Kisah Pilu Satu Keluarga, Jenazah Istri Teridentifikasi, Suami dan Bayi Belum Ditemukan

Kamis, 14 Januari 2021 - 05:34:53 - Dibaca: 7027 kali

Google Plus Stumbleupon


Petugas membawa kantung jenazah korban pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta - Pontianak di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (10/1/2021) (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Petugas membawa kantung jenazah korban pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta - Pontianak di Dermaga JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (10/1/2021) (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) / Jambi Ekspres Online

JAKARTA— Tragedi Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di Kepulauan Seribu menyisakan cerita duka nan pilu. Satu keluarga meninggal dalam kecelakaan itu. Suami, istri, anak dan mertua, serta ponakan, menjadi korban pesawat nahas tersebut.

WhatsApp Image 2021-01-07 at 19.57.16_4

Satu keluarga ini terdiri dari Rizki sebagai suami. Rizki meninggal bersama istrinya Indah Halimah Putri, anaknya Arkana Nadhif Wahyudi, ibundanya Rossi Wahyuni, dan keponakannya Nabila Anjani.
Hingga Rabu (13/1/2021), yang berhasil teridentifikasi Tim DVI di RS Polri Kramat Jati, baru Indah Halimah Putri. Sementara empat anggota keluarga yang lain belum teridentifikasi Tim DVI.

Karopenmas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan, identitas penumpang Sriwijaya Air Indah Halimah Putri teridentifikasi setelah terdapat kecocokan saat data ante mortem korban disandingkan dengan post-mortem.

“Ini dapat teridentifikasi dari sidik jari,” kata Rusdi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (13/1).

“Pertama atas nama Indah Halimah Putri, lalu yang kedua atas nama Agus Minarni,” ungkap Brigjen Rusdi. Indah Halimah Putri masih berusia 26 tahun saat musibah ini terjadi.

Sementara itu, Ridwan Agustan Nur, ayah Indah Halimah Putri, harus kehilangan anak, menantu, cucu, dan besan dalam satu hantaman musibah Sriwijaya Air SJ182.

SEMUA seperti baik-baik saja setelah Ridwan Agustan Nur membaca SMS itu. Dari sang putri, Indah Halimah Putri, yang dikirim pada pukul 13.59 tapi baru sempat dibaca Ridwan pukul 15.00 karena ketiduran.

”Bak (ayah, Red) kami sudah di ruang tunggu bandara. Kami nak berangkat. Pesawat delay,” begitu isi SMS yang dikirim Puput, sapaan akrab Indah Halimah Putri, seperti dikutip Sumatera Ekspres.

Ridwan lalu menghabiskan Sabtu sore itu (9/1) dengan menonton televisi. Ada tayangan kecelakaan pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta–Pontianak.

Kepada orang tuanya yang tinggal di Desa Sungai Pinang II, Kecamatan Sungai Pinang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Puput tak pernah bercerita bahwa dirinya, suami, anak, mertua, serta keponakan naik pesawat Sriwijaya Air.


Jadi, Ridwan prihatin melihat kabar kecelakaan itu, tapi sama sekali tak ada bayangan tragedi tersebut akan berkaitan dengannya.

Sampai sebuah panggilan telepon dari seseorang bernama Ari selepas Magrib mengejutkannya. Ari mengaku sebagai atasan Rizki Wahyudi, suami Puput.

”Pak, pesawat yang ditumpangi Rizki sama istri, anak, dan ibunya jatuh,” ujar Ari yang mengaku tengah berada di Bandung.

Dunia mendadak seperti runtuh bagi Ridwan. Dia kehilangan anak, menantu, cucu, dan besan dalam satu hantaman musibah Sriwijaya Air SJ182. Ridwan terkejut. Tapi, mau tak mau dia harus meneruskan kabar itu kepada sang istri, Yusnia.

Dan, seperti dia duga, musibah itu terlalu berat untuk didengar perempuan 52 tahun tersebut. Dia pingsan.

Saat Sumatera Ekspres menyambangi kediaman keluarga yang tengah berduka itu kemarin (10/1), Yusnia belum sadarkan diri. Dia dibaringkan di ruang tengah yang cukup luas.

Di sekelilingnya banyak keluarga. Kerabat dan tetangga di kampungnya, Desa Sungai Pinang II RT VII, Kecamatan Sungai Pinang, Ogan Ilir, ikut berusaha membesarkan hati kedua orangtua Indah Halimah ini.

Pada 15 Desember 2020, Rizki pulang untuk menjemput istri dan putranya, Arkana.Sepuluh hari kemudian, 25 Desember, ketiganya terbang ke Bangka. Ke rumah orang tua Rizki. Untuk selanjutnya mereka berencana ke Ketapang.

Sebelum terbang, Puput, suami, anak, mertua, dan keponakan menginap satu malam di Jakarta. “Kalau jadwalnya, mereka ke Pontianak itu, besok (hari ini),” jelas Ridwan.

Tapi, karena hasil swab test keluar lebih cepat, mereka pun berangkat lebih cepat dari rencana semula. Dan, malang pun tak dapat ditolak. Rizki semasa hidup bekerja di Balai Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Gunung Palung Ketapang, Kalimantan Barat. (PojokSatu)

Sumber: www.fajar.co.id