0 Kasus Covid-19, Sultan Brunei Pesta Mewah

Minggu, 18 Juli 2021 - 05:37:55 - Dibaca: 2995 kali

Google Plus Stumbleupon


Sultan Brunei Hassanal Bolkiah
Sultan Brunei Hassanal Bolkiah / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Brunei Darussalam tampaknya menjadi negara dengan kasus Covid-19 paling minim di ASEAN. Brunei tidak memiliki kasus Covid-19 sejak 6 Mei 2020.

 

Dilansir dari CNBC Indonesia, jika pun ada kasus baru, hal tersebut merupakan kasus impor. Hal ini membuat beberapa peraturan pengetatan dilonggarkan.

Salah satu bentuknya terlihat pada acara perayaan ulang tahun ke-75 Sultan Brunei Hassanal Bolkiah pada Kamis (15/7) di lapangan istana kesultanan.

 

Acara itu diadakan setelah pada tahun 2020 lalu ditiadakan karena Covid-19. Dalam acara megah itu terlihat para undangan yang hadir tidak menggunakan masker.

Meski begitu pihak kesultanan melakukan screening yang ketat terhadap tamu undangan.

“Tahun ini hanya tamu yang telah divaksin yang diizinkan masuk ke lapangan dan istana,” tulis media lokal Brunei, The Scoop.

Tak hanya di pelataran istana, warga Brunei juga ikut bersorak merayakan hari ulang tahun rajanya itu.

Di salah satu sudut ibukota Bandar Seri Begawan, masyarakat merayakannya dengan membuka festival bazar dan pasar malam.

Tak hanya menyajikan makanan, festival ini direncanakan juga akan mengadakan penampilan live musik. Bahkan pesta akan dilakukan hingga tanggal 3 Agustus mendatang.

“Kerumunan memadati kios-kios sejak pukul 17:00 sore, untuk menikmati berbagai makanan jalanan dan merchandise, sambil menikmati suasana perayaan saat negara merayakan ulang tahun ke-75 Yang Mulia Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin,” lapor media lainnya, Borneo Bulletin.

Mengutip East Asia Forum, seorang peneliti bernama Nadia Azierah Hamdan dan William Case dari University of Nottingham Malaysia menyampaikan analisis mengenai keberhasilan strategi negeri Sultan Hassanal Bolkiah dalam memerangi pandemi.

Pada Januari 2020, saat corona pertama mewabah di dunia, Brunei mengambil keputusan untuk melarang dari Hubei memasuki negara itu.

Pada Februari, pejabat setempat melihat kedatangan dari semua negara dengan cara melakukan pemeriksaan suhu di titik-titik masuk.

Cara Brunei Atasi Penularan Covid-19

Kasus Covid-19 di Brunei mulai terdeteksi pada 9 Maret dan mulai menyebar hingga mencapai 100 kasus dalam waktu 15 hari. Hal ini dipicu dengan adanya seorang jemaah majelis taklim yang berkunjung ke Malaysia.

Untuk mengatasi hal ini Brunei langsung mengambil tindakan tegas dengan mengikuti aturan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

Brunei melakukan jaga jarak serta isolasi mandiri untuk warga yang terinfeksi virus Covid-19. Termasuk menutup tempat-tempat ibadah untuk menekan laju penyaluran.

Dalam menanggapi Covid-19, pemerintah Brunei dengan cepat menyusun rencana deeskalasi, anggaran khusus sebesar 15 juta dolar atau sekitar Rp 160 miliar untuk mengatasi wabah Covid-19.

Untuk mempermudah komunikasi pemerintah Brunei dengan masyarakat, memaksimalkan pemberitaan di media sosial serta televisi, yang didukung dengan layanan hotline 24 jam untuk pertanyaan seputar Covid-19.

Bagi mereka yang tidak patuh, Brunei juga menerapkan denda dan hukuman penjara.

Selain itu rezim kesultanan dianggap efektif membuat keputusan eksekutif dengan output yang efektif.

Sebagai Monarki Islam Melayu, pemerintah Brunei dianggap sensitif terhadap kebutuhan spiritual warga.

 

“Masjid ditutup dan dibersihkan, pertemuan lebih dari keluarga dekat dilarang sepanjang Ramadhan dan selama Hari Raya (Idul Fitri). Sementara itu, pemerintah mendorong warga Brunei untuk memperkuat dan melaksanakan zikir dan tadarus Al-Quran di rumah saat menjalani perawatan,” tulis situs web itu.

“Sebagai pemimpin politik dan agama bangsa, Sultan Bolkiah memberikan kepemimpinan moral ke publik. Bolkiah kepemimpinan tugas umat Islam untuk mengikuti jarak sosial, mengambil tindakan pencegahan, menciptakan dan melipatgandakan doa-doa mereka dan mencerminkan Al-Quran,” tulisnya.

Ia juga mengingatkan warga Brunei yang umat Islam, bahwa virus itu sendiri dikirim oleh Tuhan.

Sementara itu, menurut The Star Malaysia, salah satu kunci kesuksesan Brunei adalah kedisiplinan pemerintah dalam menerapkan kontrol perbatasan dan perjalanan manusia.

Kedisiplinan ini juga diberlakukan untuk larangan berkumpul massa, termasuk pelacakan kontak berbasis teknologi dan karantina.

Bukan hanya pemerintah, warga juga patuh. Kepatuhan warga ke pemerintah memberi dampak signifikan.

“Melalui seluruh pendekatan pemerintah dan ditambah dengan kepatuhan warga dan penduduk terhadap peraturan kesehatan dan keselamatan selama pandemi, Brunei telah secara sistematis mencabut pembatasan,” tulis media itu. (CNBC/manadopost)

Sumber: www.pojoksatu.id