Chapter 3: “Welcome to The New Kirana”

Behind: Impossible

Kamis, 03 Juni 2021 - 04:59:17 - Dibaca: 412 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

 

“Nggak ada yang aneh kok kalo ada orang yang berubah, yang anehnya itu ada aja orang yang ngekritik sama ngomentarinya, udah berasa dia yang paling sempurna taunya bukan apa – apa selain sampah”

-Mala

Tit Tit Tit

Suara alarm menedengung di seluruh pejuru kamar kecil milik Keken, dengan malas Keken menggapai alarmnya dan mematikannya. Tidak bisakah waktu berjalan sedikit lebih lambat agar Keken bisa merasakan lelapnya tidur, rasanya Keken lupa kapan ia terkahir kali bisa tidur dengan nyenyak.

Di kos – kosannya, Kamar Keken adalah kamar yang paling kecil dengan sebuah balkon. Walau kecil, Keken dapat membuat kamar itu terasa sangat nyaman, belum lagi balkon yang terhubung dengan kamar Keken menjadi nilai plus tersendiri bagi Keken. Kamar mandi juga tidaklah jauh dari kamar Keken, hanya berjarak dua kamar lain dari kamarnya, dengan malas Keken mengambil handuk mandinya yang tersampir di pembatas balkon namun dirinya terkejut mendapati sosok orang yang terlihat menyeramkan duduk lesahan di balkonnya.

“Astaga Naga, sumpag gue masih muda! Belum siap mati gue! Tolong jangan hantuin gue!” Oceh Keken berlutut sambil menutup matanya, takut tidak kuat melihat sosok makhluk di depannya.

Dengan kesal, Kirana melayangkan sandal yang ia pakai ke kepala Keken. “Ini Gue Kirana bego!” ujar Kirana kesal sebab disamakan dengan mahluk halus. Keken tidak salah, siapa yang tidak terkejut melihat Kirana dengan daster putih kumalnya dan rambut panjang yang sangat berntakan. Belum lagi Make up Kirana semalam, membuat wajahnya terlihat menyeramkan dengan eyeliner yang meleber kemana – mana dan lipstik yang tidak terlalu dibersihkan dengan benar.

Keken membuka sedikit salah satu matanya, takut – takut bahwa makluh yang mirip seperti kuntilanak jadi – jadian ini mengaku Kirana, dan untungnya itu benar Kirana yang kini tengah berkacak pinggang melihatnya dengan wajah marah. Segera Keken berdiri dari posisi berlutunya dan mengibaskan rambut sebahunya berusah mengusir sedikit rasa malunya.

“Ya manalah gue tau kalo itu lo! Lagian loh udah cocok tu jadi saudara kuntilanak jejadian di pohon pisang sana!” ucap Keken. Kirana yang mendengarnya mendengus kasar dan memutar bola matanya malas.

“Lo aja yang penakut, mana ada lagian hantu pagi – pagi buta begini. Tampang sih boleh iya, pemberani. Taunya, dih sama hantu aja takutnya udah kek mau mati!” sindir Kirana.

“Apa lo? Nggak seneng?! Ribut sini?!” Sewot Keken, Kirana beranjak pergi dari hadapan Keken namun sebelum itu dia mengambik handuk Keken dan berlari secepat kilat sambil berteriak,

“Gue pinjam barang lo dulu kak, bye, gue mau mandi!” Teriak Kirana sebelum menutup pintu kamar Keken dengan keras.

“Cih, ada butuhnya aja manggil gue kak,” rungut Keken, namun tak dapat dipungkiri ia senang melihat kelakukan Kirana, sangat mirip dengan dia yang membuat Keken tersenyum kecil kala mengingatnya.

***

Mala, Danu, Reno, Tsana, Doni, serta Sanu menatap heran pada Keken dan Kirana yang terlihat akur, bahkan terlihat sangat harmonis. Tatapan mereka berenam tidak berhenti menyelidik kepada Keken dan Kirana, seolah Keken dan Kirana adalah penjahat yang baru saja keluar dari penjara secara tiba – tiba.

“Kiamat udah deket ya?” Tanya Mala acak, mengingat betapa tidak mungkinnya Keken dan Kirana akan akur.

“Nggak tau gue, mungkin aja iya.” Jawab Doni. “Kayaknya Gue harus beli kacamata baru deh, mana tau mata gue salah lihat hari ini.” Ujar Sanu kembali mengecek kacamatnya tidak percaya terhadap pandangannya kali ini.

“San, coba lo Tanya kembaran lo, Danu kan matanya rada lebih bener dari lu.” Ujar Tsana menyuruh Sanu. Sanu dan Danu adalah saudara kembar tidak identik, banyak yang tidak mengetahu fakta tersebut belum lagi Sanu yang memakai kacamata membuat mereka berdua tidak ada kemiripan sama sekali.

“Gimana Dan?” Tanya Sanu, Danu mengangkat bahunya “Gue rasa meraka salah minum obat tadi pagi,” Komentar Danu yang membuat Sanu terpingkal. “Goblok lu Dan!” Ujar Sanu masih tertawa.

“Kek yang bilang nggak sadar diri aja lebih goblok,” Ujar Danu tersenyum evil, Sanu yang melihatnya memukul pundak Danu pelan, “Durhaka lo jadi Adek!” Ujar Sanu.

“Napa jadi lo berdua sih yang drama, loh liat tuh Keken ama si anak kucrut napa bisa gitu?” Ujar Mala kesal melihat Danu dan Sanu.

