Bagian 25: “Jeda dan Pernyataan Tentang Rasa”

Selasa, 03 Agustus 2021 - 06:08:55 - Dibaca: 436 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

“Jeda itu tanda rasa, bahwa kita pernah di posisi yang sama dengan rasa yang berbeda”

-Cipta

>>>***<<<

Cipta menghela nafas bosan, setelah kepergian Magenta dengan drama kemarahan yang tidak jelas asal – usulnya Cipta jadi harus sendirian di ruang tunggunya. Cipta menatap kosong sekitarnya, hingga kedua netranya melihat tiket pesawat yang diberikan oleh Magenta. Melihat tiket itu, Cipta mencebik kesal, karena Magenta, aksi liburannya harus batal, padahal kapan lagi dapat liburan gratis seperti ini, diluar negri lagi. Bahkan belum sempat Cipta berfoto – foto ria atau sekedar memotret hal – hal yang menurutnya bagus, dan malam ini ia harus pulang.

Ingatkan Cipta untuk meminta ganti rugi pada Magenta! Keluarga Magenta itu kaya, buktinya mamanya Magenta secara percuma membelikan tiket pesawat pulang dirinya dan Magenta dengan paket kelas bisnis. Lagipula urusan seperti apa sih hingga kepulangan Magenta tidak bisa ditunda?!

Diluar sana semua peserta hiruk pikuk karena saat – saat ini adalah detik penghujung acara, dimana mereka semua akan melakukan foto bersama. Cipta ingin datang, namun diurungkannya saat mengingat Phylan dan segera memutuskan untuk langsung saja pergi ke hotel, sebenarnya Cipta terlalu seenaknya pada tindakan yang ia lakukan, dan beberapa kali Pembina yang mengawasi mereka kewalahan terhadap tingkah laku Cipta.

Namun dilain sisi Cipta juga bingung menggunakan apa ia harus kembali ke hotel, satu – satunya jalan hanya mobil yang mengantar mereka ke gedung kompetisi ini. Dan akhirnya Cipta terpaksa menunggu di halaman parkir khusus peserta. Setengah jam lamanya Cipta menunggu, akhirnya ia menemui titik kehidupan saat melihat Aksel, Magenta, Phylan dan beberapa peserta lainnya menuju parkiran.

“Sudah fotonya?” tanya Cipta pada Magenta. Anggukan kepala oleh Magenta membenarkan pertanyaan Cipta.

 

Ada beberapa mobil peserta, pembagiannya sesuai dengan anggota kamar mereka masing – masing yang otomatis Cipta akan kembali semobil dengan Aksel dan Phylan. Magenta memasuki mobil lain dengan beberapa peserta yang tersisa. Dan setelah memastikan semuanya, masing – masing dari mobil itu kembali membelah jalan Vienna, kali ini dengan eufhoria yang dipenuhi rasa lega dari masing – masing manusia yang telah pasrah apapun keputusannya nanti, entah itu menang ataupun kalah. Intinya, mereka sudah menjalaninya, walau tidak keluar menjadi pemenang, mereka berakhir menjadi seorang pejuang.

***

Cipta mendapat urutan terkahir menggunakan kamar mandi di kamarnya, Phylan sudah selesai dengan mandinya yang kini berarti giliran Aksel untuk membersihkan dirinya. Selagi menunggu Aksel, Cipta mengemasi barang – barangnya, tidak butuh waktu lama karena pada hakikatnya Cipta juga tidak terlalu banyak membawa barang selain pakaian dan snak bejibunnya.

Sekilas ekor mata Cipta menangkap pipi Phylan yang mulai membengkak, bahkan bercak kebiruan dapat terlihat jelas di beberapa bagian wajahnya. Cipta mengehela nafas pelan, entah berapa kali Cipta meghela nafas dengan maksud yang beragam hari ini membuat Cipta sendiri kadang bosan melakukannya, namun berhenti bernafas sama saja dengan mati, jadi untuk saat ini Cipta mengurungkan niatnya.

