MENGAPA UMAT ISLAM INDONESIA* “DUNGU DAN TUMPUL” DI ERA MODERN? (Bagian 2)

Senin, 23 November 2020 - 13:18:50 - Dibaca: 2988 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh: Prof. Adrianus Chathib, M.Hum

(Gubes Sejarah Peradaban Islam UIN STS Jambi


TEORI SNOUCK DAN GEERTZ BEKERJA-SAMA DAN MENGGIGIT.
Negeri kaya seperti Indonesia menjadi incerannya. Bagaimana kekeayaan Indonesia dapat dikuras dan dibawa ke Belanda. Hal itu tentu tidaklah mudah. Perlu lebih dulu banyak hal antara lain menaklukkan wilayah Indonesia menjadi negeri jajajahan. Kemudian, setelah itu tercapai Belanda harus menguasai perdagangan yang lazim dengan ìstilah monopolidagang.Monopoli tidak akan berhasil, kalau masyarakatnya bersatu, kuat dan utuh. Untuk itu harus pula dicari cara yang apik, menggigit serta mengunyah dengan memecah belah anak bangsa( devide et impera).

Bila, hal ini berhasil, maka muluslah teori bulus dan busuk ini terimplentasi. Ternyata dalam sejarah, teori ini berhasil melampaui target Snouck sendiri. Terbukti, Indonesia terjajah selama 350 tahun dan kehidupan politik bangsa Indonesia berantakan serta pemahaman Islam di Indonesia didanngkalkan alias
“ disekularkan” dan apa tersebut terakhir disahuti oleh kelas abangan. Pepatah mengatakan: 'bertemu ruas dengan buku'
Efek ganda negatif yang muncul pada bangsa Indonesia masa lalu tidak terelakan. Ibarat penyakit yang diderita seseorang, bukan hanya pisik bangsa yang merasakannya, akan tetapi jiwa anak bangsa merasa tertusuk duri sekaligus. Kata pedangdud Meggy Zet: ‘lebih baik sakit gigi daripada sakit hati’. Yang digambarkannya adalah pilihan salah satu. Coba bayangkan kalau dua-duanya sekaligus. Maksudnya, bangsa Indonesia ( baca: anak jajahan atau inlander) --karena Indonesia belum lahir atau belum merdeka-- bangsa Indonesia ketika itu mengalami sakit jasmani dan sakit rohani dalam waktu yang sama.

Di samping kekayaan materi yang dikandung tanah air Indonesia dikuras tanpa hiba yang dibawa ke Naderlands dan digunakan untuk membangun negeri Belanda. Karena, wilayah Belanda lebih luas lautnya dibandingkan daratnya, maka sebahagian lautnya memerlukan pembendungan laut untuk dijadikan pemukiman. Istilah 'dam' adalah istilah yang akrab sekali di negeri Belanda. Sebut saja sebagai contoh ‘Amsterdam, Roterdam.’adalah negeri yang dibendung supaya menjadi negeri layak huni. Yang menjadi daya tanya memikat adalah dana yang diperoleh dari mana? kalau bukan dari dana yang didapatkan kolonialis Belanda dengan cara menguras kekayaan tanah air Indonesia.

Dari sudut pandang ekonomi dapat diajukan pertanyaan, di samping: 1) dari kekayaan apa sumber dana itu ia dapatkan; 2) bagaimana cara menguras harta dari ‘negeri zamrut khatulistiwa’ itu? Adapun dari sudut politik, kepentingan apa yang bersarang di dada kolonialis Belanda; 2) bagaimana modus operandinya? dan kenapa lahir teori Snouck yang lazim disebut dengan devide et impera itu.

Apa yang dilakukan Belanda sebagai penjajah, baik diakui atau dibantah sudah berlalu sejak lahirnya VOC sampai dengan jatuhnya Indonesia ke pamgkuan penjajah dan berakhir setelah kolonialisme diakhiri di Indonesia dengan pernyataan proklamasi kemetdekaan Indonesia. Upaya Snouck memecah belah rakyat Indonesia, dalam politik dan keagamaan boleh dikatakan berhasil. Wilayah Indonesia yang begitu luas sudah terkotak-kotak di bawah kolonialisme Belanda. Kerajaan-kerajaan dan kesultanan, otonominya hanya tinggal nama.
Dalam arti yang sesungguhnya kekuasaan sebenarnya berada di tangan Belanda dengan politik devide et imperanya.Di bidang keagmamaan – terutama Islam – mengalami distorsi keimanan yang luar biasa yang menghujam dalam pada masyarakat Jawa yang tampak pada singkretisme keislamannya dengan mudah sekali disekularkan Snouck. Hal itulah yang mempermudah atau setidak-tidaknya menyumbang ke jalan menuju sekularisasi dengan menerapkan teori C.Geertz dalam bukunya The Religeon of Java yang titik tekannya bahwa ternyata masyarakatnya mayoritas abangan.

