Chapter 2: “Peristiwa Kirana”

Behind: Impossible

Selasa, 01 Juni 2021 - 21:26:05 - Dibaca: 468 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

 

“Berusaha menjadi sempurna itu tidaklah salah, hanya saja jeda untuk berbenah kadang harus ada agar tahu bahwa hal itu, sepenuhnya sudah terlalu salah.”

-KekendanKepeduliannya

Pekerjaan Keken selesai tepat pukul 12 malam begitupula dengan Mala, karyawan kantorpun sudah tidak terlihat lagi, keculi beberapa orang dari divisi keuangan meningat ini akhir tahun pastinya mereka sibuk merincikan dana anggaran perusahaan selama setahun terkahir ini. Seketika Keken dan Mala merasa lega, divisi mereka tidakpernah berkejaran dengan waktu bahkan hampir di setiap sabtu Divisi humas tidak memiliki pekerjaan sama sekali, ini semua juga berkat Danu yang selalu mempercepat deadline pekerjaan mereka, walau mereka harus mengerahkan seluruh emosi dan tenaga mereka akibat tuntutan Danu setidaknya itu setimpal dengan apa yang mereka dapatkan di akhir pekan.

Keken menunggui Mala menunggu jemputan dari kakak Mala, karena tidak etis rasanya membiarkan Mala untuk pulang sendiri alhasil Keken menungguinya. Bagaimana dengan Keken sendiri? Tidak perlu khawatir, jarak kos – kosan Keken dan kantor sangatlah dekat, hanya berjarak 100 meter dan Keken hanya perlu berjalan kaki untuk pulang, lagipula banyak toko yang masih buka di sepanjang jalan menuju kos – kosan, membuat Keken tidak terlalu khawatir karena ia masih ada pada keramaian.

15 menit menunggu, akhirnya Mala dijemput, dan Keken bergegas menuju kos-kosannya. Keken berjalan dengan riang, walau lelah setelah bekerja, semangat Keken tidak pernah surut apalagi saat ia kembali ke kamar dan bergelung di kasurnya, rasanya membayangkannya saja membuat Keken sangat semangat.

Namun niat Keken harus berhenti kala melihat Kirana dengan seorang laki – laki yang Keken yakin usianya sama dengan ayahnya di kampung. Mungkin jika sekilas, orang – orang akan mengira Kirana berjalan dengan ayahnya, namun hal tidak senonoh serta gerakan intim yang mereka lakukan, membuat Keken yakin itu bukanlah ayah Kirana. Dan Apa – apan itu, berani – berani sekali laki – laki hidung belang itu menyentuh Kirana sesukannya, membuat Keken kesal dan tak bisa tinggal diam.

“Dasar lelaki jaman sekarang, bahkan sudah tua Bangka pun masih nggak tau batasan!” gerutu Keken pelan sambil menggulung lengan kameja kerjanya dan menarik sedikit rok spannnya agar sedikit lebih leluasa bergerek, tak lupa melepaskan heels yang ia pakai.

“MINGGIR BRENGSEK!” Teriak Keken sambil berlari kearah pria tua yang bersama Kirana tersebut dan meninju wajah pria tersebut.

“Heh, Kakek tua bangka! Nggak sadar ya itu badan udah bau tanah juga, masih aja main perempuan!” ujar Keken kesal kembali memberi bogem mentah pada wajah pria tua tersebut.

“Banyakin amal sana, udah tua juga. Ingat tuh istri di rumah, udah dikasih makan belum!” Teriak Keken kesal lagi sambil mendorong pria tersebut agar tak bangkit dari tanah akibat terjatuh karena menerima pukulan Keken.

“Stop! Stop! Stop!” ujar Kirana, berusaha melerai Keken dan menjauhkannya dari pria yang tadi bercumbu dengannya tadi.

Dengan bantuan Kirana, pria tua tersebut bangkit berdiri dengan memeluk pinggang Kirana. Keken yang melihatnya tidak tinggal diam, dengan kasar Keken menarik Kirana ke belakangnya menjauhkan Kirana dari pria tua yang terus mengambil kesempatan menyentuh tubuh Kirana. Keken melayangkan satu tendangan ke perut pria tersebut, membuat pria tua tersebut tersungkur. Kali ini Keken tidak main – main dengan amarahnya, seolah tidak mengasihani bahwa pria tersebut sudah paruh baya, Keken menghajarnya habis – habisan, cukup puas barulah Keken berhenti.

“Heh! Kakek tua! Lo itu udah tua! Sadar diri Sana! Apa lo nggak punya anak cewek apa! ” Teriak Keken sarkas di depan pria yang sudah tergeletak tidak berdaya tersebut. “Lu tau nggak sih cara ngehargain perempuan, lo tu ada karena peremuan, paham nggak sih!” teriak Keken lagi tak karuan dengan wajah yang memerah.

