Dinasti Politik Berguguran di Pilkada Jambi

Minggu, 21 Maret 2021 - 06:38:56 - Dibaca: 3269 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh:  Abdul Bari Azed*

 ADA sisi yang menarik dari Pilkada serentak di Provinsi Jambi bulan Desember 2020 yang baru lalu.Banyak yang tidak terpublikasi yaitu tidak terpilihnya beberapa cakada (calon kepala daerah) yang ikut di dalam pilkada serentak tersebut. Seperti di ketahui bahwa pilkada serentak di Provinsi Jambi digelar 6(enam) pilkada. Pilgub Jambi, dan pilkada di 5 (lima) kabupaten/kota.Yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Barat,Tanjung Jabung Timur,Batanghari, Bungo dan Kota Sungai Penuh.

Untuk pilgub Jambi petahana Fachrori Umar maju lagi berpasangan dengan Syafril Nursal, Cek Endra-Ratu Munawaroh serta Al Haris-Abdullah Sani. Dimana  di dalam pilgub Jambi Al Haris - Abdullah Sani terpilih suara terbanyak mengalahkan dua pasangan calon yang lalin.  Namun paslon CE-Ratu mengajukan permohonan PHP (perselisihan hasil pemilihan ) ke Mahkamah Konstitusi. Insya Allah Mahkamah Konstitusi akan membacakan putusan pada hari Senin, tanggal 22 Maret 2021 apa ditolak atau PSU di TPS tertentu.

Pilkada Tanjung Jabung Timur dan Bungo, pasangan petahana kembali maju dan kembali terpilih untuk masa jabatan ke dua yaitu Romi Hariyanto-Roby untuk Tanjung Jabung Timur dan Mashuri-Safruddin Dwi Aprianto untuk Bungo.Tiga kabupaten/kota ditambah Provinsi Jambi lainnya diikuti wajah baru.Namun bukan benar-benar baru,tetapi masih satu keluarga dengan kepala daerah yang menjabat sebelumnya atau kepala daerah yang sudah pernah menjabat. Ada aroma dinasti politik. Pada pilgub Jambi selain diikuti petahana Fachrori Umar-Syafril Nursal dan Al Haris-Abdullah Sani  juga diikuti Ratu Munawaroh isteri mantan gubernur Jambi dua priode (2000-2010) Zulkifli Nurdin. Untuk pilkada Batanghari Yunninta Asmara (anggota Dewan Batanghari) isteri Bupati Batanghari dua periode Syahirsah.Yunninta berpasangan dengan Mahdan (anggota Dewan Batanghari). Selain itu dr. M.Firdaus (pengganti M.Hafiz,adiknya) adalah anak mantan Bupati Batanghari dua periode Abdul Fattah dan juga ibundanya almarhumah Sofia Fattah Wakil Bupati Batanghari periode 2015-2020.dr. Muhammad Firdaus berpasangan dengan Camelia Puji Astuti, (anggota Dewan Batanghari) yang merupakan puteri dari mantan Bupati Batanghari dua periode. H.Hasip Kalimuddin Syam.

Cakada (Calon kepala daerah) Kota Sungai Penuh Fikar Azami, putera dari Walikota Sungai Penuh dua periode Prof.Dr.Asyafri Jaya Bakri (yang disingkat AJB). Cakada (Calon kepala daerah) Tanjung Jabung Barat Mulyani Siregar (Ketua Dewan Tanjab Barat), adalah adik kandung Bupati Tanjab Barat dua periode, Safrial .Memang agaknya bukan suatu perkara yang mudah untuk cakada dinasti politik untuk terpilih di pilkada serentak .Faktanya semua mereka Yunninta Asmara-H.M.Mahdan, Firdaus-Camelia, Mulyani Siregar serta Fikar Azami yang juga mengajukan sengketa ke MK,tapi dinyatakan ditolak ternyata tidak terpilih, dalam pilkada serentak tanggal 9 Desember 2020 yang baru lalu.

Faktanya bahwa KPU Kabupaten Tanjung Jabung Barat menetapkan hasil rekapitulasi suara sebagai berikut : Mulyani Siregar SH-M.Amin 51.837 suara, Drs.H.Anwar Sadat-Hairan SH 67.434 suara serta Drs.H.Muklis MM-Suparti,SH 31.501 suara. Untuk Kota Sungai Penuh hasil rekapitulasi suara oleh KPU Kota Sungai Penuh adalah :Drs Ahmadi Zuber MM-Dr.Alvia Santoni,SE,MM meraih suara 28.783, sedangkan pasangan Fikar Azami, SH,MH-Yos Adrino 27.170 suara.

Yang menarik untuk Kabupaten Batanghari, muncul yang terpilih figur birokrat tulen pasangan Muhammad Fadhil Arief SE-Bakhtiar, Fadhil adalah mantan Sekda Muaro Jambi, kelahiran Terusan serta Bakhtiar,adalah mantan Sekda Batanghari. KPU Kabupaten Batanghari telah menetapkan rekapitulasi hasil perhitungan suara serta menetapkan sebagai pasangan calon terpilih, dan sudah pula dilantik bersama Bupati Tanjung Jabung Barat beberapa minggu yang lalu. Hasil rekapitulasi suara adalah sebagai berikut : Hj.Yunninta Asmara,SH-H.M.Mahdan S.Kom dengan suara sebanyak 50.486,dr.Muhammad Firdaus,MARS-Camelia Puji Astuti, S.Sn,MA dengan suara sebanyak 49.528,serta Muhammad Fadhil Arief,SE-Bakhtiar dengan suara sebanyak 60.842.

