Tak Perhatikan Kualitas Ayam, KFC Indonesia Kena Protes World Animal Protection

Kamis, 25 November 2021 - 06:16:06 - Dibaca: 178 kali

Google Plus Stumbleupon


Manajer Kampanye di World Animal Protection Rully Prayoga
Manajer Kampanye di World Animal Protection Rully Prayoga / Jambi Ekspres Online

JAKARTA- Perusahaan restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) Indonesia diprotes karena mereka dianggap tak memberikan kesejahteraan yang baik bagi ayam yang mereka jual.

Protes melalui surat terbuka ini, disampaikan World Animal Protection. Protes itu juga dalam rangka peringatan Hari Kesadaran Penggunaan Antibiotik Sedunia.

“Jutaan ayam tidak pernah mendapat kesempatan untuk melihat sinar matahari, tumbuh pada tingkat alami atau berperilaku seperti yang mereka lakukan di alam liar. KFC Indonesia mendapat untung dari rasa sakit ini,” kata Manajer Kampanye di World Animal Protection Rully Prayoga kepada wartawan, Rabu (24/1/2021).

“Banyak yang menderita ketimpangan dan lesi kulit. Metode peternakan intensif juga sering mengandalkan penggunaan antibiotik rutin sebagai solusi cepat untuk menjaga hewan yang stres dan sakit tetap hidup,” ujarnya.

Menurut Rully, KFC juga menggunakan antibiotik yang berlebihan pada ayam, sehingga memicu krisis superbug mematikan terhadap manusia akibat penyakit resistensi antibiotik.

Penyakit resistensi antibiotik ini juga diidap artis Nadia Vega.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, telah membunuh lebih dari 700.000 orang per tahun akibat penyakit resistensi antibiotik yang bersumber dari ayam KFC tersebut

“Tidak hanya ayam-ayam ini yang menderita, kesehatan manusia juga terancam. Pergeseran ke sistem pertanian dengan kesejahteraan yang lebih tinggi menggunakan breed ayam yang tumbuh lebih lambat akan mengurangi kebutuhan akan antibiotik,” ungkap Ruly

Menurut Rully, persoalan ini sudah pernah disampaikan World Animal Protection pada tahun 2020 lalu kepada KFC Indonesia. Namun, hingga kini tak juga tuntas.

Pihaknya menduga, KFC tak kunjung membaiknya kesejahteraan ayam yang dijual KFC Indonesia, lantaran perusahaan itu dinilai tak menganggap penting perkara ini.

“Kemudian, ada kemungkinan juga mendapatkan supply dari peternakan yang low, rendah tingkat kesejahteraan hewannya. Makanya dia nggak berani. Meskipun mereka selalu klaim, ‘kami berasal dari ini kok, kami baik kok’. Kalau baik kita kejar, bikin iklan di mana dia ambil ayamnya. Kita juga senang lihatnya kalau ayam yang kita makan berasal dari peternakan berkualitas,” paparnya.

Peningkatan kesejahteraan ayam oleh KFC Indonesia, kata Rully sudah sepatutnya dilakukan. Sebab kebijakan ini sudah dijalankan KFC Amerika Serikat (AS) atau perusahaan induk KFC, Yum! Brands melalui kampanye better chicken commitment. Serta dilakukan KFC Eropa seperti Inggris.

Sementara itu KFC Indonesia bukanlah pemilik peternakan ayam tersebut, sehingga tak memiliki kewenangan secara langsung. Namun, perusahaan itu memiliki peran dalam memilih produsen daging ayam mana yang bisa memasok ke KFC Indonesia.

“KFC itu mampu dan dia bisa, dia kan hanya pihak yang menerima produk. Dia bisa saja ‘saya hanya mau menerima produk dari peternakan kriteria seperti ini’,” tuturnya.

“KFC itu mempunyai kewenangan untuk memilih supplier-nya. ‘Ok saya memilih supplier yang memiliki kesadaran terhadap kesejahteraan yang tinggi’,” imbuh Rully.

Sementara itu, Kepala Kampanye Global di World Animal Protection, Jonty Whittleton mengatakan, banyak restoran dengan nama atau merek terkenal menolak memberikan miliaran ayam kesempatan untuk melihat sinar matahari dan tumbuh pada tingkat yang sehat atau berperilaku secara alami.

“Covid-19 telah mengajarkan kita bahwa kesejahteraan hewan dan kesehatan manusia saling terkait, tidak boleh ada bisnis seperti biasa. Motif komersial mendorong kekejaman dan penderitaan, dan ini harus diakhiri,” tandasnya.

World Animal Protection menegaskan, peningkatan kesejahteraan ayam ini justru menguntungkan KFC Indonesia maupun peternak.

Sebab dengan begitu KFC bisa mempromosikan produknya berasal dari bahan terbaik, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen dan menambah nilai produk.

“Peternak yang untung itu, kandang bersih, populasi ayam tidak terlalu padat, tidak menggunakan antibiotik, mereka menggunakan probiotik,” tuturnya.

“Menjaga ayam itu tidak sakit, dari umur satu hari sampai enam minggu. Padahal itu nggak usah, kalau kandangnya bagus. Ayam mati karena kebanyakan kena penyakit cekrek. Karena padat, karena amonia atau kotorannya itu tak diurusi,” lanjutnya.

World Animal Protection sendiri berharap KFC Indonesia dapat menggunakan keturunan ayam yang tumbuh pada tingkat yang lebih sehat. Kemudian memastikan ayam memiliki ruang untuk berperilaku lebih alami, dan kandang tidak boleh digunakan. (fir/pojoksatu)

Sumber: www.pojoksatu.id