Dampak Covid-19 dalam Berbagai Aspek Ekonomi di Indonesia

Senin, 06 Desember 2021 - 11:08:18 - Dibaca: 1645 kali


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

 

Penulis  : Bintang Yosaria

Pandemi Covid-19 yang berasal dari Cina pada Desember 2019 lalu, telah mewabah di Indonesia selama kurang lebih dua tahun lamanya. Karena penularannya yang sangat cepat, membuat wabah ini memakan banyak korban jiwa. Sehingga pemerintah memaksa warganya agar tetap berada di rumah untuk mencegah penyebaran wabah tersebut. Namun hal ini sangat berdampak pada roda perekonomian di Indonesia. Beberapa aspek perekonomian tersebut diantaranya yakni ekonomi keluarga, masyarakat petani, ekonomi daerah, ataupun ekonomi nasional.

 

            Hal pertama yang paling dirasakan adanya penurunan pendapatan pada sebagian besar keluarga. Hal ini menyebabkan banyaknya pekerja yang banting setir ke beberapa sektor pekerjaan yang dianggap mampu menunjang ekonomi keluarga di masa pandemi Covid-19. Tidak hanya itu saja bahkan beberapa perusahaan melakukan tindak PHK terhadap para karyawannya yang menyebabkan sebagian besar anggota keluarga mengalami ganguan sosial karena minimnya interaksi yang dilakukan akibat kecemasan terhadap penularan Covid-19. Sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap kesehatan mental. Hal ini didasarkan pada hasil survei yang dilakukan oleh Athia Yumna yang merupakan seorang Deputy Director of Research and Outrech SMERU yang melakukan survei pada Oktober sampai dengan November 2020 lalu terhadap 12.216 orang dari 34 provinsi di Indonesia yang hasilnya menyatakan bahwa tiga dari empat keluarga mengalami penurunan pendapatan dan sebanyak 14% pekerja terpaksa banting setir dengan sektor pertanian dan konstruksi sebagai sumber pendapatan yang mana setengah dari mereka tidak memiliki tabungan.

 

Penurunan pendapatan ini selain berpengaruh terhadap gangguan sosial dan kesehatan mental, juga memengaruhi kondisi kebutuhan pangan dalam rumah tangga. Akibatnya banyak warga yang menderita kelaparan sehingga menyebabkan mereka terjebak pada kondisi dimana harus memilih untuk bertahan hidup dari Covid-19 atau kemiskinan. Selain itu, karena kondisi kemiskinan tersebut memaksa beberapa warga melakukan tindak kriminalitas seperti mencuri. Contohnya yang terjadi di Bogor, seorang mantan karyawan pabrik sandal nekat mencuri tabung gas untuk memberi makan anak dan istri. Juga kasus mencuri beras yang terjadi di Medan, karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

 

            Kemudian dampak wabah pandemi Covid-19 merambah juga ke sektor ekonomi pertanian. Dimana sektor ini memiliki peran yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa dampak yang memengaruhi sektor ekonomi pertanian yaitu kemiskinan semakin bertambah di keluarga petani. Sebagimana yang telah diketahui secara umum bahwasanya keluarga petani merupakan penyumbang penduduk miskin yang besar. Hal ini sesuai dengan laporan yang dinyatakan oleh BPS pada tahun 2020, dimana sebanyak 46% penduduk miskin di Indonesia berasal dari mereka yang berpenghasilan utama pada sektor pertanian. Kemiskinan tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti adanya penurunan harga pasar. Hal ini dapat dilihat berdasar data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Fatihah A’dani, dkk. Dari Fakultas Agribisnis Universitas Padjajaran. Yaitu turunnya harga pasar hingga 10% yang berpengaruh terhadap total pendapatan mereka. Lalu, krisis ekonomi dikalangan petani juga terjadi karena anjloknya nilai tukar petani. Kondisi ini merupakan kondisi dimana hal ini menyebabkan menurunnya kesejahtaan para petani. Sebagai contoh pada tahun 2020 nilai tukar petani merosot dalam skala rata-rata 107.30 dibandingkan dengan tahun 2019 yang menyentuh pada angka sebesar 112.34. Pada kasus ini petani hortikultura mendapatkan dampak yang paling besar dibandingkan dengan petani tanaman pangan yakni turun di angka minus 2,24%.

  Dampak Covid-19 terhadap roda perekonomian selanjutnya yaitu terletak pada aspek ekonomi daerah. Perekonomian daerah yang menjadi tonggak untuk menunjang keberlangsungan perekonomian nasional ikut terpapar dampak negatif dari wabah Covid-19. Dampak tersebut berupa macetnya arus pengelolaan sektor-sektor lapangan kerja yang berada di masing-masing daerah di Indonesia. Contohnya pada sektor kepariwisataan di wilayah yang merupakan destinasi yang diminati oleh kalangan domestik maupun mancanegara. Pada sektor tersebut terjadi penurunan pengunjung yang datang karena pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah membuat destinasi wisata mengalami kerugian yang cukup signifikan setelah datangnya wabah Covid-19. Seperti Bali yang merupakan destinasi favorit baik domestik maupun mancanegara sempat mengalami kerugian sebanyak Rp 9,7 triliun per bulan karena terpaksa harus menutup akses pengunjung untuk datang. Hal ini juga berdampak pada produk UMKM yang sebelumnya memiliki beberapa produk khas di daerahnya masing-masing juga mengalami penjualan omset yang menurun sejak terjadinya wabah Covid-19. Selain penjualan omset yang menurun, beberapa diantaranya masih buta dengan teknologi.

