekilas tentang Geertz.

Nama lengkap kanti kita ini adalah Christiaan Snouck Hurgronje. Ia berkebangsaan Belamda.Hidup di ujung abad 19 s/d awal abad ke-20, tahun 1889- 1936. Ia adalah seorang Orientalis. Secara sederhana dapat dipahami bahwa seorang orientalis adalah orang Barat yang mempelajari Islam dan muslim serta budaya ketimuran dengan seluk-beluknya bukan untuk mengimani Islam sebagai agama. Akan tetapi ia mempelajari Islam dan adat budaya timur untuk mencari kekuatan dan kelemahannya.

Namun yang ia pentingkan adalah menemukan kelemahan orangnya atau penganutnya. Sebab, mencari kelemahan dari sudut ajarannya akan sulit, karena Islam telah dijamin Allah berstandar Internasional. Kata Allah: ??? ???? ??? ??????? ???? ??? ???? ????... ??????? ???? ??? ???? ????
maka ruang garap orientalis memasuki ranah lain yakni kelemahan manusia muslim dan adat budayanya. Untuk meneliti apa yang tersebut tarakhir, seorang orientalis bertahun-tahun bermukim di negeri muslim untuk mencari tahu sedalam-dalamnya yang kemudian dijadikan senjata untuk menyerang Islam dan muslim atau lawan politiknya.

Snouck dengan nama lengkap Christiaan Snouck Hurgronje yang lahir pada 1857 di Osterhout, Belanda dan meninggal pada bulan Juni tanggal 26 tahun 1936 di Leiden. Sebagai penganut Protestan yang pura-pura masuk Islam, ia dimintak nasehatnya oleh kolonial Belanda bagaimana strategi menghadapi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim. Tentang Islam Indonesia, ia mengedepankan teori teori Santri vs Abangan dan dalam politik diperkenalkannya politik belah bambu/ devide et impera. Dua teori ini dijadikannya untuk menjinakkan umat Islam Indonesia pada zaman itu. ( Wikipedia)

Snouck sebagai seorang non muslim dilarang masuk Mekkah, karena kota suci tidak boleh dikotori oleh orang ‘kafir’. Justeru, ia berpura masuk Islam dengan nama Abdul Ghafur, maka amanlah dia mempelajari Islam dan watak muslim sekaligus. Dengan demikian, orientalis dapat dikategorikan kepada 2 'model': 1) yang mempelajari Islam adat ketimuran hanya sebatas ilmu; 2) yang mempelajari Islam dengan menyelip di dalamnya tugas zending Kristen yakni kristenisasi. Tampaknya tugas Snouck adalah yang lebih cenderung ke yang kedua. Justeru, setelah ia menemukan apa yang dicarinya, kemudian ia oleh pemerintah kolonial Belanda dikirim ke Indonesia untuk memberi masukan kepada kolonialis Belanda untuk menghadapi Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia.

Snouck memperaktikkan ilmunya dengan the big three theories yakni 1) orang islam dalam soal ibadah, tidak perlu dicampuri , bahkan kalau perlu dibantu; 2) Islam kemasyaratan seperti naik haji
harus diawasi; 3) orang Islam , kalau bicara politik, pangkas. Tiga view cara memandang Islam itu lazim disebut Snouck Theory dalam menghadapi Islam, di samping teori Santri vs Abangan yang juga dianutnya.

Di pihak lain Clifford James Geertz adalah antropolog berkebangsaan Amerika. Ia lahir di San Fransisco pada 22 Agustus 1926 dan meninggal dunia di Philadelphia pada 30 Oktober 2006 dalam usia 80 tahun. Sebagai antropolog dengan spesialisasi agama, perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional serta ahli kehidupan desa dan keluarga ( Wikipedia), ia masyhur dengan teori Santri vs Abangan dan Priyayi. Lihat hasil penelitiannya yang diterbitkan dengan judul: The religion of Java. (Bersambung)