Menurut hasil penelitian Geertz bahwa masyarakat Jawa terbagi 3 kelas: santri, priyayi dan abangan. Kajian Geertz sebenarnya representasi masyarakat Indonesia. Pengetahuan Snouck tentang Islam diperhadapkan dengan kondisi real masyarakat Indonesia ketika itu, bak kata pepatah: ‘gayung bersambut’, ibarat mendayung biduk ke hilir. Keduanya saling ketemu dan bersahutan.

Maka, tidak terlalu sulit menjawab pertanyaan: kenapa bangsa yang mayoritas muslim ( baca: 87 % penduduknya muslim), ternyata yang abangan mayoritas, santri adalah minoritas, sementara priyayi berada dan ada di kedua kelompok tetsebut. Kelompok yang abanganlah yang dimasuki paham sekularisasi yang pada tataran politik dianut oleh kelompok nasionalis.Di pihak lain, pemahaman keagamaan yang abangan juga cenderung dan mayoritas di kelompk nasionalis.

Melalui paparan tersebut di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa implementasi teori Snouck yang dihiasi oleh dukungan teori Cliffort Geertz membuat kelompok nasionalime berakar kuat di Indonesia. Di pihak lain, kesuksesan teori Snouck ditambah dengan kenyataan empirik rakyat Indonesia membuat kelompok nasionalisme bercabang dan menyebar ke mana-mana di wilayah Indonesia, terutama di Jawa yang menguasai ½( lebih kurang 50%) penyebaran penduduk Indonesia.

Artinya, bila Jawa dikuasai, maka hampir dipastikan kemenangan berada di tangannya. Keberhasilan Snouck memecah belah rakyat Indonesia dan kegagalan ulama dan da’i menjadikan santri menjadi kelompok mayotitas, sebagai awal bermulanya umat Islam Indonesia kurang berkekuatan, untuk tidak mengatakannya umat yang lemah. Bersinerjinya 2 kelemahan struktural dan kultural berpadu selama berabad-abad membuat fundamental kelemahan sampai dengan sekarang.

ISLAM INDONESIA DI ABAD MODERN.
Sejak Indonesia merdeka tahun 1945 dan sebelumnya , di samping prosentasenya sekitar 90%, kekuatan politik, sosial, budaya dan keagamaannya masih terasa di dalam bernegara dan berbangsa. Namun demikian, dari periode ke periode kepemimpinan dari masa ke masa tampak mengalami penurunan. Kalau umat Islam Indonesia pada masa merebut kemerdekaan adalah penyumbang nyawa dan harta sekaligus untuk memerdekan Indonesia.

Sebagai bukti tanpa mengukurnya dengan statistik secara kuantitatif, lihat saja dan hitung sendiri di makam Taman Pahlawan atau makam umum lainnya sebagai penyumbang nyawa gratis yang disebut????? ??????? .
Istilahnya popular dengan ‘pahlawan tidak dikenal’ . Kenyataan ini sebagai gambaran bahwa umat Islam berjuang tanpa pamprih. Justru tidak salah ungkapan Letjen Alamsyah Ratu Perwiranegara bahwa kemerdekaan adalah sumbangan besar umat Islam terhadap negara.

Di lain pihak secara politik, pada pemilu pertama 1955, partai Masyumi menduduki ranking 2 setelah PNI. Semuanya adalah kenyataan masa lalu umat Islam Indonesia yang sudah menjadi catatan sejarah dan hari ini kita menyebutnya sebagai nostalgia belaka. Setelah demokrasi terpimpin (20 tahun), masa Orde Baru (lebih kurang 33 tahun) dan pada masa reformasi ( 1998 -2020), partai Islam hanya sebagai pelengkap pendetita saja, walaupun populasi umat Islam nyata paling besar yakni sekitar 87% dibandingkan dengan 13 % populasi agama lain.

Rasa-rasanya, kalau populasi yang jadi ukuran, maka partai-partai berbasis Islam baik berkoalisi ataupun sendiri-sendiri akan tetap unggul. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Apa yang terjadi di umat Islam Indonesia ( what happened of modern moslem people in Indonesia? Inilah the great quotion and the big question yang penting diajukan dan akan diurai jawabannyai berikut ini dengan pisau bedahnya teori Snouck Hurgronje dan teori Cliffort Geertz.

Ada dua teori yang diajukan Snouck untuk melumpuhkan Islam Indonesia yakni : 1) politik devide et impera yang untuk konteks sekarang disebut politik adu domba yang subjek dan objeknya umat Islam sendiri. Berbeda dengan politik devide et impera pada zaman kolonial, yang subjek kolonial Belanda, sedangkan objeknya adalah rakyat Indonesia tetutama umat Islam. Sementara dewasa ini baik subjek maupun objeknya adalah umat Islam yang digadang-gadang 87% itu.