“Dipake tuh otak, bajingan banget lu, dasar manusia nggak sadar umur! Dan jangan berani – beraninya lagi lu temuin Kirana,” ujar Keken pelan dengan kekehan yang menyeramkan. Setelahnya Keken menarik Kinara pergi bersamanya, tanpa Keken sadari, aksinya di rekam dan di lihat oleh banyak orang.

Keken menarik Kirana ke tempat yang lebih sepi, keadaan Keken kacau namun dirinya lebih merasa prihatian dengan keadaan Kirana, baju mini yang menunjukkan setiap lekukan tubuh Kirana dan beberapa kissmarak yang terdapat pada bahu serta leher Kirana. Melihatnya, Keken mendengus dan melempar jaketnya kepada Kirana.

“Pakai!” suruh Keken dingin. Kirana menurutinya dalam diam, melihat sisi kejam Keken, membuat Kirana menciut dan hanya mengikuti arahan Keken.

Hening beberapa saat terjadi diantara Kirana dan Keken, dengan posisi Keken membelakangi Kirana. Kirana memberanikan dirinya untuk bicara, walau dengan nada yang sedikit bergetar, Kirana berusaha berbicara dengan nada bicara biasa ia gunakan pada Keken. Songong dan terlihat benar di atas segalanya.

“Lu apaan sih kak! Lu nggak berhak ikut campur urasan gue, dan kita itu cuma sebatas teman kerja. Teman. Kerja.!” Ujar Kirana sambil menunjuk Keken dan menekankan setiap kalimatnya.

Keken berbalik kala mendengar Kirana berbicara, setelah mendengar apa yang dibicarakan Kirana, Keken terkekeh dan tertawa, seiring dengan isak tangis Keken yang juga timbul membuat Keken terlihat seperti psikopat kejam yang siap membunuh siapapun. Melihat keadaan Keken, Kirana mundur perlahan, namun usahnya terhenti akibat dinding jalan.

“Kerja? Apa yang udah lo kerjain Kir?! Pernah kerja apa aja Lo sama gue?!” Ujar Keken dengan suara getir, “Lo tahu Kir, sejak awal gue kenal sama lo, gue nggak pernah suka sama lo, kelakukan lo, sifat lo, itu semua bikin gue muak!” Ucap Keken dengan suara yang bergetar menahan tangis.

“Kalo aja gue bisa, gue nggak mau ikut campur urusan lo, andai aja gue bisa, gue bakal biarin lo tetep sama bajingan tadi, tapi gue nggak bisa kir! Gue nggak bisa!” Ujar Keken emosi, entah mengapa mengingat Kirana dan bajingan tua tadi membuatnya kembali tersulut emosi.

“Gue punya adek kir, gue punya ibu, mereka perempuan Kir, dan gue juga perempuan Kir. Apa lo nggak pernah ngehargain diri lo sendiri? Bisa – bisanyalo ngebiarin bajingan tadi ngecumbu lo sesuka dia?! Otak lo dimana sih Kir!” Kali ini Keken menatap Kirana dengan raut tak terbaca, kecewa, marah, sedih, emosi bercampur aduk menjadi satu membuat Keken tak tahu bagaimana kali ini mengungkapkan apa yang Keken rasakan.

“Lo butuh apa Kir sampe lo ngejual diri lo sendiri, Uang? Nafsu? Atau apa Kir? Bilang ke gue, biar gue cariin kerja dibanding lo ngejual diri?!”

Kirana terisak mendengar perkataan Keken, Keken tidak salah, semua perkataan yang Keken lontarkan pada Kirana adalah kebenaran, namun entah mengapa mendengarnya membat Kirana tetap merasa sakit hati dan tersinggung, selama ini tidak ada yang peduli dan protes terhadap apapun yang Kirana lakukan, namun kali ini Kirana merasa tertempar dengan seluruh kalimat Keken.

Melihat Kirana mengangis, membuat Keken iba. Ah, terkadang menjadi orang yang terlalu peduli seperti Keken memang sangat merepotkan, namun dilain sisi Keken tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Dengan lembut Keken merengkuh Kirana, menepuk pelan punggung Kirana dan sesekali mengusap kepala Kirana lembut.

Setelahnya Keken mengajak Kirana pulang menuju kos-kosannya, untuk malam ini Keken akan mengalah pada egonya yang sejujurnya tidak terlalu menyukai Kirana. Walau menurutnya Kirana salah, Keken tidak dapat mengabaikannya begitu saja, Kirana sangat mirip dengan gambaran masa lalu Keken, karena Kirana, tanpa terasa luka lama kembali Keken rasakan untuk kesekian kalinya. (*)

Bersambung