Bagian 12: “Malam dan Magenta”

Rabu, 21 Juli 2021 - 08:56:21 - Dibaca: 424 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

 

“Kadang pelukan jauh lebih berharga dan berarti dari sebuh kata – kata”

-Magenta

>>>***<<<

Angin malam terus berhembus, menusuk tulang belulang manusia. Dinginnya bahkan menembus selimut tebal yang digunakan Cipta, setelah obrolan sesaatnya dengan Jeje, Cipta termenung di depan piano tuanya, ya, secara teknis sebenarnya piano tua itu bukanlah lagi milik Tok Shos, itu milik Cipta, karena Tok Shos menghadiahkan piano tua itu untuk Cipta pada ulang tahun ke-16nya.

Cipta ingat saat itu, di ulang tahunnya yang ke-16, terhitung siapa saja yang mengucapkan dan mendoakannya di hari ulang tahunnya. Ada Ayah, Bunda, Saka, Jeje, Magenta dan Tok Shos. Cipta ingat setiap hadiah dari mereka, Ayah dan Bunda yang memberinya sepaket buku pelajaran yang mungkin hingga saat ini belum terbaca oleh Cipta, bukannya tidak mau, hanya saja rasanya kapasitas otak Cipta tak cukup mampu untuk memahami isi buku yang diberikan ayah dan bunda itu.

Lalu ada Saka yang memberinya satu lusin gantungan kunci dengan berbagai bentuk instrument musik, waktu itu Cipta bertanya alasan mengapa harus sebanyak itu gantungan kunci yang diberikan oleh Saka dan Saka bilang tidak ada yang spesial selain untuk mengingatkan Cipta agar tidak berhenti untuk bermusik. Karena, jika Cipta sudah memainkan alat musik, Cipta terlihat seperti seorang pemusik professional yang tak lagi bisa digapai saking kerennya, dan saat itu Cipta hanya tertawa mendengar penuturan Saka, sekaligus mengaminkannya.

Dan ada Magenta dan Jeje yang merayakan ulang tahunnya dengan sebuah kemah sederhana di Toko Sepatu Tok Shos dan sebuah kue ulang tahun sederhana yang dibuat oleh Magenta menjadi acara utama saat Cipta meniup lilin dan memanjatkan segala doanya. Setelahnya kedatangan Tok Shos yang menghadiahkan piano tua itu untuknya, dan sejak itu Cipta menyayangi piano tua itu lebih dari segala barang yang ia punya, piano itu menjadi benda kesukaanya.

Dan saat itu ada satu ucapan yang masih Cipta tunggu hingga esok harinya yang nyatanya hingga kini tidak pernah terjadi, sebuah ucapan dan doa dari wanita yang Cipta cintai, Windi. Hari itu, Windi melupakannya, tapi Cipta tidak marah, lagipulah bertambahnya usai tidak akan menjadikanmu menjadi orang yang sangat berharga, karena itu hanya sekedar hari yang mengingatkan bahwa waktumu dunia tidak lebih lama lagi.

Kala itu, Cipta pikir ia akan melewatkan malam tanpa tidurnya sendirian lagi. Namun, siapa sangka jika malam itu Magenta datang dan duduk disampingnya, tidak ada suara dari Magenta seperti biasanya, Magenta akan diam. Cipta tersenyum pelan, dari binar mata Magenta, Cipta tahu bahwa Magenta sama gelisahnya dengan dia, mungkin hal yang mereka pikirkan tidak sama, tapi apa yang mereka rasakan bisa jadi sama.

“Kenapa nggak tidur?” tanya Cipta, Magenta hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Magenta mendekatkan duduknya pada Cipta dan merebahkan kepalanya di pundak Cipta. Dapat Cipta dengar helaan nafas lelah Magenta dengan pandangan kosong yang menatap sembarang arah.

Kebiasaan sedari kecil Magenta tidak pernah berubah, jika Magenta merasa sedang tidak baik- baik saja maka Magenta akan menyenderkan kepalanya ke bahu siapa saja yang ia temui saat itu, entah itu Cipta atau Jeje, hanya terdapat satu perbedaan saat ini, jika dulu Magenta akan menangis maka sekarang Magenta hanya akan diam dan menghela nafas secara terus menerus.