Politik Dinasti

 Seperti diketahui bahwa praktik penyelenggaraan pilkada sejak tahun 2005, muncul satu fenomena baru yaitu hadirnya politik dinasti,yaitu adanya kesinambungan pemerintahan dari lingkaran satu keluarga baik orangtua-anak,suami-isteri, kakak-adik, dan lain-lain. Bahkan di suatu wilayah provinsi bupati/walikota mayoritas memiliki hubungan kekerabatan dengan gubernur. Tidak semua fenomena ini menghadirkan praktik yang jelek, karena adanya kemajuan dan kesinambungan pembangunan di daerahnya. Namun tidak sedikit justru menimbulkan persoalan baru karena adanya hegemoni atas berbagai sumber kekuatan politik, ekonomi dan social di masyarakat. Beberapa hal bisa dicontohkan ,misalnya mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron yang telah menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pembelian gas alam. KPK mengindikasikan bahwa anaknya, Makmun Ibnu Fuad,adalah bagian dari penerima uang terkait kasus yang membelit bapak. Makmun Ibnu Fuad adalah Bupati Bangkalan 2014-2019. Dia menggantikan bapaknya yang jadi Bupati Bangkalan dua periode yakni 2003-2008 dan 2008-2013, sedangkan Fuad adalah Ketua DPRD Bangkalan 2014-2019.

Atau kasus yang menimpa Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Dia telah di vonis empat tahun kasus suap pilkada Lebak.Dalam kasus ini dia juga menyeret adiknya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, Isteri Wawan, mantan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmy Diani. Contoh yang lain adalah penetapan Walikota Cimahi Atty Suharti Tochija dan suaminya Itoch Tochija sebaai tersangka. Pasangan suami-isteri ini dijerat dalam kasus dugaan suap pemulusan ijon proyek pembangunan tahap II Pasar Atas Cimahi. Kasus ini menjadi bukti bahwa politik dinasti di daerah masih kuat.Sebab. Itoch diketahui merupakan Walikota Cimahi dua periode 2002-2007 dan 2007-2012.Kekuasaan itu kemudian beralih ke isterinya Atty untuk periode 2012-2017.

Kemudian dengan keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 33/PUU-XIII/2015 tentang menghapus pasal pembatasan larangan keluarga pejawat (incumbent) maju pilkada, kekerabatan politik (dinasti politik) dalam pencalonan semakin tidak terkendali, terutama dalam pilkada serentak tahun 2020. Hal baru dalam dinasti politik di pilkada 2020 adalah majunya serta terpilihnya anak dan mantu Presiden Joko Widodo.yakni Gibran Rakabuming sebagai Walikota Solo,serta Bobby Nasuiton sebagai Walikota Medan.

Melihat jumlah cakada yang maju di pilkada serentak 2020 yang baru lalu wajar bila terjadi penambahan cukup besar cakada yang memiliki kekerabatan. Mengutip Kajian Nagara Institut per Oktober 2020, mencatat sedikitnya ada 124 dari 270 cakada pilkada serentak 2020. Sebanyak 57 kandidat adalah calon bupati, 30 calon wakil bupati,20 calon walikota,delapan calon wakil wali kota,lima calon gubernur dan empat calon wakil gubernur.

Pandai Bersyukur

 Agaknya Yunninta Asmara,Mohammad Mahdan, Camelia Puji Astuti, Mulyani Siregar harus mengundurkan diri sebagai anggota Dewan sebagai salah satu syarat untuk maju sebagai calon kepala daerah. Sepatutnya kita harus pandai bersyukur dengan apa yang dicapai saat ini ibarat pepatah klasik "Mengharap burung yang terbang dilangit,burung yang ada di tangan dilepas". Allah SWT telah menganugerahkan umat manusia kenikmatan yang tiada takarannya, yang tidak seorangpun memiliki kapasitas untuk dapat menggantikannya dengan hal yang setara. Bahkan manusia tidak memiliki kemampuan untuk menghitungnya kenikmatan yang ia terima.Kenikmatan yang merupakan anugerah Illahi sungguh tiada terbilang.Sekiranya seluruh bahan besi di dunia ini dijadikan pena dan seluruh air di lautan dijadikan tinta, tiada akan pernah cukup untuk menuliskan kenikmatan-kenikmatan yang manusia terima dan rasakan dari lahir hingga akhir hayatnya. Adapun yang baru kita rasakan hanyalah yang ada di bumi dan sekitarnya itupun tidak habis-habis. Untuk kita uraikan Allah berfirman "(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit,lalu Dia hasilkan dengan (hujan)  itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah,padahal kamu mengetahui (QS- al-Baqarah 22). Demikianlah ini menjadi bukti yang nyata betapa Allah SWT sangat memberikan perhatian bagi kesejahteraan umat manusia. Perhatian yang Allah berikan begitu detail,bahkan tidak semua bisa kita pikirkan satu per satu. Untuk mengambil hikmahnya. Namun,sayangnya manusia cenderung lupa dan khilaf.Ia menjadi sombong, takabur, tidak menyadari bahwa betapapun keras ikhtiar yang ia lakukan tidak pernah terwujud tanpa adanya izin dari Allah SWT. sebagai Dzat yang Mahakuasa.

Sangatlah pantas umat manusia pada umumnya dan umat muslim pada khususnya bersyukur atas berbagai nikmat yang diterima.Allah SWT berfirman "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan,sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,tetapi jika kamu mengingkarinya  (nikmat) Ku,pasti azab-Ku sangat berat" (QS Ibrahim ayat 7).

 

*)Penulis adalah Guru Besar FH Unbari,dan anggota pengajian Kumpeh Daarut Tauhid (KDT) Muaro Jambi.