“Iya kanjeng ratu, laksanakan!” Ujar Sanu sambil membungkuk hormat. “Keliatan ya bucinnya San, padahal belum jadi siapa – siapa?” Komentar Tsana tiba – tiba.

“Apaan sih Tsuzana, Enakan lo urus tuh arwah – arwah gentayangan!” Sarkas Sanu mengelak terhadap komentar yang Tsana lontarkan.

“Mal, besok kalo si Sanu ngajakin lu nikah kagak usah mau, tolak aja langsung!” ujar Danu tiba – tiba, mendengarnya membuat Sanu memasang senyum masam. Pasalnya setiap orang yang berada di divisi Humas mengetahui bahwa Sanu sangat menyukai Mala, hanya saja Mala sangat tidak peka terhadap perasaan Danu.

“Gimana mau nikah, pacaran aja enggak” Ujar Mala.

“Jiyah…Kode tu San, Gas ajalah.” Sahut Doni yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

“Serius Mal?” Tanya Sanu.

“Apanya?” Tanya Mala balik bertanya bingung dengan Sanu, melihat Mala yang kebingungan membuat Sanu kembali memasang wajah senyum terpaksa.

“Untung sayang, kalo nggak pengen gue buang ke segita Bermuda saking nggak pekanya.” Ujar Danu pasrah mengungdang tawa puas dari yang lain.

Kirana mendekat kearah meja Mala yang kini tengah berkumpul seluruh bagian anggota Divisi humas kecuali Keken yang berada di meja kerja Kirana sedari tadi. Kirana berniat untuk memperbaiki segalanya, termasuk hubungannya dengan divisi humas yang lain. Walau dia mahasisiwi magang rasanya ia tetap harus melakukannya walau waktunya bekerja tidak lama lagi.

“Kak, ini ya daftar Artikel sama susunan teme buat blog minggu depan kak, kalo ada yang salah bilang aja kak, nanti Kirana coba revisi kak.” Ujar Kirana, Mala yang mendengarnya tersedak ludahnya sendiri dan segera bangkit dari duduknya memegang pundak Kirana.

“Kir lo diapain sama Keken? Lo di jampi – jampi, mendadak jadi baik gini?” Ujar Mala cepat. Danu, Sanu, Doni, Tsana, dan Reno menepuk jidat mereka masing – masing mendapati kejujuran Mala.

“Gue yakin nih, pas pembagian otak, nyokap Mala absen, jadi malanya nggak kebagain otak,” Ujar Reno tiba – tiba yang sedari tadi hanya diam dan mengamati.

Keken yang medengar kalimat Mala terkekeh pelan, geli dengan kelakukan teman – teman sekantornya, Keken bahkan sampai tidak habis pikir ulah teman – temannya ada – ada saja.

“Susah bener emang jadi manusia, baik salah, jahat salah, nggak ngapa – ngapain salah. Kalo gini enakan jadi batu keknya.” Dengus Kirana mendengar perkataan Mala.

“Udah beneren di jampi nih sama Keken,” Ujar Danu, “Nggak apa – apa guys, akhirnya setan nyebelin yang ada di Kirana udah musnah.” Sambung Reno.

“WELCOME TO THE NEW KIRANA!” Ujar Doni bersorak heboh dengan gaya ala – ala host memperkenalkan seorang Miss Universe.

Sejujurnya Kirana sedikit tersinggung dengan seluruh perkataan anggota divisi humas, tidak menyangka bahwa satupun dari mereka tidak ada yang menyukainya selama ini. Jadi apa yang selama ini mereka lakukan adalah sebuah kepura – puraan, Kirana tidak menampik keadaan bahwa beberapa kali ia sering mendapati raut tidak senang pada setiap anggota divisi humas namun tertupi dengan senyum mereka, Kirana menyesal namun ia tidak bisa melakukan apa – apa.

Kirana sedikit terkejut kala Tsana dan Mala memeluknya, “Welcome to the new Kirana!” Ujar Tsana dan Mala bersemangat, “manusia nggak ada yang sempurana,” Lanjut Mala, “Dan kita harus selalu tau dan nerima kalo kesempatan untuk berubah itu ada pada orang yang berusaha.” Sambung Tsana lagi dengan tawa bahagia bersama Mala.

Sedang Reno, Doni, dan Sanu turut heboh dengan mengahambur – hamburkan kertas – kertas sisa sisa pekerjaan mereka yang sudah terpotong kecil ke atas kepala Kirana, mendapatinya Kirana hanya tertawa, Kirana sadar selama ini matanya terlalu tertutup untuk tahu bahwa banyak orang baik di sekitarnya. Dari meja Mala Kirana menatap Keken dengan sebuah senyuman tulus yang dibalas Keken dengan acungan jempol serta tawa yang bahagia.

Danu mendekati Keken, tersenyum pelan dan memeluk Keken yang duduk di kursi kerja Kirana, Keken membalas pelukan Danu hangat. Danu selalu pintar mencari kesempatan, saat seluruh fokus orang teralihkan, barulah Danu beraksi dengan aksinya.

“Kali ini apa yang Lo lakuin?” Tanya Danu Kalem.

“Nothing special,” Jawab Keken sambil tersenyum manis. Keken dan Danu melepaskan pelukan mereka cepat kala anggota lain mulai berhenti menjahili Kirana, tanpa Keken dan Danu sadari ada sepasang mata yang menatap mereka penuh arti.

  Bersambung