Chapter 7: “Salah Paham”

Behind: Impossible

Rabu, 09 Juni 2021 - 08:38:37 - Dibaca: 354 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

 

“Salah paham itu peristiwa tanpa alasan. Seperti sebuah kisah khayalan, yang kadang tak masuk akal. Dia ada, diceritakan, namun sulit dipercaya, apa itu nyata dan benar adanya?”

-Keken

Keken menatap kesal pada dua orang yang dihadapannya kini tengah menguarkan aura permusuhan, Kirana dan Danu. Keken tidak tahu apa yang tengah terjadi antara Kirana dan Danu, dan Keken tidak tertarik untuk mengetahuinya. Hanya saja, jika mereka melbatkan hal –hal yang terkait dengan dirinya atas dendam pribadi masing – masing membuat Keken tak habis pikir. Pasalnya kini kamar kos-nya tampak tidak lebih baik dari gudang tua yang tidak terawat.

Buku – buku kesayangan yang selalu Keken rawat melebihi dirinya sendiri kini terlempar di beberapa tempat, Keken yakin beberapa halaman bukunya akan robek melihat betapa mengenaskannya nasib buku – bukunya. Kasur, bantal dan selimut bahkan sudah ada yang terlempar hingga ke luar balkon dan beberapa busa serta kapas tersisa yang hampir memenuhi langit – langit kamar Keken, yang Keken yakini berasal dari robekan bantal, mungkin.

Jika saja Keken bisa, Jika saja bisa, Keken ingin sekali menenggelamkan Kirana dan Danu di dasar laut terdalam samudra Pasifik, pasalnya Keken harus dibuat pusing dengan tingkah kekanakan mereka berdua yang tiba – tiba.

Keken menghembus nafas lelah, dirinya tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi kini di antara Kirana dan Danu. Ingin bertanya rasanya juga tidak tepat, pasalnya sepertinya ini masalah serius hingga Danu dapat semurka itu dengan membuat kamarnya kacau balau. Jika itu Kirana, Keken akan memakluminya, karena pada dasarnya sifat Kirana memang manja dan suka seenaknya namun ini Danu, yang sulit untuk dipercayai Keken. Danu si perfeksionis yang menginginkan segalanya maha sempurna kini malah menjadi si penghancur. Boleh Keken bertanya apa saat ini matahari tengah terbit dari barat?

“Jadi, lu berdua pada ngapain di kamar gue? Apa gue lagi ganggu acara syuting adegan panas makanya kamar gue jadi gini?” Tanya Keken dingin dengan tatapan menyelidik. Awalnya Keken tak ingin menaruh curiga, namun melihat penampilan Kirana dan Danu yang sedikit berantakan membuat Keken tetap harus waspada pada hal yang tidak dinginkan.

Danu memutar bola matanya malas, “Gue bakal mikir ribuan kali biau ngelakuin itu dan seandainya juga iya, gue pastiin nggak sama dia” Ujar Danu sambil menunjuk Kirana,

“Lo pikir,lo siapa? Dih, jangankan mau ngelakuin itu sama lo, liat muka lo sekarang aja gue jijik! Paham nggak lo?!” Balas Kirana tak mau kalah.

“Siapa juga yang mau sama lo?” Sarkas Danu kesal sambil berkacak pinggang.

Merasa diremehkan Kirana juga memegangi pinggangya dan mendongkak terhadap Danu, Kirana tak setinggi Danu, terpaksa Kirana harus mendongkak kepalnya untuk melihat Danu.

“Cari mati lo!” Ujar Kirana, melihat Kirana yang kesusahan mensejajakan tingginya membuat Danu tak membuang kesempatan dengan senyum sinisnya Danu berucap, “Mana yang ngomong? Nggak keliatan orangnya? Mana?!”

Mendengar perkataan Danu membuat Kirana merasa diremehkan, dengan kesal Kirana menarik rambut Danu membuat Danu berteriak kesakitan sambil berusaha melepas cengkraman tangan Kirana pada rambutnya.

“Rasain lo! Bisa – bisanya cowo kek lo mulutnya lebih lemes dari cewek!” Ujar Kirana sambil terus menarik rambut Danu.

“Yak, lepas rambut gue bego!” Perintah Danu, rasanya beberapa helai rambut Danu sudah rontok dan Kirana tidak main –main kuatnya menarik rambutnya membuat Danu semakin kesakitan.

Keken yang melihat aksi pertengkaran Danu dan Kirana hanya menarik nafas pelan, meredamkan segala emosi yang kini ia rasakan. Setelah tenang, dengan sigap Keken mengambil salah satu bukunya yang tergeletak tidak jauh dengannya. Dengan tebal 400 halaman, Keken rasa cukup untuk menyadarkan keduanya. Dengan sigap Keken memukulkan buku itu kuat pada Danu, lalu Kirana dengan kekuatan yang tidak seberapa.

