Alam Balas Dendam? Nasib Biodiversitas Setelah Pandemi Covid-19

Kamis, 06 Januari 2022 - 13:06:53 - Dibaca: 898 kali


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh: Bayu Kurniawan

(Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi)

 

Indonesia merupakan salah satu dari 17 negara Megabiodiversitas di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Merujuk CBDKenaekaragaman hayati Indonesia yang tersebar dari sabang sampai merauke memiliki 10% tanaman berbunga didunia (25.000 jenis tanaman berbunga, serta 55% diantaranya merupakan spesies endemic), fauna terdapat 12% mamalia (515 spesies), 16% reptile (781 spesies), 35 spesies primate, 17?ri total spesies burung (1.592 spesies), dan 270 spesies amphibi. Tingginya biodiversitas Indonesia memiliki tantangan tersendiri terhadap upaya konservasi mengingat tekanan utama dan pendorong perubahan biodiversitas menjadi factor utama yang mempengaruhi hilangnya keanekaragaman hayati yang berdampak pada kepunahan spesies di Indonesia.

Intervensi manusia yang terus menerus yang menyebabkan degradasi dan fragmentasi habitat, perubahan bentang alam, eksploitasi, polusi, perubahan iklim, invasive alien spesies, dan kebakaran selama 50 tahun terakhir memberikan tekanan yang besar terhadap keseimbangan alam yang memaksa makhluk hidup lainnya masuk kedalam relung ekologi yang semakin kecil dan mendalam.

Lalu, apakah pandemiyang terjadi saat ini merupakan balasan dari alam atas apa intervensi dari makhluk yang paling sempurna ini? Alam tidak hanya terdiri atas spesies-spesies yang karismatik dan tanaman dengan penyerapan dan penyimpanan karbon yang tinggi, namun juga hadir organisme pathogen yang mendorong untuk berevolusi sebagai bentuk adaptasi dari perubahan alam ini.

Pandemi Covid-19 berdampak pada semua lini kehidupan masyarakat dan mampu mengubah pola perilaku manusia secara dramatis. Kebijakan stay at home, PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) serta pembatasan kegiatan disemua sektor telah  menjadi pukulan telak terhadap ekonomi global. Selain itu, kita juga memiliki kewajiban untuk memikirkan bagaimana hal itu akan berdampak pada keanekaragaman hayati global dan kemampuan kita untuk melindunginya.Dunia telah berubah sejak adanya pandemi ini, dan komunitas/penggiat konservasi harus siap merespon. Pandemiini secara tak langsung mampu memurnikan diri alam itu sendiri akibat pembatasan kegiatan ini disemua lini kehidupan.

Covid-19 tidak bisa memberikan jawaban dengan sendirinya kebijakan apa yang tepat dalam merubah tatanan trofik ini, namun perubahan ekologi, sosial, dan politik pada saat ini memungkinkan untuk kita merenungkan beberapa asumsi kunci yang jelas terlihat secara kasap mata dan prinsip hidup hubungan manusia dengan alam. Pandemi ini mampu mengubah cara pandang kita yang dihadapkan pada dua permasalahan yaitu cara berfikir manusia tentang alam, dan cara kita mengintervensi alam itu kedalam diri kita sendiri. Bumi merupakan suatu sistem kehidupan yang terdiri atas organisme-organisme yang sangat besar yang mampu mengatur dirinya sendiri.

Lantas, bagaimana nasib biodiversitas pasca pandemi? Apakah tekanan akan semakin besar? Pertanyaan ini masih terlalu dini untuk mendapatkan sebuah jawaban yang pasti. Rehabilitasi dan reboisasi ekosistem yang kritis merupakan upaya yang kongkrit dalam mempertahankan biodiversitas. Dampak pandemi yang luas pada tingkatan kehidupan menghadirkan peluang untuk penelitian yang pada peristiwa ini tidak mungkin untuk dapat didesain dan direplikasi ulang. Beberapa perubahan mungkin terjadi secara permanen, namun perubahan sosioekologis nampaknya akan kembali pada keadaan sebelum pandemi.

Banyak rekomendasi dan seruan dalam memperlakukan pandemisebagai kesempatan untuk menjadi transisi ke sistem yang berkelanjutan melalui “green recovery” sebagai pembangun masyarakat global dan ekonomi untuk ketercapaiannya agenda Sustainable Development Goals, PBB 2030. Green recovery merupakan menjadi salah satu prioritas untuk pembangunan jangka panjang terhadap sintasan keanekaragaman hayati pasca pandemic Covid-19. Hutan memiliki peran sentral dalam pencapaian ini yang sebagai sumber daya utama untuk mitigasi perubahan iklim dan peristiwa pandemi menjadi harapan yang tidak akan terulang lagi. (*)