Pendeta Saifuddin ke Irjen Napoleon: Lu Bukan Polisi, Lu Penjahat, Preman!

Rabu, 22 September 2021 - 06:27:47 - Dibaca: 5278 kali

Google Plus Stumbleupon


Muhammad Kece dan Irjen Napoleon Bonaparte
Muhammad Kece dan Irjen Napoleon Bonaparte / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Penganiayaan yang dilakukan Irjen Napoleon terhadap Muhammad Kece mendapat kecaman keras dari Pendeta Saifuddin Ibrahim.

Pendeta yang tidak lain kerabat Muhammad Kece itu sangat menyangkan kelakuan mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri itu.

Itu setelah Irjen Napoleon membuat pengakuan melalui surat terbuka atas penganiayaan terhadap Muhammad Kece di Rutan Bareskrim.

Apalagi, Muhammad Kece disebut Saifuddin adalah orang yang memiliki cacat fisik. “Ini orang pincang. Muhammad Kece ini pincang kakinya,” ujarnya kepada JPNN.com (jaringan PojokSatu.id), Senin (20/9/2021) malam.

Meski dengan kondisi fisik yang cacat, Kece masih dikeroyok. “Itu enggak perlu dikeroyok. Gebukin sekali mati,” sambungnya.

Pendeta Saifuddin juga menyoroti pengakuan Irjen Napoleon Bonaparte yang menyatakan melakukan tindakan terukur. Sebab menurutnya, siapapun dan apapun jabatan Napoleon Bonaparte, tidak berhak menghakimi Muhammad Kece.

Sebab, itu bukan tugasnya. Apalagi Napoleon saat ini juga merupakan tahanan.

“Dia (Napoleon Bonaparte) sudah dijatuhi hukuman, cuma dia masih melakukan kegiatan untuk banding dan kasasi,” ujarnya. Pendeta Saifuddin pun mengecam keras tindakan Irjen Napoleon.

“Jadi, dia kalau ngomong tindakan terukur, lu bukan polisi, lu penjahat, preman,” kecam Saifuddin.

Ia juga mempertanyakan Napoleon yang dengan gampangnya memberikan perintah kepada orang lain membantu mengeroyok Muhammad Kece.

“Dia meminta kepada petugas yang lain untuk membuka kunci sehingga dari jam 01 sampai 03, dia menyiksa Muhammad Kece,” lanjutnya.

Menurut Pendeta Saifuddin, tindakan Napoleon menganiaya Muhammad Kece sebuah pengkhianatan terhadap Polri. “Apa-apaan ini? Ini adalah pengkhianatan terhadap tubuh Polri,” tegasnya.

Datangi Kamar Sel Muhammad Kece

Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi mengatakan, Irjen Napoleon masuk ke sel isolasi Muhammad Kece bersama tiga tahanan lainnya pada 26 Agustus 2021 sekitar pukul 00.30 WIB. Muhammad Kece sendiri mulai menjalani masa penahanan di rutan pada 25 Agustus 2021 sore.

“Diawali masuknya NB bersama tiga napi lainnya ke dalam kamar korban MK pada sekitar pukul 00.30 WIB,” ujar Brigjen Andi Rian, Senin (20/9/2021).

Setelah berada di kamar Kece, Napoleon menyuruh tahanan lain mengambil plastik putih yang ada di kamarnya.

Plastik putih itu berisi kotoran manusia yang sudah disiapkan Irjen Napoleon.

“Satu orang saksi napi lainnya kemudian disuruh mengambil plastik putih ke kamar NB yang kemudian diketahui berisi tinja,” jelasnya.

Brigjen Andi membeberkan Irjen Napoleon memulai penganiayaan dengan cara melumuri wajah dan badan M Kece menggunakan kotoran manusia itu.

Setelah itu, barulah M Kece dipukul Irjen Napoleon bersama kawan-kawannya yang sengaja datang ke sel tersebut.

“Oleh NB kemudian korban dilumuri dengan tinja pada wajah dan bagian badannya. Setelah itu berlanjut pemukulan/penganiayaan terhadap korban MK oleh NB,” ujarnya.

Andi mengatakan M Kace dianiaya Napoleon selama kurang-lebih 1 jam. Hal tersebut terlihat dari rekaman CCTV di dalam rutan.

“Dari bukti CCTV tercatat pukul 01.30 WIB, NB dan 3 napi lainnya meninggalkan kamar sel korban,” imbuhnya. (ruh/ral/pojoksatu)

Sumber: www.pojoksatu.id