Chapter 17: “Samuel & Sekeping Kenangan”

Until Today

Selasa, 04 Mei 2021 - 05:45:43 - Dibaca: 260 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Soheila mecebikkan bibinya kesal, dirinya tidak suka dibuat menunggu. Jika saja, Soheila tidak menyayangi orang yang kini tengah membuatnya menunggu Soheila tidak akan sudi berdiam diri begitu lama dalam kebosanan. Hingga akhirnya, orang yang Soheila tunggu sedari tadi datang.

“Lama menunggu manis?” Tanya Samuel, pria yang kini Soheila tunggu, teman yang sekaligus merangkap menjadi kekasihnya beberapa bulan terkahir.

Soheila memutar matanya malas, untungnya saat ini bukan musim dingin, jika saja ini musim dingin dan laki – laki yang dihadapannya saat ini membuatnya begitu lama menunggu, mungkin saja salah satu koleksi high heels dirumahnya akan melayang ke kepala Samuel.

“Kau!” tunjuk Soheila, “APA AKU TIDAK BISA SEKALI SAJA UNTUK TIDAK TERLAMBAT HAH!” teriak Soheila menggebu – gebu.

Untung saja Soheila dan Samuel berada di rooftop kafe yang isinya hanya mereka berdua. Saat ini kota Quebec tengah berada di bulan juli yang berarti tengah mengalami musim panas. Minim sekali pengunjung yang akan memilih berpanas – panasan seperti Soheila dan Samuel saat ini di tengah teriknya matahari.

“Astaga, maafkan aku manis. Bahkan aku berusaha untuk selalu tepat waktu, dan selalu saja ada yang menghambatku.” Jelas Samuel, meraih salah satu tangan Soheila mengelusnya sebagai upaya bujukan agar Soheila memaafkannya.

“Kali ini apalagi alasanmu?!” Tanya Soheila ketus,

“aku harus mengantarkan seorang anak kecil bersama neneknya ke rumah mereka karena neneknya tidak sanggup berjalan lagi.” Jelas Samuel dengan suara yang lebih lembut, masih terus mengusap lembut tangan Soheila.

“Hufft,” Soheila mengembuskan nafasnya lelah, menatap Samuel dengan lekat. Wajah Samuel terpahat sempurana, mata hijaunya, kulitnya yang seputih susu, dengan proposi wajah yang sempurna membuat Samuel menjadi gambaran Visual sebenarnya.

Samuel merupakan keturunan Kanada asli, namun sifatnya tidak menggambarkan seperti rumor yang dikabarkan bahkan sampai negera lainnya juga ikut tahu, bahwa kanada dikenal dengan orangnya yang tidak peduli dan cuek terhadap sekitarnya.

Samuel terlalu peduli, awalnya Soheila tidak ingin percaya alasan di balik keterlambatan Samuel selama ini. Hingga dirinya memutusakan sendiri untuk menguntit Samuel di hari yang sama mereka berjanji untuk berkencan. Samuel tidak bohong, ia selalu membantu orang yang sekiranya ia lihat membutuhkan pertolongan. Bukankah Samuel terlalu sempurna?

“Maafkan aku,” Sesal Samuel,

“Baiklah, ayo pergi, aku tidak ingin kehilangan tempat nanti di festival,” Ajak Soheila, mendengarnya Samuel tersenyum, mengelus kepala Soheila lau mengenggam tangan Soheila, dan akhirnya mereka pergi menuju festival musim panas.

Festival musim panas merupaka festival music 11 tahunan yang dimulai kamis pertama di setiap bulan juli, Soheila tidak ingin melewatkan kesempatannya untuk menonton dan menikmati seluruh genre music terutama music klasik dan francophone. Soheila memandang takjub, pangung – panggung terlihat tersusun, ribuan manusia berkumpul dalam satu tempat, eufhorianya yang dirasa sungguh membuat Soheila takjub.

Samuel turut bahagia melihat Soheila bahagia, Samuel menarik Soheila ke sisinya, dengan ribuan manusia diantara mereka, Samuel tidak bisa menjamin bahwa tidak ada orang yang akan berniat jahat pada Soheila. Dengan lembut Samuel merengkuh pinggang Soheila, menjauhkan Soheila sedikit dari orang – orang yang hiruk pikuk. Samuel menjadikan dirinya sebagai dinding pembatas antara Soheila dengan orang lain.

Gema music riuh oleh manusia, setiap inci dari tubuh mereka turut bergerak berpartisipasi memeriahkan megahnya acara tak terkecuali Soheila dan Samuel. Euphoria yang tak tertanda meruak ke permukaan, memberikan sensasi panas sekaligus perasaan membuncah pada setiap insan manusia.

Jarak Soheila dan Samuel terkikis tanpa mereka sadari, hanyut dalam suasana yang ada. Samuel memeluk Soheila, menyembunyikan dirinya dibalik ceruk leher Soheila dan mencium rakus aroma Soheila yang menenangkan untuknya dan sapuan lembut diberikkanya di punggung Soheila. Tatapan Soheila dan Samuel beradu setelahnya, berusaha mengungkapkan perasaan masing – masing melalu tatapan mereka, Soheila tahu, begitupula Samuel. Mereka adalah candu, obat sekaligus penyakit, bahagia sekaligus sakit bagi satu sama lain. (*)

Bersambung