1 Liter Capai Rp 20 Ribu, Harga Minyak Goreng Terus Naik

Kamis, 13 Januari 2022 - 13:12:46 - Dibaca: 320 kali


MENUNGGU PEMBELI: Pedagang menunggu pembeli di Pasar  Aurduri. Mereka mengeluhkan naikknya harga minyak goreng.
MENUNGGU PEMBELI: Pedagang menunggu pembeli di Pasar Aurduri. Mereka mengeluhkan naikknya harga minyak goreng. / Jambi Ekspres Online

JAMBI – Untuk mengatasi harga minyak goreng yang meroket hingga Rp 18.500 hingga Rp 20 ribu per liternya, Pemprov Jambi akan menggelar operasi pasar dalam waktu dekat.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Amir Hasbi. Ia mengakui harga minyak goreng saat ini naik di kisaran Rp 18.500 per liternya. Untuk itu dirinya menyebut akan koordinasi dengan Disperindag karena ada instruksi dari Kementerian Perdagangan untuk melakukan operasi pasar. "Nantinya dijual dengan harga Rp 14 ribu per liternya untuk minyak goreng curah, karena aturang minyak goreng curah sudah boleh lagi dan ini yang sedang dipersiapkan, kita koordinasi dengan Disperindag,” ucapnya.

Kata Amir, minyak goreng curah dalam operasi pasar ini diambil dari industri minyak yang ada di daerah masing-masing dan Provinsi lain sudah melakukan hal ini. "Ini yang sedang kita koordinasikan termasuk dengan bulog juga,” jelasnya.

Direncanakan operasi pasar akan dilakukan dalam waktu agar tak terjadi gejolak harga. "Yang dijual nantinya hanya minyak goreng karena harga bergejolak dan signifikan naik, sementara komoditi lain tidak dilakukan operasi pasar karena harganya tidak naik,” akunya.

Kata Dia, minyak goreng naik lantaran kebijakan pusat. Namun Ia menengarai bisa saja karena kelangkaan produksi, atau terkait bahan produksinya. Untuk dalam Provinsi Jambi, Amir menyebut minyak goreng berasal dari industry minyak di Kemingkin Muaro Jambi, sedangkan dari luar ada dari distributor yang asal Lampung, Tangerang, Medan dan Sumsel.  “Yang jelas kita tiap hari melakukan monitoring disetiap distributor dan produsen, pada prinsipnya stok cukup untuk kebutuhan kita,” akunya.

Amir merincikan untuk kebutuhan konsumsi minyak goreng di Provinsi Jambi sebanyak 729 Ton per Minggu. Atau 3.645 ton per bulan serta hitungannya 44.059 ton per tahun.

Sedangkan stok yang ada saat ini pada produsen dan distributor/agen ada sebanyak 2.760 Ton. “Jumlah ini bisa untuk memenuhi kebutuhan lebih kurang 1 Bulan kedepan. Dan setiap hari Distribusi minyak goreng ini terus berjalan. Baik Produksi maupun Distribusi dari luar daerah,” ujarnya.

Terpisah, Kabid Pengembangan Perdagangan Disperindag Provinsi Jambi Harmadeli, mengakui keadaan minyak goreng di Jambi memang tengah naik. Hal ini seiring dengan naiknya harga CPO/sawit dunia sehingga berpengaruh dengan harga minyak goreng baik curah maupun dalam kemasan.

"Minyak goreng curah saat ini berada di angka Rp 16.500 saat ini. Kemudian untuk dalam kemasan dari Rp 18 ribu-19 ribu," ujarnya.

Ia mengatakan kenaikan ini sejak dua bulan belakangan ini. "Dari sini ada dampak plus minusnya. Untuk pengusaha perkebunan sawit mungkin ini akan menjadi keuntungan mereka. Namun di sisi lain pedagang makanan yang menggunakan minyak goreng akan merasa berat dengan keadaan ini," ujarnya.

Sementara itu ia mengatakan, pemerintah pusat akan merencanakan adanya minyak goreng bersubsidi dalam waktu dekat. Hanya saja dirinya sampai saat ini masih belum menerima petunjuk teknis mengenaim hal ini. Sehingga dirinya masih belum dapat berkomentar banyak.

"Memang ada rencana pemerintah untuk memberikan minyam subsidi sebesar Rp 14 ribu kepada masyarakat. Namun sejauh ini kami masih belum mendapat petunjum teknis yang pasti mengenai," katanya.

Masyarakat Jambi turut mengeluhkan harga minyak goreng yang melonjak tinggi. Kenaikan minyak goreng ini dirasakan oleh masyarakat sejak beberapa bulan terakhir ini.

Asmiyati, salah seorang pembeli di pasar Angso Duo Jambi mengatakan minyak goreng curah saat ini berada diangka Rp 18.500 dipasaran.

Dirinya pun mensiasati ini dengan mengurangi konsumsi minyak goreng dalam masakan di sehari harinya.

"Kemarin itu Rp 14 ribu. Sekarang naik jadi Rp 18.500. Mau tidak mau kami sering memasak dengan rebusan daripada gorengan," akunya.

Ia merasakan kenaikan sejak tiga bulan terakhir. Ia pun meminta kepada pemerintah agar lebih lagi memperhatikan rakyatnya, terutama bahan pokok agar tak lagi naik.

Sementara itu hal senada juga disampaikan Aliong, pedagang bahan pokok di Pasar Angso Duo Kora Jambi.

Ia berujar kenaikan ini membuat daya beli masyarakat menurun drastis.

"Ada sekitar 50 persen penurunan daya belinya. Jadi kami tak berani lagi ngambil stok minyak banyak banyak," katanya.

Ia mengungkapkan harga mintak goreng curah saat ini berada di angka Rp 18 ribu. Kemudian minyak goreng dalam kemasan berada direntang harga antara Rp 18 ribu-Rp 23 ribu. (aba)