Chapter 8: “Tokoh Utama Peristiwa”

Behind: Impossible

Kamis, 10 Juni 2021 - 16:28:40 - Dibaca: 307 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

“Beberapa hal terkadang ada tanpa sebuah alasan, terjadi hanya kerena sebuah kebetulan. Dan sesuatu yang terjadi karena kebetulan adalah banyak hal tentang kejutan”

Keken menatap bingung pada situasi yang dia hadapi sekarang, Mala dan Sanu yang terkejut hanya karena sebuah adegan pelukannya dengan Danu yang terjadi, Danu yang tiba – tiba pucat dan menjadi pendiam sepeti patung begitu saja setelah kedatangan Mala dan Sanu serta Kirana yang menikmati apa yang terjadi terhadapa Danu.

“Boleh gue Tanya?” Tanya Keken acak, untuk mendapatkan kembali kewarasannya maka Keken harus mempertanyakan keadaannya saat ini.

“Gue waras? Tanya Keken lagi, Mala dan Sanu yang mengernyit bingung kerena pertanyaan Keken tidak menjawab, Kirana hanya tertawa merespon Keken, sedang Danu, masih bertahan bercosplay menjadi patung.

“Kak Keken dan Kak Danu Cuma pelukan tanpa ada apa – apa, sebatas maaf dan pelukan penenang aja.” Ujar Kirana tiba tiba, membuat Mala, Sanu dan Keken menatapnya bingung.

Melihat tatapan bingung itu Kirana melanjutkan perkataanya, “itu penjelasan untuk Kak Mala sama Kak Sanu, karena ada orang yang bakal tetep ngecosplay jadi batu kalo menurut dia itu masih salah paham sama orang yang ia tuju.”

Mala dan Sanu yang mendengarnya hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Kirana, sedang Danu yang mendengarnya menghela nafas lega melihat Mala dan Sanu tidak menatapnya dengan sorot terkejut lagi. Danu bahkan tidak bisa merasakan tubuhnya untuk beberapa saat memikirkan bagaimana dirinya harus menjelaskan pelukan tadi terhadap Mala dan Sanu.

“Biasa aja kali Kir, Awalnya kita emang kaget soalnya jarang banget gitu liat Danu sama Keken akur, apalagi Keken sering banget ngehujat Danu di kantor kalo dikasih kerjaan.” Ucap Mala.

“Kalo dipikir – pikir juga nih ya, nggak aneh kok kalo Danu sama Keken peluk gitu doang, gue sama mala juga bisa nih, biasa aja.” Sambung Sanu yang langsung memeluk Mala.

“Sanuu, Lepas ih, gerah tau!” Keluh Mala, karena Sanu terus memeluknya erat.

“Modus terus San, kapan gasnya?” sindir Keken. Sedang Mala yang mendengar perkataan Keken, menatap Keken bingung.

“Sabar, ini juga lagi manasi, biar ngegasnya lancar entar.” Jawab Sanu sambil memperbaiki kacamatanya yang sedikit meluncur dari hidungnya.

“Kalian lagi bahas motor?” Tanya Mala.

Keken dan Sanu yang mendengar Mala tertawa lepas. Sedikit prihatin terhadap tingkat kepekaan Mala yang benar – benar tidak masuk akal, rasanya gelagat Sanu yang menyukai Mala bahkan sudah sangat terang – terangan hingga satu kantor pun tahu bahwa Sanu menyukai Mala, sedang Mala sendiri malah tidak peka terhadapa perasaan Sanu.

“Sedih banget sih hidup lo San, iya nggak Nu?” Tanya Keken pada Danu, namun orang yang dimaksud malah tidak ada.

“Danu?” panggil Keken, karena tidak biasanya Danu tidak menyahuti perkataanya. Keken melihat sekelilingnya, tidak ada Danu dan juga Kirana.

“Loh, Danu sama Kirana mana?” Tanya Keken pada Sanu dan Mala, “Ada yang liat mereka?” Tanyanya lagi,

“Nggak, gue aja baru sadar kalo mereka nggak ada.” Ujar Sanu. “Sama, gue juga nggak tau kapan mereka ngilangnya.” Sambung Mala.

