Bagian 13: “Cipta dan Akhir yang Berbeda”

Kamis, 22 Juli 2021 - 08:02:53 - Dibaca: 473 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

“Mungkin hari ini kita bisa ngawali hari kita sama – sama, tapi nanti belum tentu kita akan berakhir dengan orang sama.”

-Cipta

>>>***<<<

Hari Sabtu akan menjadi hari kesukaan Cipta, karena setelah sabtu akan ada minggu yang menantinya. Dan setiap hari Sabtu, Cipta akan menghabiskan waktunya bersama Windi seharian, sebelum fajar benar – benar menyingsing, Cipta bahkan sudah memikirkan apa saja yang akan meraka lakukan bersama. Tidak usah bayangkan adegan romantis layaknya remaja yang dimabuk cinta, hanya beberapa kegiatan sederhana saja. Biasanya berupa Windi yang mendengar Cipta bercerita tentang ayah bundanya, atau Cipta yang menemani Windi mencari buku – buku di daftar bacaannya.

“Cantik,” puji Cipta saat Windi berada di hadapannya, Blus biru muda yang dengan rok putih lipat selutut yang dikenakan Windi menjadi komposisi perpaduan sempurna dengan kaos putih dan celana jeans biru pudar yang dikenakan Cipta, kebetulan yang sangat pas, padahal tidak ada sama sekali diantara Cipta dan Windi membahas pakaian yang akan mereka kenakan.

Mendengar pujian yang dilontarkan Cipta, Windi hanya tersenyum kecil dan segera menaiki jok belakang sepeda Cipta, “Buruan, mumpung belum siang, nanti panas.” Suruh Windi.

Tidak ada yang berubah dari setahun belakangan sejak Cipta dan Windi sering menghabiskan waktu bersama di setiap Sabtu. Sepeda Ontel milik Cipta hanya akan selalu membonceng Windi dan bunda, walau tidak selamanya, Cipta tetap akan menjaga jok belakang sepedanya hanya untuk dua wanita kesayangannya, setidaknya hingga waktunya tiba.

Perjalanan menuju perpustakaan kota lumayan memakan waktu karena Cipta dan Windi memakai sepeda, walau begitu Cipta tak pernah mengeluh selagi mengayuh begitupula Windi. Tidak ada perjalanan yang terasa membosankan jika itu bersama Cipta, karena Cipta tidak akan ada sudah – sudahnya membuat suasana setiap detiknya menjadi lebih berarti dan indah.

“Windi capek nggak duduk di sepeda Cipta? Maaf ya, Cipta nggak punya motor buat ngebonceng Windi biar lebih cepet sampenya,” Sesal Cipta, mendengar Cipta, Windi merapatkan pelukannya pada pinggang Cipta, Bahasa tubuh jika Windi menikmati segalanya.

“Nggak, Windi suka, dibanding naik motor enakan naik sepeda gini bareng Cipta. Cipta capek nggak ngayuh sepedanya?” Tanya Windi.

“Segini doang mah nggak ada apa – apanya buat Cipta, Cipta sering ngenterin bunda belanja ke pasar naik sepeda kalo ayah kerja.” Jawab Cipta sesekali menengok Windi.

“Windi berat nggak?” tanya Windi lagi pada Cipta, “Berat,” Jawab Cipta Cepat. Mendapat jawaban seperti itu spontan Windi menepuk pelan bahu Cipta, tidak terima dikatai oleh Cipta bahwa dirinya berat, padahal berat badan Windi hanya 45 Kg.

“Cipta ihh..” gerutu Windi, Cipta terkekeh kecil mengetahui Windi tidak terima dengan perkataanya.

“Cipta kan belum selasai ngomong, dengerin dulu makanya,” Sanggah Cipta, “Berat tapi bukan Windinya, Hati Windi yang berat, soalnya penuh cinta buat Cipta.” Lanjut Cipta tertawa, merasa geli sendiri dengan perkataanya.

Windi juga turut tertawa dengan gombalan jayus Cipta, seringkali Windi mendengarnya, hanya saja Windi tidak terbiasa menerimanya, selain itu sering kali gombalan Cipta tidak selaras dengan keadaan yang ada, membuat Windi tak habis pikir bagaimana Cipta dengan pedenya melakukan itu semua. Walau begitu, Windi tetap menyukainya.

“Dapat dari Jeje lagi ya?” Tanya Windi, “Nggak kreatif, masa dapat dari Jeje mulu.” Lanjut Windi.

“Nggak,” Jawab Cipta, “Yang ini buat sendiri,” Sanggah Cipta.

“Pantes,” gumam Windi pelan namun masih terdengar oleh Cipta.

“Pantes?” bingung Cipta.

“Iya, Pantes nggak nyambung, jayus pula.” Komentar Windi dengan wajah mengejek pada Cipta, mendengar ejekan Windi, Cipta tertawa, tidak ada yang perlu dimasukkan ke hati, karena Cipta tahu Windi hanya bercanda semata, jika yang dikatakan Windi benar adanya, bolehkan Cipta tanya sebuah alasan mengapa pipi Windi bersemu merah?

“Cipta,” panggil Windi, “Ya?” Sahut Cipta.