Cipta mengambil air hangat dan menaruhnya pada tempat yang dikirinya dapat menampung air cukup banyak, setelahnya Cipta mengambil handuk kecil yang disediakan oleh pihak hotel dan kotak P3K. Phylan duduk di pinggir kasurnya dengan ringisan saat wajahnya tak sengaja bergerak yang menimbulkan rasa sakit. Cipta menarik kursi ke hadapan Phylan, menaruh air hangat dan kotak P3K tesebut di samping Phylan dan mengompres wajah Phylan.

Awalnya Phylan menepis tangan Cipta menolak untuk disentuh, namun melihat tatapan Cipta yang tampak tajam dan mengintimidasi membuat Phylan tak dapat berkutik, beberapa saat ia melihat Cipta dengan versi yang berbeda, telihat menyeramkan. Dan pilihan terkahir Phylan hanya diam.

“What are you doing? This will be a waste of time,” Ujar Phylan sarkas menatap Cipta angkuh.

“Really?” Tanya Cipta masih fokus mengompres lebam kebiruan yang ada di wajah Phylan setelah berhasil memberi salep pada luka di wajah Phylan, “Is Self-Care a waste of time?” tembak Cipta tepat sasaran, menyindir Pyhlan hingga terdiam.

Cipta fokus dengan kegiatan mengompresnya, hening beberapa saat, hingga suara cipta terdengar, “Whatever the problem, never let yourself get hurt just like that. Struggle a little, even if you lose, you don’t lose as a loser. If you can’t respect yourself, how will people respect you?

Mendengar perkataan Cipta, Phylan hanya diam, semua perkataan Cipta sungguh membuat Phylan tertohok, hingga ia tak dapat membalas perkataan Cipta. Phylan merasa sakit dengan segalanya, terutama papanya, bagaimana ia tertekan selama ini untuk mewujudkan keinginan papanya. Phylan ingin menangis, namun ia adalah laki laki yang rasanya pantang menangis, sedari tadi, Phylan menahan air matanya tumpah di depan Cipta, sayangnya Phylan tidak sekuat itu. Phylan terisak pelan, kini Cipta mengetahui banyak kelemahannya, dan Cipta menjadi satu – satunya yang tahu bahwa ia benar – benar terluka dengan keadaan yang selalu memaksanya terlihat baik – baik saja.

“Crying doesn’t mean you’re weak. And besides, there’s no rule that a boy shouldn’t cry. Crying won’t fix everything, but at least it makes you feel good. Cry if you need to, don’t hold it in, because it’s like poison if you don’t let it out,”

Cipta menepuk punggung Phylan pelan, “Everything’s will gone be okay bro,” Tandas Cipta akhirnya dengan senyum seceria matahari. Melihat Cipta membuat perasaan Phylan cukup merasa lebih baik, bertepatan dengan itu Aksel keluar dari kamar mandi dan menatap Cipta serta Phylan bingung, melihat eksperesi Aksel mengundang tawa Cipta yang menimbulkan senyum tipis di bibir Phylan. Cipta segera mengambil handuknya dan bergegas menuju kamar mandi, namun sebelum Cipta sempurna memasuki kamar mandi Phylan memangilnya.

“Cipta?”

“Ya?”

“Thankyou” ujar Phylan tulus, mendengarnya Cipta tersenyum senang, “Ever heard of something like this? Today might be a bad day, not a bad life.” Ujar Cipta, menjadi penutup percakapannya dengan Phylan malam ini.

Untuk merasa dicintai, kita tidak butuh seseorang yang selalu ada bersama kita, atau seseorang yang menghabiskan lama waktnya dengan kita, karena pertemuan tak terduga dengan seseorang yang bahkan tak pernah kita sapa apalagi kita jumpai, bisa saja menjadi orang yang paling tulus memberikan cinta dan peduli pada kita, asing itu akan selalu terasa, namun saat kita menyadarinya, ada momen sesaat dimana kita menyadari bahwa kita butuh hal yang sama namun mendapatkannya dari orang yang berbeda. Semesta dengan kehidupannya tak pernah berubah, penuh drama dalam memainkan takdir manusia.

Tidak mebenarkan, tidak juga menyalahkan, seperti sebuah perasaan tak terima namun ingin mendapatkan. (*)

Bersambung