Super Busy Neighbor

Bagian 1: “Adinara Salsabila”

Rabu, 15 September 2021 - 06:25:26 - Dibaca: 432 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

PROLOG

Seringkali omongan masyarakat menjadi acuan hidup seseorang, padahal kita memiliki kekuasaan sendiri sepenuhnya tentang kehidupan kita, mau kita jadi gembel sekalipun, seharusnya nggak ada orang yang akan bisa menggangu gugat keputusan kita, selama itu mau kita, tapi sih, itu cuma katanya, nyatanya realita tak sesuai angan – angan, sebagus apapaun dirimu, tetap saja omongan tetangga akan menjadi acuan utama.

Kalian sedikit beruntung hanya memiliki tetangga yang membicarakan kalian di belakang kalian, setidaknya kalian tidak perlu repot – repot mendengar omongan mereka. Hanya perlu fokus menjalani apa yang kalian jalani kini, namun tidak dengan seorang Adinara yang memiliki tetangga seperti Andika.

Cukup Tama dan ibunya yang mendapat julukan manusia menyebalkan satu dan dua di kehidupan Adinara. Nyinyiran dan omongan Tama serta ibunya tidak kala nyinyir dari omongan tetangga dan tidak kalah pedas dari hujatan tetangga. Adinara sering bertanya, mengapa rasanya ia seperti di anak tirikan oleh ibu dan adiknya?!

Dan manusia menyebalkan tiga harus bertambah kembali di kehidupan Adinara, kali ini benar – benar tetangganya. Laki – laki sialan yang terus saja menyindir dan menghujat Adinara secara terang – terangan, dan lebih menyebalkannya lagi, laki – laki itu terus ada di dalam hidupnya, siapa lagi jika bukan Andika Gunatama.

Andika Gunatama itu laki – laki atau bukan sih? Bisa – bisanya mulutnya mengalahkan perempuan, bahkan Adinara sendiri tidak yakin ada perempuan dengan mulut seperti Andika Gunatama. Namanya saja yang ada Gunanya, toh Andika tidak sama sekali berguna di kehidupannya selain memancing emosi dan memperalat hidupnya.

“KERJA JANGAN MOLOR!” Teriak Andika tepat di samping telinga Adinara.

“Buta mata lo?! Gue lagi kerja!” Ujar Adinara kesal dengan nada pelan

“EITS,” Ingat Andika dengan senyum liciknya. “Di Kantor!” tekannya tak kalah pelan dari Adinara.

“Saya lagi kerja pak, tolong dilihat dengan kedua bola mata bapak.” Tekan Adinara dengan senyum paksa.

Sialan! ini namanya penyalahgunaan jabatan!

 

Bagian 1: “Adinara Salsabila”

“Senin hingga Sabtu itu kerja keras bagai kuda walau tak kaya – kaya, sedang minggu adalah waktu untuk berleha – leha”

-Prinsip Hidup Adinara Salsabila

>>>***<<<

“ADINARAA!!!”

“BANGUN KAMU!!! MANA ADA ANAK GADIS MASIH TIDUR JAM SEGINI!!”

Adinara tersentak dari tidurnya, terkejut dengan teriakan yang sangat dekat dengan telinganya. Astaga, yang benar saja siapa yang membangunkan orang tidur dengan cara berteriak keras seperti itu! wanita yang kini berusia 25 tahun itu mengucek matanya kesal, memaksa matanya terbuka dengan gumaman yang tidak jelas, menggerutu tentang teriakan keras di pagi hari, benar – benar tidak etis untuk seorang Adinara Salsabila.

“Siapa sih yang-” belum selesai Adinara menyelesaikan kalimatnya, ia segera menahan gerutuannya melihat sosok perempuan yang sudah memasuki usia kepala empat dengan bola mata yang sepertinya hampir keluar memelotinya serta kedua tangan yang berkacak pinggang, menatapnya garang seolah Adinara adalah mangsanya yang harus dicabik – cabik.