BUGH

Bugh

“ARGH” Teriak Kirana dan Danu bersamaan. Merasa kesal setelah dipukul dengan kompak Kirana dan Danu mencari pelakunya dan melihat Keken dengan senyum menyeremkan melihat mereka sambil mecengkram bukunya pelan.

“Satu pukulan lagi nggak akan berasa apa apa nih keliatannya,” Ujar Keken kini mengelus buku yang tadi ia gunakan untuk memukul Kirana dan Danu.

Kirana dan Danu yang tadinya ingin marah, mengurungkan niat mereka melihat Keken yang tersenyum dengan aura menyeramkannya.

“Damai,” Ujar Kirana dan Danu serentak.

“Kalo sampai 2 jam kedepan kamar gue belum balik ke semula, gue harap lo berdua bakal ngerti sama apa yang bakal gue lakuin nanti!” teriak Keken.

“Siap, Laksanakan!” Ucap Kirana dan Danu bersamaan segera membersihkan kamar kos Keken yang mereka Kacaukan, ditatap Keken dengan senyuman sudah cukup menyeramkan jangan sampe mereka melihat apa yang ingin Keken lakukan nanti pada mereka.

***

“Dan, pelnya kurang keset nih!”

“Kirana. Bisa yang bener nggak sih nyusun bukunya!”

“Dan, sapunya jangan nanggung – nanggung, Sini!”

“Jangan dibuang kesana!”

“Jangan simpan disini!”

“STOP!” Teriak Keken kesal, sungguh dirinya menyesal menyuruh Kirana dan Danu untuk membersihkan kamarnya. Hampir semua yang mereka lakukan tidak ada yang selesai dengan benar,

Kirana dan Danu yang deteriaki oleh Keken segera mematung di tempat, bukanya apa – apa. Hanya saja Kirana dan Danu merasa menyesel setelah apa yang mereka lakukan.

“Dan, lo bisa pulang sekarang juga” Usir Keken pada Danu, “Dan lo Kirana bisa lo beresin bagian balkon, biar sisinya gue aja.” Lanjut Keken pada Kirana.

“Tapi Ken,” Sangkal Danu, sebelum Danu selesai mengucapkan kalimatnya Keken menatap Danu memohon.

“Please Dan, gue yakin yang ada kamar gue bakal makin Hancur kalo lo lebih lama disini.” Ujar Keken memelas.

Danu yang melihatnya semakin tidak enak pada Keken, “Maafin gue,” Sesal Danu dan memeluk Keken lembut setelahnya.

“Ya, nggak mungkin juga nggak gue maafin.” Jawab Keken sambil tertawa kecil di pelukan Danu, Kirana yang melihat Danu dan Keken hanya memutar bola matanya jengah.

“Modus terus, dasar mata keranjang!” Sindir Kirana.

“Kenapa?! Pengen Lo!” Kesal Danu.

“Ogah, jijik banget gue!” Gidik Kirana, membayangkan berpelukan bersama Danu membuatnya seolah tengah menyentuh hewan melata yang menurut Kirana sangat menjijikan dan sangat tidak dia sukai.

“Apa lo!” Balas Danu dan memeluk Keken lebih erat seolah memanas – manasi Kirana yang kini memasang ekspresi ingin muntah.

Kirana yang tadinya berniat membalas Danu melupakan niatnya. Kirana melihat kedatangan Mala dan Sanu yang pastinya juga melihat adegan pelukan antara Keken dan Danu, walau harus mengorbankan Keken, Kirana membiarkan Mala dan Sanu melihat pelukan antara Keken dan Danu, dengan begitu akan ada kesalapahaman yang menimpa Danu.

Haruskah Kirana ingatkan tentang bermusahan dengannya, tak seorang pun musuh Kirana yang akan lolos dengan mudah darinya, jika mereka tidak memberi nyawa sebagai pengampuan, maka biarkan Kirana yang bermain dengan membuhuh musuhnya secara perlahan.

Danu menyimpannya terlalu rapat, namun Kirana tahu apa yang paling di sembunyikan Danu dari segala orang. Danu takut dengan kesalahpahaman, julukan ‘Kupu – kupu penderitaan’ bukanlah tanpa alasan di berikan kepada seorang Kirana. Karena tidak ada yang lebih kejam darinya saat membuat seorang menderita yang nantinya meminta kematian lebih layak dari segalanya.

“Gotcha!” Bisik Kirana pelan dengan tersenyum Devil melihat Sanu dan Mala yang terkejut melihat Danu dan Keken.

“Da- a- Danu,”

“K- ke-keken,”

Bersambung