“Kali ini kenapa?” tanya Cipta lagi, awalnya Magenta tidak merespon apapun yang dikatakan Cipta, namun akhirnya Magenta mengelurkan selembaran kertas yang ia terima dari Cipta beberapa hari lalu. Kertas pertandingan kompetisi Piano di Vienna, Cipta pikir dulu rasanya mustahil jika ia dapat mengikuti kompetesi piano hingga mancangera, namun saat semuanya menjadi nyata rasanya tidak dapat dipercaya.

“Semuanya bakal baik – baik aja, nggak usah sok parnoan lo!” Sewot Cipta tiba – tiba pada Magenta. Magenta memukul punggung Cipta kuat dengan mencebikkan bibir kesal seolah berkata bahwa mengapa Cipta tidak bisa mengerti, padahal Magenta sedang serius dan bisa – bisanya Cipta merespon seperti itu.

Melihat ekspresi lucu di wajah Magenta membuat Cipta gemas tak tahan untuk mencubit pipi Magenta, “Kok bisa sih cewe kek lo seimut ini,” komentar Cipta sambil mencubit pipi Magenta kuat yang dibalas Magenta dengan cubitan di pinggang Cipta, “Aww—Akh-Sakit Ta, Sakit woi-iya, iya, gue lepas,” Ringis Cipta sambil melepaskan cubitannya di pipi Magenta.

“Lo tau Ta, bukan lo aja yang merasa gelisah, gue juga, rasanya mustahil nggak sih ternyata kita yang kepilih sampai ke Vienna gitu, apalagi banyak orang yang lebih hebat dibanding kita.” Ujar Cipta menatap Magenta dengan air mata sendu, “Tapi, setelah dipikir – pikir nih ya Ta, setelah perjuangan kita lomba sana sini sampe sekarang rasanya setimpal dengan kita bisa lomba ke Vienna sana. Lo ingat nggak waktu pertama kali kita ikut lomba pas SMP, waktu itu kita tremor banget sampe not not yang kita hafal lupa, mana tangan kita gemetaran pula,” Ingat Cipta sambil tertawa, Magenta yang mengingatnya juga tersenyum, salah satu kenangan lucu yang pernah ia buat dengan Cipta.

“Hari itu kita nggak menang, bahkan waktu penyisihan aja kita udah kalah, tapi kita nggak sedih waktu pulang, kita ketawa dan merasa kalo semuanya wajar dan biasa aja. Semudah itu kita ngelewati waktu itu,” Cipta membagi selimutnya pada Magenta sebelum kembali melanjutkan ceritanya, “Kita belum tau tentang besok, mungkin rasanya bakal beda tapi gue yakin kita bisa ngelakuinnya semudah kita ngelakuin itu di lomba pertama kita. Nggak perlu menang, yang penting kita udah berjuang sekuat tenaga kita. Menang nggak menang itu tergantung keberuntungan kita aja, kalo saat itu kita udah ditakdirin mau menang, sejelek dan steremor apapun kita pasti tetap menang Ta. Kuncinya itu proses kita memahami semua yang kita lalui sampai saat itu, kita boleh gagal tapi kita masih punya kesempatan. Jangan lupa, kalo kesempatan itu selalu datang buat orang yang berusaha.” Jelas Cipta menenangkan Magenta, malam itu mungkin malam yang tidak berarti bagi siapa – siapa, tapi malam itu malam yang cukup berarti untuk Magenta.

Cipta benar, apa yang harus Magenta khawatirkan saat yang dia pikirkan saja belum terjadi. Magenta menatap Cipta lembut dengan senyum tipis. Malam itu, malam dimana Cipta tidak hanya berbagi selimut yang sama dengan Magenta tapi memberi sebuah pelukan hangat untuk Magenta. Tidak ada yang mengerti Magenta, sebaik Cipta mengerti Magenta. Mungkin Jeje mengetahui Magenta lebih baik dari Cipta, tapi Jeje tidak akan bisa menyamai Cipta dalam berbagi rasa sakit yang sama pada Magenta. Hari itu, tangis Magenta pecah, Cipta tahu kompetisi itu bukan satu – satunya yang Magenta tangisi, tapi Cipta cukup sadar diri untuk tidak membuat luka Magenta menjadi lebih parah. Sejujurnya pelukan tanpa kata jauh lebih berharga dari sekedar kata – kata penenang yang terucap kala itu. (*)

Bersambung