“Eh, mama hehehe,” Ucap Adinara dengan cengengesannya. Percayalah, wanita yang kini menjabat sebagai Nyonya Ranatama sekaligus seorang ibu dari Adinara Salsabila itu kini tengah menatap putri sulungnya dengan tatapan mematikan. Adinara tahu sebentar lagi dirinya tidak akan selamat dari rentetan omelan mamanya dan setumpuk pekerjaan rumah yang akan ia kerjakan sendiri. Garis bawahi, SENDIRI.

Nyonya Ranatama merupakan wanita dengan hati selembut malaikat dan perkataan sehalus dewi, namun jika Nyonya Ranatama itu sendiri ada dalam masa tenang atau bahagianya. Jangan mencoba – coba untuk mencari perkara dengan Nyonya Ranatama jika tidak ingin melihat jiplakan seorang Medusa, termasuk memancing amarah seorang Nyonya Ranatama.

“Bangun!” Desis Nyonya Ranatama pelan yang segera di angguki oleh Adinara cepat, berdiri di samping kasurnya dengan posisi siap. “Jam berapa sekarang?” Tanya Nyonya Ranatama lagi denga aura yang benar – benar mencekam, membuat Adinara meneguk ludahnya gugup dan takut.

“Six O’clock maybe,” Cicit Adinara pelan, melihat dari cahaya yang masuk ke kamarnya, Adinara tidak yakin bahwa saat ini masih jam enam pagi, mungkin sudah siang. Namun, Adinara tidak seberani itu untuk mengakui bahwa dirinya memang bangun siang.

“JAM ENAM?!” Murka Ranatama, sudah Adinara duga memang bukan. “Ini udah jam sepuluh Adinara Salsabila, mau bangun jam berapa kamu hah?! Mana ada anak gadis bangun jam segini?!” Kesal nyonya Ranatama. “Cepat mandi dan turun kebawah!” Perintahnya, setelah itu meninggalkan Adinara sendiri di kamarnya.

“Siap, Laksanakan komandan!” Ujar Adinara lantang menghormat pada ibunya, sambil tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putih bersihnya. Pintu kamar Adinara dibanting keras oleh Nyonya Ranatama, menandakan bahwa ibunya Adinara itu ada di titik didih emosinya.

Adinara cukup terkesan dengan Ayah dan Ibunya yang terus saja mempertahankan aturan yang berlaku di rumah mereka, dari kecil hingga usia Adinara kini memasuki usia 25 tahun. Saat ini, Adinara bekerja sebagai wartawan di sebuah perusahaan yang cukup besar di kotanya. Adinara menghabiskan kesahariannya pontang – panting bersama rekan kerjanya mencari berita sana – sini, dan itu benar – benar melelahkan, kadang kala di waktu weekend saja Adinara harus bekerja.

Jika Nyonya Ranatama dapat menduai Medusa kala marah, maka Adinara adalah perpaduan dari segala Seven Deadly Sins saat ia tidak ingin dibantah. Saat merasa pintu kamarnya sudah tertutup sempurna, Adinara tersenyum senang, direbahkannya kembali tubuhnya di kasur empuknya, dan menarik kembali selimut serta gulingnya. Ayolah bung, hari ini minggu, bukan waktunya untuk bekerja, berleha – leha adalah kegiatan utamanya.

Sleep well Adinara,” Gumam Adinara pada dirinya, matanya bersiap memejam kembali melanjutkan tidurnya.

Byurr

Belum genap 60 detik matanya tertutup, Adinara harus dikejutkan dengan seember air yang ditumpahkan ke dirinya, matanya terbuka lebar, menatap sekeliling kamarnya dengan raut wajah tak percaya, dan di pintu kamarnya terlihat Nyonya Ranatama a.k.a ibunya tersenyum puas dan bodyguard kesayangan ibunya yang tampak bahagia melihatnya basah, siapa lagi jika bukan adiknya, Aditama Putra, satu – satunya primadona keluarganya, dan musuh kesayangan Adinara.

“Sialan!” Maki Adinara pelan. (*)

Bersambung