Jaksa Pinangki Nangis Bombay Permisa…Hidupnya Sudah Hancur Lebur Sekarang

Kamis, 21 Januari 2021 - 13:28:19 - Dibaca: 742 kali

Google Plus Stumbleupon


Sidang pemeriksaan Jaksa Pinangki. Foto RMCO
Sidang pemeriksaan Jaksa Pinangki. Foto RMCO / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Jaksa Pinangki Sirna Malasari menangis tersedu-sedu saat menyampaikan pleidoi dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (20/1). Pertama Pinangki menceritakan awal karirnya sebagai jaksa.

“Saya ingin memulai pledoi pribadi saya dengan menceritakan perjalanan hidup pribadi saya sebagai seorang jaksa,” kata Pinangki.

 

Ia menyatakan, dirinya dibesarkan di Yogyakarta dalam kehidupan keluarga yang sangat sederhana. “Pada waktu itu saya kuliah saja tidak mampu,” ujanya.

Dia juga menceritakan pertemuan pertama antara dirinya dengan suami pertamanya Djoko Budiarjo (almarhum) pada 2000.

“Atas kebaikan dan kemurahan hati almarhum, saya dibiayai kuliah S1 di Universitas Ibnu Kaldun Bogor,” katanya dengan nada bergetar.

Usai menutaskan kuliah S1 pada 2004, atas saran almarhum suaminya, ia mendaftar di Kejaksaan RI.

“Alhamdulilah diterima di Kejaksaan RI menjadi calon jaksa,” sambungnya.

Ia kemudian resmi dilantik menjadi jaksa pada 2007. 

Atas saran almarhum suaminya pula, dirinya fokus pada pengembangan diri dengan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia pun akhirnya meraih gelar doktor Ilmu Hukum pada 2011.

Dalam perjalanan karirnya sebagai jaksa selama 10 tahun, disebutnya berjalan biasa-biasa saja dan tidak pernah menduduki jabatan strategis.

 

Selama 10 tahun itu pula, ia hanya menjabat jabatan adminsitrasi yang tidak terkait teknis perkara maupun tidak terkait sebagai pejabat pengadaan dalam proyek pengadaan barang dan jasa.

Baru pada 2011 ia akhirnya bertugas sebagai jaksa fungsional di bidang Perdata Tata Usaha Negara (Datun).

Setahun kemudian, ia ditugaskan sebagai jaksa fungsional di Bidang Pengawasan.

Lalu pada 2014, Pinangki menjabat eselon 4 sebagai Kasubdit Statistik dan Analisis pada Pusat Informasi Data dan Statistik Kriminal (Pusdakrimti) Kejaksaan Agung.

“Kemudian pada tahun 2016 menjabat sebagai Kasubag Pemantauan dan Evaluasi pada Biro Perencanaan,” bebernya.

Ia mengaku, adalah sebuah kebanggaan tersendiri bisa menjadi anggota korps Kejaksaan Agung Republik Indonesia.

Meskipun, sambungnya, jabatan-jabatan yang ia emban selama ini bukan jabatan yang bergengsi dan strategis.

“Akan tetapi tidak mengurangi rasa bangga dan syukur saya dan orang tua saya,” kata Pinangki sambil terisak.

Pinangki juga menyatakan bahwa hanya dirinya satu-satunya dalam keluarga yang berprofesi sebagai jaksa. 

“Itu menjadi keteguhan saya untuk tetap mengabdi dan berbuat yang terbaik bagi korps Kejaksaan,” ungkap Pinangki.

Dengan rasa bangga itu pula, kata dia, tidak mungkin dirinya mengkhianati institusi Kejaksaan.

“Tidak mungkin saya berkhianat dengan cara menghindarkan seorang buronan untuk dilakukan eksekusi,” katanya.

 

Periode kesedihannya pun terjadi saat ayahnya meninggal dunia yang ia ceritakan sambil terus menangis.

Baginya, kehilangan seorang ayah adalah pukulan yang telak.

“Gegitu pun dengan keluarga atau orang tua saya hingga saya kehilangan bapak saya yang meninggal pada hari minggu lalu karena sakit,” ungkapnya.

Atas rentetan kasus yang dialaminya itu, Pinangki pun merasa bersalah dan menyesal.

“Tentu itu adalah musibah yang membuat saya merasa bersalah, menyesal,” kata dia.

Dirinya merasa belum bisa membahagiakan orang tuanya.

“Dan saya tidak bisa mendampingi hingga merawatnya saat sakit karena saya melakukan ini,” kata Pinangki.

Ia kemudian berandai-andai bisa membalikkan waktu sehingga tidak terlibat dalam kasus yang bermuara pad Djoko Tjandra.

Menurutnya, tersandung kasus Djoko Tjandra menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.

“Andaikan bisa membalik waktu, ingin saya rasanya mengambil pilihan yang berbeda dalam peristiwa ini,” kata Pinangki yang lagi-lagi menangis.

Karena itu, ia pun menyampaikan permintaan maafnya yang ditujukan kepada Kejaksaan, keluarga dan rekan.

“Izinkan saya untuk memohon maaf kepada institusi Kejaksaan, kepada anak, suami, keluarga dan kepada sahabat-sahabat saya.”

 

“Saya sangat merasa bersalah atas perbuatan saya ini,” ujarnya dengan nada lirih.

Jaksa yang menggunakan uang suap untuk foya-foya dan operasi plastik di Amerika ini juga mengaku sangat menyesal telah terlibat kasus yang menghancurkan hidupnya sendiri.

“Menghancurkan kehidupan yang telah saya bangun bertahun-tahun, saya telah mengungkapkan di depan persidangan yang mulia ini semua perbuatan saya,” ungkapnya.

Pinangki juga mengakui bahwa apa yang ia lakukan itu memang merupakan hal yang tidak pantas dan sangat tercela.

Sebab, ia bukan saja telah mempermalukan institusi Kejasaan dan seluruh keluarga besarnya.

“Tapi juga membuat saya harus kehilangan kesempatan untuk mengasuh dan memberi kasih sayang kepada anak saya satu-satunya, Bima, pada masa pertumbuhannya,” kata Pinangki terbata-bata. 

Atas perbuatan yang ia sudah lakukan itu, Pinangki mengaku dan merasa bahwa dirinya pasti akan dipecat dari Kejasaan RI jika terbukti bersalah.

Untuk itu, Pinangki memohon pengampunan dan diberikan kesempatan untuk bisa kembali berkumpul bersama keluarganya.

Juga tetap bisa menjalankan tanggungjawab utamanya sebagai seorang ibu.

 

“Tiada kata yang bisa saya sampaikan lagi pada pledoi ini kecuali rasa

penghormatan kepada majelis hakim yang saya percaya bisa memutuskan yang seadil-adilnya,” tandasnya.

(*/ruh/pojoksatu)

Sumber: www.pojoksatu.id