 

Padahal dengan teknologi, kegiatan pemasaran dapat tetap dilakukan walupun di tengah kondisi wabah Covid-19. Maka dari itu, beberapa UMKM yang masih buta terhadap teknologi mengalami dampak yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mampu memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pemasaran produk UMKM. Berdasarkan survei Bank Indonesia, hanya 27,6% yang mampu meningkatkan penjualan dikala pandemik Covid-19 dan mereka adalah pengusaha yang melek akan teknologi dan memanfaatkannya dengan baik. Contohnya seperti membuka platform digital berupa online shopping yang dapat diakses dengan mudah dan peluang pasarnya lebih luas.

 

Setelah kurang lebih dua tahun pandemi Covid-19 telah mewabah di Indonesia, pemerintah mulai mengembangkan beberapa program kebijakan untuk mengatasi dampak negatif yang terjadi pada perekonomian nasional. Program kebijakan pemerintah tersebut yaitu kenaikan besaran bantuan sosial nontunai seperti sembako melalui Kartu Sembako Murah (KTM) menjadi Rp 200.000 per Keluarga Penerima Manfaat (KTM). Dimana awalnya hanya Rp 150.000 per KPM. Program kebijakan tersebut berlaku enam bulan lamanya sejak Maret 2020. Dimana pemerintah mengalokasikan jumlah anggaran sebesar Rp 4,56 triliun untuk kenaikan bantuan sosial ini. Program kebijakan pemerintah selanjutnya yaitu pemerintah mengeluarkan insentif bagi wisatawan domestik maupun asing hal ini dilakukan pemerintah untuk membawa lebih banyak turis asing ke Indonesia untuk program kebijakan tersebut sebanyak Rp 298,5 miliar di alokasikan oleh pemerintah untuk insentif airlines termasuk biaya sewa influencer. Selain itu, pemerintah juga merealokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) bagi kabupaten atau kota yang merupakan sepuluh destinasi prioritas pemerintah. Realokasi DAK ini mengeluarkan anggaran sebesar Rp 96,8 miliar dimana dana tersebut menjadi hibah pemerintah untuk sepuluh destinasi wisata.

 

Program kebijakan pemerintah tersebut dinilai efektif untuk mengatasi beberapa problematika yang di alami oleh perekonomian nasional. Walaupun belum sepenuhnya terealisasikan, program tersebut sudah cukup mengurangi beban permasalahan perekonomian nasional. Hal ini sudah sangat meresahkan bagi masyarakat dan untuk mengatasi permasalahan tersebut, baru-baru ini Kementrian Sosial telah membuka program pejuang muda yang dimana program dari Kemensos ini membantu persebaran data dari perekonomian masyarakat ke seluruh Indonesia.

 

Dari pembahasan tersebut terlihat bahwa roda perekonomian Indonesia mengalami dampak yang sangat besar di masa pandemi Covid-19. Begitu banyak masyarakat yang menderita akibat kelaparan, kemiskinan maupun sakit karena terjangkit virus Covid-19. Mereka kebanyakan tidak siap dengan kebiasaan baru yang membuat mereka harus tetap di rumah untuk menurunkan angka penularan Covid-19. Walaupun begitu, seiring berjalannnya waktu ekonomi nasional kembali bangkit dengan beberapa program kebijakan yang digalakkan oleh pemerintah untuk mengatasi dampak Covid-19 terhadap perekonomi nasional. Meskipun banyak kebijakan yang masih abu-abu atau tidak jelas kelanjutannya seperti kebijakan di bidang pendidikan atau pun yang lain-lain. Tetapi tetap banyak masyarakat yang mengapresiasi bagaimana usaha dari pemerintah untuk membuat Indonesia bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan oleh COVID-19 ini. Langkah yang paling di apresisasi dari kebijakan pemerintah pada bidang ekonomi adalah tentang kebijakan "Gas dan Rem", yang dimana kebijakan ini menyangkut dari dua hal penting, yakni kesehatan dan perekonomian. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasanya apabila kesehatan masyarakat pulih maka ekonomi pun akan ikut membaik dan bangkit, begitu pula sebaliknya apabila kesehatan terpuruk maka keadaan ekonomi nasional pun akan lebih terpuruk lagi.

 

Walaupun masih banyak oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab dan berusaha untuk menghambat perekenomian nasional tersebut, contohnya seperti korupsi dana bantuan sosial. Pemerintah sudah memberikan berbagai solusi melalui beberapa program-program kebijakan yang sudah digalakkan kepada masyarakat dan semoga setelah kejadian tersebut pemerintah dapat mengevaluasi hasil kerja dan kinerjanya sehingga dengan begitu kejadian seperti itu tidak terulang kembali.

 *) Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Akutansi Internasional, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh,  Kelahiran Jambi. Tulisan ini merupakan tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia, Dosen : Drs. Mukhlis, M.Hum.