“Tumben,” celutuk Keken.

“Kenapa emang?” Tanya Mala.

“Nggak tau, pengen aja ngomong gitu, ‘tumben’” Jelas Keken sambil cengengesan.

“Yee, gak jelas lo kutil kuda,” Cerca Sanu.

“Apa lo panu Kudanil?!” Jawab Keken tak mau kalah.

Mala yang menatap Sanu dan Keken yang mulai bertengkar menatap senang, pasalnya dengan begitu ia memiliko tontonan drama gratis, dengan santainya Mala mencari posisi ternyamannya lalu membuka pizza serta cola yang tadi ia beli bersama Sanu di jalan menuju kosan Keken.

“Sama – sama gila, Cuma lagi adu ngotot aja siapa yang paling gila.” Gumam Mala sambil terkekeh pelan memikirkannya. Sedang Keken dan Sanu, jangan tanyakan bagaimana sekarang mereka menyahuti diri masing – masing dan perihal kamar berantakan, mari lupakan sejenak karena berdebat, jauh lebih menyenangkan.

***

Setelah kesadarannya pulih, Danu menarik Kirana tiba – tiba keluar, menjauhi Keken, Mala, dan Sanu yang tengah asyik bersenda gurau. Danu menggenggam tangan Kirana erat, dan menyuruh Kirana untuk menaiki motornya dengan paksa karena Kirana yang terus menolak dan terus mencoba melapas tangannya.

“Naik!” suruh Danu.

“Nggak!” Tolak Kirana kesal, pasalnya Danu menggenggam tangannya terlalu erat hingga tangannya memerah, belum lagi Danu menarik tangannya dengan kasar.

“Naik atau gue paksa lu naik!” Ujar Danu yang kini tidak tahan melihat Kirana, entah mengapa rasanya ia sangat ingin marah pada Kirana, perasaan menggebu yang sama saat ia benar – benar ingin membunuh jika saja itu diperbolehkan.

Melihat tatapan Danu yang tidak main – main, membuat Kirana sedikit takut, namun ia segera menyembunyikan rasa takutnya dengan menatap kesal Danu.

“Maksa aja terus!” Ujar Kirana lalu menaiki motor Danu.

Setelah memastikan Kirana benar – benar menaiki motornya dan aman, Danu segera menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Saat ini hanya satu tempat yang ia pikirkan, perasaan marah, menggebu, juga perasaan sama yang ia rasakan dulu harus mendapat penjelasannya kini.

Danu menghentikan motornya di sebuah jalan kecil yang sangat sepi dan menyuruh Kirana turun. Kirana yang merasa tempat ini sangat sepi menaruh waspada terhadap Danu.

“Kalo lo macam – macam, gue nggak akan segan segang buat ngeluarin jurus tekwondo gue ya!” Peringat Kirana pada Danu, sedang Danu hanya mendengarnya dan berjalan meninggalkan Kirana.

Kirana yang melihat Danu meninggalkannya begitu saja, Kirana menatap jalan kecil yang ia lalui, terasa sangat familiar, fokus mengamati sekelilingnya Kirana tak sadar bahwa Danu sudah berhenti berjalan dan Kirana menabrak punggung Danu.

Danu hanya diam sambil menatap sesuatu dengan sorot mata kosong, Kirana yang mengikuti arah pandang Danu ikut terdiam menatap dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Danu tersenyum tipis, sangat tipis bahkan itu tidak dapat dikatakan sebagai senyuman, dengan gerakan cepet Danu mencekik Kirana hanya dengan sebelah tangannya, Kirana yang mendapati cekikan Danu secara tiba – tiba terkejut dan berusaha melepasnya, namun disaat yang sama pula semakin Kirana berusah lepas semakin kuat Danu mencekiknya, Kirana terus memukul tangan Danu dengan kasar berusah melepas cekikan Danu.

Kirana mulai merasa kehabisan nafas, seolah pasrah Kirana berhenti meronta, Kirana mulai merasa pusing dan secara perlahan mulai merasa limbung dan didetik – detik sebelum kegelapan benar – benar mengambil kesadaran Kirana, Danu melepas cekikannya.

“Veera,”

Bersambung