Snouck boleh saja mati, akan tetapi sebagai ideologi, teorinya masih langgeng hidup sampai sekarang dan ampuh digunakan dalam perpolitikan. Politik adu-domba sesama umat Islam itu terjadi antara kelompok intern Umat Islam dan antar muslim dengan kelompok lain atau bisa juga antara penguasa muslim dengan umat muslim, sehingga orang Islam sesama mereka saling memfitnah yang ujungnya lahir perpecahan interm muslim. Siapakah yang berperan sebagai Snouck di era modern sekarang. Tentulah umat Islam juga yang berada di pemerintahan atau di partai. Tanpa menutup kemungkinan bahwa minoritas juga bermain di balik layar. Buktinya Snouck dan antek-anteknya juga minoritas dapat mempercundangi perpolitikan di Indonesia pada masa silam yang sangat menyakitkan.

Untuk diketahui bahwa yang namanya urusan politik adalah sarat kepentingan yang kadang-kadang tanpa disadari atau pura-pura tidak sadar bahwa ‘Snouck Muda’ bermain langsung atau bermain di balik layar; dalam arti 'Snouck Muslim' sebagai dalangnya dan partai-partai Islam sebagai wayangnya. Barangkali inilah yang terjadi di dalam tubuh umat Islam sekarang yang berbeda peran sebagai Snouck pada masa kolonialisme.

Lalu, teori Snouck kedua adalah membuai umat Islam menjadi terlena adalah menghidupkan kembali politik etis dengan membantu atau memberi sesuatu yang akan menumpulkan teologi, keimanan dan keta'atannya pada agamanya. Bantuan ke pesantren, sekolah, mesjid dan yayasan Islam lainnya yang membuat orang Islam itu mati kutu dan patah siku untuk menyatakan kebenaran.Itu digunakan untuk mengalihkan isue dari yang ke yang lainnya.Snouck tua dan Snouck muda sama-sama meninabobokan rakyat agar tidak berpolitik. Sementara Islam sebagai agama ( HAR Gibb) bukan hanya mengurus hubungan vertikal dengan Allah, akan tetapi jauh melampaui itu yakni hubungan sosial-politik kenegaraan. Setidak-tidaknya, Islam menganut dualisme: agama dan politik/ ????? ??????? adalah menyatu yang oleh Snouck harus dipisahkan , sebagaimana kehendak politik Snouck. Karena umat Islam kalau berpolitik dalam menegakkan kebenaran’ mereka akan puritan sampai dengan tercapai perjuangan yang dicita-citakannya apalagi sesuatu yang bersifat creed dan way of life.

Jadi, sekarang yang menumpulkan umat Islam dalam berpolitik adalah umat Islam yang berada pada 'ranjang lain'. Karenanya, bagi muslim seperti ini ‘mimpi yang berbeda’ dipandang sebagai musuh besar, walaupun sesama muslim dan pola tingkah laku muslim seperti inilah yang dipelihara dan dihidupsuburkan pada zama now. Keberadaan seperti inilah yang melumpuhkan umat Islam Indonesia, makanya jumlah nominal 87% tidak bermakna apa-apa.

Bila dilaitkan dengan temuan C.Geerts bahwa 3 klaster umat Islam Indonesia: santri, priyayi dan abangan cocok sekali dengan kemauan politik Snouck yakni abangan yg mayoritas di Indonesia modern betul-betul bisa dimanfaatkan oleh politisi bergaya Snouck yang mereka menyebar pada partai nasionalis. ?engan demikian, pertanyaan di atas terjawab sudah bahwa 'kedunguan dan ketumpulan' umat Islam Indonesia dewasa ini disebabkan teori Snouck dan teori Geertz hidup lagi secara beriringan dan saling memberi kontribusi diaplikasikan oleh penguasa dan sesama umat Islam yang abangan dalam tataran politik dan keagamaan.

Kesimpulan, dungu dan tumpulnya umat Islam Indonesia di era modern ini disebabkan teori Snouck Hourgronje dan teori Cliffort Geertz hidup kembali/reinkarnasi di tengah-tengah masyarakat pluralis yang diperalat oleh politisi baik muslim maupun non muslim untuk mengobrak-abrik umat Islam Indonesia. Predikat ‘dungu dan tumpul’ akan hilang, bila umat Islam Indonesia tidak gagal paham tentang kondisi yang sesungguhnya. Umat Islam yang representasi abangan 87?rganti ‘tempat duduk’ dan peran dengan kaum santri, baik secara nominal maupun secara verbal.

 

 

 

 

 

 

 

*) Tulisan ini dapat dijadikan masukanh dan bahan renungahn bagi partai-partai Islam serta bahan pertimbangan untuk mendirikan partai baru.