Polres Luwu Timur Tak Temukan Bukti Dugaan Pencabulan, LBH Minta Bareskrim Turun Tangan

Sabtu, 09 Oktober 2021 - 05:14:34 - Dibaca: 132 kali

Google Plus Stumbleupon


Foto ilustrasi yang kini beredar luas di media sosial.
Foto ilustrasi yang kini beredar luas di media sosial. / Jambi Ekspres Online

LUWU TIMUR — Sempat dihentikan, kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh seorang ayah berinisial SA, kepada tiga anaknya sejak 2019 kembali mencuat. Itu kembali heboh saat beredar luas di sosial media.

Saat awal kejadian, lelaki SA dilaporkan oleh wanita yang saat itu masih menjadi istrinya, RA, usai diduga telah mencabuli tiga orang anaknya. Pelaporan itu dilakukan di Polres Luwu Timur pada Oktober 2019 lalu

Seiring dengan berjalannya waktu, penyelidikan kasus ini dihentikan. Alasannya, tidak ada bukti kuat dalam kasus dugaan pencabulan itu.

Sehingga, polisi menerbitkan surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3), yang saat itu ditandatangani oleh Kapolres Luwu Timur, AKBP Leonardo Panji Wahyudi.

“Setelah kita lakukan visum tidak ada tanda-tanda, selaput darah sobek atau semacamnya,” kata Leonardo saat dikonfirmasi wartawan.

Kursi jabatan Kapolres Luwu Timur pun juga berganti dari AKBP Leonardo ke AKBP Silvester.

Pernyataan AKBP Silvester pun senada dengan pernyataan AKBP Leonardo, bahwa kasus dugaan pencabulan ini tidak punya bukti kuat dan meyakinkan polisi.

“Saat itu tidak ditemukan bukti adanya tindak pidana sebagaimana dilaporkan,” kata Silvester kepada wartawan.

Ketiga korban yang diduga telah dicabuli oleh SA pun telah divisum di RS Bhayangkara, Makassar beberapa waktu lalu. Hasilnya, tidak ditemukan tanda bekas pencabulan seperti yang dimaksud.

“Hasilnya pada tubuh ketiga anak pelapor tersebut tidak ditemukan kelainan pada alat kelamin atau pun dubur (anus),” jelas Silvester.

Terpisah, Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Resky Prastiwi, meminta kasus ini agar kembali diselidiki polisi.

Dia menilai, penanganan kasus dugaan pencabulan di Mapolres Luwu Timur hingga dilakukan SP3 dianggap cacat. Pelapor dan ketiga anaknya yang jadi korban tidak mendapat pendamping. Baik dari pendamping anak bagi korban, maupun pengacara bagi pelapor.

“Kalau pun dikatakan ibunya mengalami waham. Itu pemeriksaannya sangat tidak layak. Hanya 15 menit. Kemudian melibatkan dua psikiater, sementara acuannya kami untuk pemeriksaan berkaitan dengan proses hukum itu ada acuannya di peraturan menteri dan harus ada terdiri dari tim yang khusus, jadi ada psikiater, psikolog, dan tahapan-tahapan. Tidak serta merta orang mengalami waham hanya dalam 15 menit. Itu juga disampaikan, prosedur yang cacat itu disampaikan ke polda, tapi semua argumentasi kami tidak ditindaklanjuti,” jelas Resky.

Resky mengaku telah bersurat hingga ke Mabes Polri terkait kasus ini agar segera diusut hingga tuntas dan menetapkan tersangka dalam kasus dugaan pencabulan oleh terlapor SA. “Tentunya kami akan tetap desak Polri untuk membuka kasus ini kembali,” tandasnya. (ishak/fajar)

Sumber: www.fajar.co.id