Chapter 5: “Romansa berujung Tragedi”

Behind: Impossible

Sabtu, 05 Juni 2021 - 07:14:12 - Dibaca: 387 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

“Jangan terlalu nggak suka sama seseorang, sekalinya suka bisa berabe, ya kalo nggak malu paling makan hati”

-Kirana

Danu tengah merampungkan beberapa pekerjaannya sebagai kepala Divisi Humasa di kantornya, sesakali Danu memejamkan matanya dan memijit pelipisnya pela, pusing dengan banyaknya pekerjaan yang ada bersamaan dengan lelahnya tubuh dan matanya yang terus duduk dan menatap layar komputernya. Danu menghembuskan nafasnya lelah, dan merebahkan dirinya di sofa ruang kerjanya sebagai kepala Davisi humas.

Di tatapnya langit – langit ruang kerjanya, Danu bukanlah sosok perfeksionis seperti apa yang dibicarakan orang – orang tentangnya. Danu hanya tidak bisa menghindar, keadaan memaksanya untuk menjadi sosok yang maha sempurna, tuntutan setiap harus selalu diterimanya, menjadikan Danu seorang sosok yang harus serba ada dan serba bisa atas segalanya.

Belum lagi, Danu dibesarkan di keluarga yang menjadikan prestasi segalanya dan meuhankan kesempurnaan, sedang kegagalan adalah sebuah dosa serta aib yang tak boleh terjadi. Belum lagi, memberontaknya kakak sekaligus kembarannya, Sanu. Membuat Danu menjadi satu – satunya tumpuan. Jika saja bisa, Danu ingin menjadi seperti Sanu, membuat kehidupannya sebebas mungkin tanpa sebuah pemahaman yang mengatasnamakan aturan di atas segalanya.

Menjadi kepala Divisi Humas bukanlah pekerjaan utama Danu, Danu bekerja sebagai salah satu agen kepolisian yang sedang menyusut salah satu sebuah kasus yang berkaitan besar dengan perusahaan yang sekarang Danu tempati. Danu mengikuti segala prosedur untuk memasuki perushaan itu, tidak akan ada yang menyadari bahwa Danu adalah seorang agen kepolisian rahasia kecuali mereka yang juga ikut terlibat di dalamnya.

“Tringgg, Tringg, Tringgg”

Dering telpon Danu menyadarkan Danu dari lamunannya, terlihat tulisan Keken is Calling di ponselnya membuat Danu mengernyit bingung, tidak biasanya Keken menelponnya siang – siang begini dan belum lagi bukankah Keken yang selalu mewanti – wanti agar mereka tidak terlalu tampak berinteraksi.

“Halo,” Sapa Danu.

“Halo Dan,” Sapa balik Keken, “ Lo tahu Dan, gue lagi pengen banget Pizza yang ada di deket kosan gue, tolong pesenin ya nanti malam jam tujuh, kalo bisa sekarang juga nggak apa apa – tapi jangan lupa buat panasin di kamar kosan gue, dan oh ya jangan lupa bilang Kirana kalo gue pulang terlambat atau nggak pulang sama sekali, soalnya gue lagi sibuk kerja nih, kalo sebelum jam tujuh gue udah pulang kita makan bareng, tapi kalo udah lewat jam 7 gue belum pulang, ada sisa nasi goreng tadi pagi di kamar di kulkas gue harap lu datang buat manasin dan bantuin Kirana di kamar kos gue, makasih Dan, udah dulu ya.” Jelas Kirana tiba – tiba secara panjang lebar. Dan nada putus dari operator telepon menjadi pengakhir dari obrolan Danu dan Kirana, bahkan sebelum Danu mengatakan sepatah kata apapun.

Hingga akhirnya Danu menyadari bahwa itu adalah Kode bahaya dari Keken, bukankah Danu sudah mengatakan bahwa Danu bukanlah satu – satunya yang menjadi agen kepolisan secara rahasia di perusahaanya, jika ada yang lain maka itu adalah Keken, belum lagi Keken memiliki dendam tersendiri terhadap orang – orang yang terlibat dalam kasus yang mereka tangani kali ini.

Dengan panik, Danu segera menuju kamar Kosan Keken, Danu yakin ada hal penting yang Keken lindungi di kamarnya, belum lagi Keken memberi kode bahaya bahwa bisa saja kali ini nyawanya terancam mengingat Keken meminta bala bantuan dengan jika Keken belum kembali sesudah jam tujuh.

Danu mengendarai motornya ugal – ugalan, beberapa sumpah serapah ia terima dari pengguna jalan lain, setelah sampai Danu memarkir motornya sembarang di halaman kos-kosan Keken dan berlari memasuki kamar kosan Keken dengan tergesa – gesa, bahkan Danu tidak melihat orang – orang yang tak sengaja ia tabrak selama ia berlari, tanpa pikir panjang Danu segera mendobrak pintu kamar kosan Keken namun aksinya gagal kali pintu kamar Keken dibuka dari dalam secara kebetulan membuat Danu terjatuh dan berkahir dengan wajahnya yang harus menicum lantai.

“Astaga!” Kaget Kirana yang membuka pintu Kamar Keken dari dalam.

“Ouch,” Rintih Danu sambil berusah berdiri, Keken tak berniat sama sekali untuk membantu Danu berdiri karena ia belum menyadari bahwa itu adalah Danu.

“Kak Danu?” Tanya Kirana bingung.

“Kirana?” bingung Danu, karena setahunya ini adalah kamar kosan Keken.

“Lo tinggal disini?” Tanya Danu lagi setelah berdiri dari jatuhnya.

“Iya,” Jawab Kirana bingung.

“Tapi kan ini kos-kosanya Keken.” Ujar Danu lagi.

“Terus?” Heran Kirana, pasalnya tingkah Danu kali ini menyebalkan baginya.

“Jangan – jangan lo yang udah ngancem Keken,” Tuduh Danu, “nggak nyangka kelakukan lo picik banget.” Lanjut Danu lagi.

“Heh! Enak aja lo nuduh – nuduh ngapain juga gue gangguin kak Keken!” teriak Kirana kesal.

Tanpa memedulikan Kirana, Danu segera mendorong Kirana keluar dari kamar kos Keken dan mengusirnya.

“Lo pasti udah ngancem Keken, pergi lo!” Usir Danu masih terus berusaha mendorong Kirana yang memberontak untuk tetap masuk kembali ke Kamar.

“kan udah gue bilang gue tinggal disana, ngeyel lo jadi orang!” Bantah Kirana masih terus berusaha masuk kembali ke kamar kosan dengan terus menahan serta mendorong pintu agar tidak tertutup.

“KELUAR!” Teriak Danu,

“NGGAK!” Balas Kirana dengan teriakan yang tidak kalah keras dari Danu.

Cup

Dengan Tenaga terkahirnya Kirana mendorong pintu sekuat tenaga dengan tidak sengaja menginjak kaki Danu, Danu yang merasa kakinya sedikit sakit karena injakan Kirana membuatnya lengah dalam menahan pintu yang berusaha ia tutup dari tadi. Karena sama – sama tidak memiliki keseimbangan membuat Danu dan Kirana terjatuh secara bersamaan dan sebuah ciuman yang tak terduga terjadi di antara mereka, romansa dengan ujung tragedi (*)

Bersambung