Begini Penampakan Frenggen Tenggelen, Anggota KKSB Pembakar Helikopter

Selasa, 13 April 2021 - 06:44:24 - Dibaca: 586 kali

Google Plus Stumbleupon


Anggota KKB Frenggen Tenggelen salah satu pelaku pembakar helikopter di Bandara Ilaga. (Antara)
Anggota KKB Frenggen Tenggelen salah satu pelaku pembakar helikopter di Bandara Ilaga. (Antara) / Jambi Ekspres Online

JAKARTA- Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Papua membakar helikopter Cooper, Minggu malam (11/4). Helikopter milik PT. Ersa Air itu sedang dalam perbaikan di Bandara Aminggaru Ilaga, Kabupaten Puncak.

Dalam peristiwa tersebut, pasukan TNI-Polri sempat terlibat baku tembak dengan KKSB. Kasatgas Humas Ops Nemangkawi Kombes M Iqbal Al Qudussy mengatakan, aparat TNI-Polri sudah mengetahui anggota KKSB pelaku pembakaran.

Pelaku dikenali sebagai Frenggen Tenggelen, Abu Bakar Kogoya, Lerymayu Telenggen, dan Numbuk Telenggen. Iqbal menyampaikan, saat ini pasukan TNI-Polri pun sedang memburu kelompok tersebut. “Kami akan menindak tegas KKB yang melakukan aksi brutal di Ilaga,” tegas Kombes Iqbal dalam keterangannya dilansir dari Antara, Senin (12/4/2021).

Keempat pelaku dimaksud, sambungnya, sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pasukan TNI-Polri. Karena itu, pihaknya berjanji akan menindak tegas para pelaku.

Sebelumnya, kekejian KKSB Papua juga telah menelan korban jiwa, pekan lalu. Korbannya yakni dua orang guru di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak. Pertama, Oktovianus Rayo, 42, ditembak pada Kamis (8/4). Sedangkan Yonathan Rande ditembak sehari setelahnya.

Parahnya, KKSB beralasan bahwa itu dilakukan karena dua guru yang menjadi korban itu adalah intel. Usai menghabisi dua orang guru, KKB juga membakar tiga bangunan sekolah.

Itu dilakukan karena KKB sudah tidak lagi kebagian dana Otonomi Khusus (Otsus) dari pemerintah daerah. Hal itu menyusul larangan tegas Kemendagri kepada kepala daerah yang menyalahgunakan dana Otsus Papua. KKSB juga memfitnah Mendagri Tito Karnavian dengan menyebut mantan kapolri itu akan menghabisi masyarakat asli Papua.

Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa dana otonomi khusus dari pemerintah sangat melimpah, untuk membangun Papua. (*)

Sumber: www.jawapos.com