“Kamarin, Windi nggak sengaja ketemu Saka disekolah, di warung Bi Jam,” belum selesai perkataan Windi, Cipta menyela perkataan Windi.

“Kalo udah di warung Bi Jam bukan di sekolah namanya, dibelakang sekolah.” Sela Cipta, Windi hanya memutar bola matanya malas.

“Iya, iya,” pasrah Windi, “Jadi, kamaren Saka keliatan banyak beban pikiran, soalnya dia Cuma melamun terus ngehela nafas. Waktu itu mau Windi samperin, tapi Windi takut Saka malah jadi ilfil sama Windi, jadi cuma Windi liatin sampe Saka akhirnya nyamperin Windi waktu kita nggak sengaja tatapan, Saka ada cerita apa – apa nggak ke Cipta?” Jelas Windi melanjutkan ceritanya yang disela oleh Cipta tadi.

“Saka nggak ada cerita sama Cipta, apa yang Saka bilang emang?” tanya Cipta,

“Cuma nanyain Cipta dimana?” Jawab Windi.

“Terus Windi jawab apa?”

“Windi bilang nggak tahu, mungkin udah pulang.”

“Lalu?” Tanya Cipta lagi.

“Waktu itu Cipta kemana? Windi jadi khawatir sama Saka, soalnya Windi nggak ngeliat Jeje juga.” Ujar Windi.

“Iya, lain kali nggak,” patuh Cipta, mendengar penuturan Windi, ada secuil di sudut hati Cipta merasa tersentil, bukankah seharusnya Cipta mengetahui konsekuensi perbuatanya dari awal, sepatutnya Cipta tak merasa menyesal, hanya saja ada sebagian dirinya merasa marah, tak terima. Segala yang melibatkan hati itu rumit, selain selalu melawan logika, ada jeda rasa sakit luar biasa. Datangnya tak dikira – kira, tau – taunya kita sudah merasakannya saja, sedahsyat itu, padahal hanya tentang perihal cinta dua insan manusia.

****

Cipta dan Windi berjalan bersisian sambil memakan es krim yang sudah hampir habis, setelah berburu buku di perpustakaan kota, Cipta dan Windi sepakat untuk pulang, sebab hari mulai petang. Tidak ada obrolan sama sekali, masing – masing dari Cipta dan Windi hikmat menikmati es krim mereka hingga habis.

“Saka,” tunjuk Windi memberitahu Cipta, beberapa meter di depan Cipta dan Windi ada Saka tengah berjongkok memberi makan anak – anak kucing liar. Cipta melihat arah tunjuk Windi dan tersenyum lebar kala melihat bahwa itu benar Saka.

“SAKA,” Teriak Cipta melambaikan tangan agar Saka melihat mereka, Saka melihat Windi dan Cipta, berlari kecil menghampiri Cipta dan Windi setelah mendengar panggilan tersebut.

“Yeww…pasti lagi kencan sabtu nih,” Ujar Saka menggoda Windi dan Cipta, Windi tersenyum tipis menaggapi Cipta.

“Tau aja, jangan – jangan lo ngintilin kita ya sampai sini!” Tuduh Cipta sambil tertawa pada Saka.

“Ogah, ngapain jadi nyamuk, kayak nggak ada kerjaan lain aja sih,” Ucap Saka mengedikkan bahunya, membayangkan betapa geli perbuatannya jika benar – benar menguntit Cipta dan Windi.

“Dih…Gak usah sok ngelak lo, siapa aja bisa jatuh hati Sakakuddin,” bantah Cipta.

“Lo kok jadi ikut – ikutan Jeje manggil gue Sakkuddin sih!” Sebal Saka tak terima di katai oleh Cipta yang tampak tak peduli.

Melihat wajah Saka tampak tak peduli, Saka memelintir leher Cipta pelan, dan mengancam Cipta sambil tertawa, “Tarik nggak perkataan lo, cepeten panggil gue Saka keren,” Ujar Saka dengan nada yang dibuat sesangar mungkin sambil tertawa.

“Saka jelek, nggak keren, lepasin!” Ujar Cipta sambil memukul tangan Saka yang memelitir lehernya,

“Masih nggak mau juga, rasain nih ketek gue!” Ujar Saka mengarahkan kepala Cipta kearah ketiaknya.

“DASAR SAKAKUDDIN!!!” teriak Cipta tersiksa, sedang Saka tertawa puas melihat Cipta, disusul tawa lepas Windi yang melihat usaha Cipta untuk terus membalas perbuatan Saka, berujung dengan aksi kejar – kejaran Saka dan Cipta, dan Saka yang terus berlindung di balik Windi.

Saat itu berasa sangat singkat, padahal Cipta berharap hal itu tidak akan pernah usai. Untuk pertama kalinya, selain karena kue sederhana buatan bunda, Cipta melihat Windi tertawa, tawa yang sangat lepas. Beberapa saat Cipta terpana, melihat Windi begitu bahagia. Tapi untuk kali ini Cipta tidak terlalu bahagia, karena hari itu, petang itu, cerita yang mereka awali bersama berakhir dengan orang yang berbeda. (*)

Bersambung