Sikat Juventus 2-1, Inter Milan Juara Piala Super Italia 2021

Jumat, 14 Januari 2022 - 04:59:24 - Dibaca: 200 kali


Inter Milan juara Piala Super Italia 2021 setelah mengalahkan Juventus 2-1 lewat babak perpanjangan waktu, di Stadion San Siro, Kamis (13/1/2022) dini hari WIB. Foto: Laman football italia
Inter Milan juara Piala Super Italia 2021 setelah mengalahkan Juventus 2-1 lewat babak perpanjangan waktu, di Stadion San Siro, Kamis (13/1/2022) dini hari WIB. Foto: Laman football italia / Jambi Ekspres Online

MILAN – Inter Milan menjuarai Piala Super Italia 2021 setelah mengalahkan rival abadi, Juventus di Stadion San Siro, Kamis (13/1/2022) dini hari WIB.

 

Kemenangan yang tak hanya berarti sebuah trofi bagi Nerazzurri tapi lebih dari itu, menurut pakar sepak bola, Richard Hall dikutip dari Football Italia.

Pertandingan Inter vs Juventus kemarin malam memang ketat dan dramatis.

Alexis Sanchez muncul sebagai pembeda setelah golnya di detik-detik terakhir babak kedua perpanjangan waktu. Inter menang 2-1, setelah di waktu normal skor 1-1.

Dalam ulalasan Richard Hall, disebutkan bahwa itu adalah kemenangan simbolis, menandakan pergantian penguasa Italia.

Bukti bahwa kini ada kekuatan baru yang dominan di sepak bola Italia. Itu adalah pesan langsung ke Juventus.

Sebenarnya Inter di era Antonio Conte sudah menyiratkan hal itu dengan meraih scudeto musim lalu.

Namun keperkasaan Juventus di Serie A dalam satu dekade terakhir, membuat banyak yang beranggapan bahwa Si Nyonya Tua akan kembali ke tempat seharusnya awal musim ini.

Kembalinya Massimiliano Allegri juga sempat membuat Inter gelisah, namun seiring berjalannya musim, upaya Beppe Marotta, Simone Inzaghi dan para pemain membuat Inter pantas duduk di puncak klasemen Serie A.

 

Nerazzurri sempat diragukan dapat mengulangi sukses tahun lalu tanpa Romelu Lukaku, Achraf Hakimi dan Antonio Conte. Faktanya, Inter bisa disebut menjadi tim yang lebih baik tanpa mereka. Edin Dzeko telah menggantikan pemain depan Belgia yang direkrut secara gratis dari AS Roma.

Sementara performa Denzel Dumfries telah membantu para Interisti melupakan Hakimi. Tapi faktor paling penting adalah strategi Inzaghi yang memberi lebih banyak kebebasan kepada pemain untuk memungkinkan mereka tampil di level yang lebih tinggi.

Lini belakang Inter juga tidak kehilangan disiplin yang mereka miliki di bawah Conte, yang ditunjukkan dari awal melawan Juventus. Singkatnya, Si Nyonya Tua sudah tertinggal dari Nerazzurri. Statistik akhir menunjukkan hal ini.

Inter memiliki 63 persen penguasaan bola. Mencatat 813 operan berbanding 482 milik Juventus.

Melepaskan 23 tembakan dibandingkan dengan delapan Bianconeri.

 

Statistik di atas juga boleh jadi bahan untuk mengkritik Inter yang kurang klinis dalam menuntaskan begitu banyak peluang yang mereka peroleh.

Bahkan butuh hadiah penalti untuk membalas gol Weston McKennie. Padahal lini belakang Juve cukup keteteran meredam agresi Inter dari berbagai lini.

Pada akhirnya, saat adu penalti membayangi, pemain cadangan Juventus di bangku cadangan berteriak kepada pemain belakang untuk melanggar pemain Inter atau membuat bola keluar sehingga mereka bisa memasukkan Leonardo Bonucci untuk mengambil penalti dalam adu penalti.

Teriakan itu membingungkan pertahanan Bianconeri dan mungkin berkontribusi pada kesalahan mengerikan Alex Sandro yang berperan pada gol penentu Sanchez.

Kekecewaan bagi Juventus terlihat jelas. Mereka melewatkan kesempatan untuk memenangkan trofi untuk tahun ke-11 berturut-turut.

Mereka masih bisa mengangkat trofi musim ini, tetapi target utama mereka di Serie A tampaknya hanya finis empat besar.

Dominasi domestik mereka telah berakhir dan, sejujurnya, mereka tampaknya tidak dalam kondisi yang baik untuk memulihkannya dalam waktu dekat. Pertarungan Supercoppa sekali lagi membuktikannya.

Kemenangan bagi Inter menegaskan bahwa mereka kini di depan Juventus dan bahkan suporter paling setia Bianconeri harus mengakuinya.

 

Nerazzurri memiliki skuad yang lebih kuat, mereka memiliki identitas, dan ironisnya, aset terbesar mereka adalah Beppe Marotta. Bekas otak transfer Juve.

Direktur Inter itu memimpin kesuksesan Juventus di masa lalu dan sekarang dia ingin membawa mentalitas pemenang itu ke San Siro.

Bisa dikatakan Marotta telah berhasil melakukannya. Dia juga membantu mengubah karakteristik tim ‘biasa’ menjadi tim yang bertujuan untuk memenangkan trofi.

Bisa dibilang tidak ada direktur lain di Serie A yang bisa menangani tekanan seperti dia.

Situasi Inter tampak seperti bencana di musim panas. Namun demikian, kurang dari enam bulan kemudian, mereka sudah di posisi teratas.

Kemenangan Supercoppa ini sangat penting karena menghadapi Juventus dan skor ketat, semua faktor lain dari permainan menunjukkan kesenjangan mulai melebar di antara mereka.

Inzaghi sudah mempersembahkan trofi pertamanya sebagai pelatih Inter dan timnya sangat menginginkan lebih banyak kesuksesan. (fat/pojoksatu)

Sumber: www.pojoksatu.id